Badui 28 Oktober 2011
Rintih hujan menjadi saksi bisu perjalanan, melangkahkan kaki di negri badui untuk pertama kalinya memiliki sensasi tersendiri didalam hidupku, pesona keindahan alam yang menyapa di sepanjang jalan seolah memeberi getaran tersendiri di jantung hati. Untuk pertama kali ini merasakan gairah hidup baru dalam kesendirian yang selama ini terlewati.
“Tuhan Ijinkan aku menyapamu kali ini” Bisik ku dalam hati
Terkadang aku berpikir kenapa aku tak terlahir di negri badui ini, terlepas dari hiruk pikuk kehidupan yang selalu memuat hati tak tenang.
Perjalanan menuju negri badui bukan perjalanan sulit namun juga tak mudah dilewati, butuh waktu yang lama menelusuri jalan setapak dengan iringan hujan yang memuat tanah negri badui serasa tidak bersahabat.
Perlahan aku menarik napas panjang setelah melewati beberapa menit perjalanan “Tuhan ini saatnya aku mengubah diri dengan segala kekuarangan ku”, sesaat aku menghentikan langkahku dan melepaskan sandal jepit yang ku kenakan, kali ini ada hal lain yang seolah ingin ku buktikan kepada tuhan.
Tiga puluh menit perjalanan bukan waktu yang lama bagi ku untuk sampai di perkampungan pertama negri badui. Sekalipun ada rasa kecewa karena tidak bias masuk ke baduy dalam, tapi aku selalu berpikir ada rencana dibalik semua apa yang terjadi.
“Huh…” Aku kembali menarik napas panjang dengan beribu kekuatan, ada aroma berbeda yang ku rasakan pada hembusan demi hembusan napas yang membuat ku tersenyum lirih.
“la, gak cape kamu? Awas pingsan..” seseorang mengingatkan ku

