Badui 28 Oktober 2011
Rintih hujan menjadi saksi bisu perjalanan, melangkahkan kaki di negri badui untuk pertama kalinya memiliki sensasi tersendiri didalam hidupku, pesona keindahan alam yang menyapa di sepanjang jalan seolah memeberi getaran tersendiri di jantung hati. Untuk pertama kali ini merasakan gairah hidup baru dalam kesendirian yang selama ini terlewati.
“Tuhan Ijinkan aku menyapamu kali ini” Bisik ku dalam hati
Terkadang aku berpikir kenapa aku tak terlahir di negri badui ini, terlepas dari hiruk pikuk kehidupan yang selalu memuat hati tak tenang.
Perjalanan menuju negri badui bukan perjalanan sulit namun juga tak mudah dilewati, butuh waktu yang lama menelusuri jalan setapak dengan iringan hujan yang memuat tanah negri badui serasa tidak bersahabat.
Perlahan aku menarik napas panjang setelah melewati beberapa menit perjalanan “Tuhan ini saatnya aku mengubah diri dengan segala kekuarangan ku”, sesaat aku menghentikan langkahku dan melepaskan sandal jepit yang ku kenakan, kali ini ada hal lain yang seolah ingin ku buktikan kepada tuhan.
Tiga puluh menit perjalanan bukan waktu yang lama bagi ku untuk sampai di perkampungan pertama negri badui. Sekalipun ada rasa kecewa karena tidak bias masuk ke baduy dalam, tapi aku selalu berpikir ada rencana dibalik semua apa yang terjadi.
“Huh…” Aku kembali menarik napas panjang dengan beribu kekuatan, ada aroma berbeda yang ku rasakan pada hembusan demi hembusan napas yang membuat ku tersenyum lirih.
Sesaat aku tersadar bahwa aku masih memiliki ke kurangan dari mereka semua yang ikut dalam rombongan kali ini. Tapi itu sebuah rintangan yang harus ku rubah, ketika seseorang memandang kita lemah, itulah proses dimana kedepan kita akan terlihat kuat.
***
Malam pertama di negri badui, rumah-rumah panggu berlantai bambu memberikan memori tersendiri dalam ingatanku, karena setiap kali aku bergerak setiap kali itu pula irama demi irama datang silih berganti berderat. Malam ini hujan masih turun dengan deras, bulan yang bersembunyi karenanya semakin membuat suasana gelap menjadi-jadi. Disini tak ada penerangan karena memang tak ada arus listrik yang masuk ke wilayah negri badui, suasana gelap semakin menjadi-jadi karena cahaya alam yang seolah ingin masukpun terhalang batang-batang pohon besar yang menjadi prajurit setia penjaga warga badui.
BADUY 29 OKTOBER
Tak ada suara billal membangunkan tidur, benar-benar hening menyelimuti yang terdengar hanya suara deratan bambu yang terusik setiap kali teman-teman ku mengubah posisi tidur, lucu rasanya jika melihat kebersamaan yang tercipta diantara kami, tanpa sedikitpun alas kecuali bambu-bambu tipis yang sedikit memberikan kehangatan tapi kami seakan larut dalam keindahan mimpi malam. Andai saja aku bisa masuk kedalam mimpi-mimpi meraka lucu rasanya, mungkin saja teh Ica yang tidur disampingku bermimpi sedang memakan buah-buahan lezat ditaman yang indah , tapi tiba-tiba setan datang dan mau memakannya, Yah… seperti itu kurang lebih mimpi tidak bisa ditebak berbeda dengan hanyalan yang dengan leluasa bisa kita atur sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Perlahan aku mulai bangkit dari tidurku, melangkah dengan sangat hati-hati melewati barisan teman-teman ku yang masih larut dalam mimpi. Pintu bambu ku buka dengan pelan, suasanan di luar masih benar-benar gelap tak ada seorangpun yang dapat ku lihat. Dengan sorotan senter kecil Handphone aku mulai kembali melangkahkan kaki, membangunkan sahabat-sahabatku yang masih tertidur pulas di luar dengan rintihan hujan menemani mereka. Satu keberuntungan menjadi anak perempuan bagiku, Karen kalau tidak nasib ku tidak jauh dengan senior-senior laki-laki ku yang terpaksa menguatkan diri dari serangan kejam angin malam dan cepretan hujan.
“Kak fu, solat yu” aku membangunkan salah seorang senior ku
“Apa cu?” Dia menjawab, namun matanya masih tertutup rapat
“Mau solat gak, ayo kesungai ambil wudu”
Sedikit licin melewati bebatun yang posisinya menurun dipagi hari belum lagi hujan memang tak berhenti sejak kemarin sore, ditambah sang mentari pagi tak juga menunjukan dirinya. Mataku belum bisa menembus kabut pagi yang menghalangi, aku benar-benar seperti manusia buta yang mencari arah, ya Tuhan betapa hebatnya mereka yang hidup bertahun-tahun di tanah badui ini, sementara aku hanya dalam waktu satu hari sudah merasakan rasa berat dengan berbagai rintangan yang dilewati.
****
Tak banyak aktifitas dilakukan sesudah salat subuh, hanya bermalas-malasan benar-benar menunggu kedatangan mentari dan menunggu hujan reda, yah. Perlahan tapi pasti cahaya mulai menembus negri badui. Mata ini bisa dengan leluasa menatap keindahan alam negri ciptaan tuhan yang seolah disembunyikan. Rintih hujan perlahan berhenti, menipis dan menghilang, mungkin hujan malu kepada sang penguasa siang yang akan segera memancarkan sinarnya. Secangkir teh hangat menemani pagi kami semua. Lelucon pagi dilontarkan untuk memperhangat suasana. Kami memang sudah merasa nilai kekeluargaan tumbuh dikeluarga kami, sudah tak ada batasan senioritas dalam kebersamaan kami semua sama.
Setelah puas bersenda gurau tiba saatnya kami memulai aktifitas, aku lebih merasakan kebahagian yang teramat ketika tugas-tugas mulai dibagikan kepada ku, dibanding aku harus berdiam diri menunggu mentari datang, lucu rasanya dan sangat membosankan. Setelah Kang Bewok ( Kang Hapid) memerintahkan kami untuk segera menemui sahabat-sahabat kami di setiap kelompok yang kami pegang dan mengajak mereka untuk segera berjalan menyusuri seluk beluk negri badui, aku bergegas bangkit dan menuruni anak tangga yang disusun rapih dari batu-batu sungai.
Aku tak bertugas sendiri, karena k fu ( K boip) juga betugas bersamaku, kalau ada dia apalagi yang perlu ku kerjakan, semua beres tuntas. Jadi aku bisa leluasa menghabiskan waktu ku untuk menyusuri sungai badui. Tapi tak berapa lama teh yana menyapaku dan mengajak untuk berburu sinyal yang tak kunjung datang, kaki ini kembali melangkah melewati jalanan batu menuju pohon bambu ditepi sungai. Suasana tepi sungai badui jauh lebih menyegarkan dengan gemuruh besar ditambah sesekali dentuman pohon bambu yang saling bersentuhan antara satu batang dengan yang lainnya karena angin kencang.
Ternyata bukan aku saja yang menikmati pesona alam yang tak bisa tergambarkan dengan kata-kata, atau mungkin mutiara paling berhargapun tak ternilai dengan keindahan yang belum terjamah tangan. Seorang duduk ditepi batu seorang diri, termenung mengusik pemikiranku. Lucu rasanya jika melihat seorang laki-laki termenung seorang diri sambil membersihkan sepatunya, perlahan aku mendekat, menyapa berusaha mengakrabkan suasan. Akhirnya kami semua terlarut dalam pesona alam yang ada dengan kehangatan mentari yang menemani.
“Ada berapa?” Tanyaku, kepada laki-laki yang tak ku ketahui namanya
“Tiga” Jawabnya singkat
Aku melemparkan batu yang ada ditangan ku ketengah sungai, Tuhan aku ingat sekali permainan ini sering ku lakukan ketika aku kecil dulu, di tepian sungai ciujung di perahu-perahu kecil milik para petambang pasir, dulu kebahagian rasanya selalu menghampiri dengan segala kepolosan tanpa beban hidup dengan para sahabat yang selalu setia menghibur, tapi perlahan ketika roda-roda kehidupan terus berjalan mengubah waktu dan mengubah setiap usia anak adam perlahan semua mulai melupakan kehidupan yang lainnya, larut dalam ambisi sendiri. Tak ada lagi kisah ditepian ciujung yang ada segudang masalah dalam ingatan dan memori setiap kali kaki melangkah. Tapi kali ini tuhan seolah memberikan ku waktu untuk kembali merasakan nikmatnya masa kecil yang terlupakan,
“Berapa?”
“Dua” Jawabku cepat ketika orang itu melontarkan pertanyaan.
Perlahan dia melemparkan batunya, tapi ternyata jawabanku salah batu itu hanya melompat satu kali ditengah sungai.
“Berapa? “ Tanyaku dengan kepalan batu di tangan
“Satu”
“Yakin”
Setelah melihat dia menganggukan kepala aku melemparkan batu yang aku kepal, ternyata bukan satu batu yang kulemparkan melainkan lebih dari lima batu, itu adalah satu hal kecurangan yang seharusnya tidak kulakukan dalam permainan lempar batu tersebut, tapi itu membuat kami perlahan tertawa kecil, aku benar-benar larut dalam suasan masa lampau dan suasana yang sedang kurasapun tidak akan pernah berjalan lama, tuhan sudah menciptakan waktu sebagai pembatas disetiap tindakan yang anak adam lakukan. Andai tidak ada waktu mungkin tidak akan pernah ada kata masa lalu, tidak ada hari ini, lusa esok, kemarin dan masa depan, Semua berjalan tanpa ada batasan. Mentari semakin naik kepermukan dan kehangatanpun semakin terasa, terpaksa kami mengakhiri kebersamaan kami, dan aku kembali ketugas ku semula mendampingi teman-teman kelompok dua.
***
Aku dan K fu, sudah bersiap mendampingi sahabat-sahabat kelompok kami, kali ini aku tak berani berjalan tanpa alas kaki, aku lebih memilih menggunakan sandal k fu dan meninggalkan sandalku, yang sampai saat ini tertinggal di rumah kecil itu.
Semakin dalam memasuki negri badui semakin dalam juga perasan yang tuhan berikan kepadaku, campur aduk rasanya melihat keberadaan masyarakat badui yang terlilit adat,terlintas dalam benaku apakah mereka tak pernah ingin berontak menghadapi kehidupan seperti yang kulihat. Tapi dilain sisi dihatiku aku malah ingin tetap bersama mereka menikmati ke istimewaan alam yang tuhan berikan. Ini yang dinamakan dengan kehidupan selalu membelah dua perasaan.
Di perjalanan terlihat sungai panjang mengalir tenang, seorang nenek menuruni semak belukar menuju sungai, membabat dahan-dahan ranting kecil yang berjatuhan, aku melihat ketenangan yang teramat dalam dari wajahnya, sangat jauh sekali dengan keadaan ku yang selalu panik melewati kehidupan. Perjalanan terus dilakukan melewati perkampungan milik warga badui, suara-suara tuk-tuk yang keluar dari alat untuk menenun kain terdengar nyaring membentuk sebuah irama indah yang sangat mempesona, andai irama-irama yang keluar dari alat tenun disetiap rumah itu bersatu mungkin akan menajadi sebuah kesatuan nada yang membuat orang menggelang-gelangkan kepala menari tertawa.
Setelah melewati perkampungan warga, langkah kaki kami terhenti pada sebuah jembatan yang penghubung yang terbuat dari bambu-bambu sedemikian rupa, Indah rasanya ketika melihat bagai mana jembatan itu bisa dengan kokoh berdiri tanpa satupun paku tertancap. Perjalanan melintasi jembatan kecil dengan kegembiraan dan kebersamaan cukup mempererat kekerabatan yang baru dalam hitungan hari tercipta, kami bisa tertawa bersama, mengexspresikan diri dan bergaya di depan kamera dengan latar keindahan alam badui, sungai , jembatan lumbung padi yang berjejer rapih.
Perjalanan kami hentikan dan putuskan untuk segera kembali keperkampungan tempat kami menginap, karena matahari sudah semakin panas dan rasa lelah melanda kami semua.
***
“Saha ngaran maneh teh”
“Sanny”
“Cie ile, meuni sanny doak filem cinta pertama wae sanny”
Aku sedikit menyanyikan lirik lagu BCL dengan nada yang tak jelas, berusaha menggoda gadis kecil milik masyarakat badui, yang sedang asik memainkan tangan kecilnya pada benang-benang yang terpasang pada alat tenun dibalai-balai rumahnya. Perlahan aku terlibat percakapan yang cukup panjang, hati ku tersentak ketika mengetahui gadis berusia 14 tahun tersebut sudah memiliki suami, tapi ketika ku Tanya cinta, gadis itu menjawab “ Mun aya nuhayangenmah lakh dikawin keun” (Kalau ada yang mau mah yah dinikahin). Aku menelan ludah, Tuhan kembali menegurku dengan teguran yang lembut, cinta memang bukan dicari ataupun datang sendiri, tapi diciptakan. Kecewa rasanya jika selama ini aku selalu melakukan penantian untuk cinta yang tak pasti, seharusnya aku berprilaku seperti sanny, cinta itu di ciptakan, ketika datang di terima dengan tangan terbuka. Ini pelajaran berhaga kesekian kalinya yang aku dapatkan.
“Ajaran geh rela nenun”
“Bisa gitu?”
“Kapanan menta di ajar, da amun ges bisa teh moal hayang di ajar tapi langsung jualan meureun!”
Gadis kecil itu tertawa lepas mendengar perkataan ku, sebenarnya aku sendiri aneh tak ada sedikitpun kata yang lucu dalam kalimat yang ku ucapkan, tapi sanny mampu tertawa lepas tanpa beban, yah.. tertawa lepas tanpa beban, andai aku bisa melakukannya.
Perlahan aku mulai menyentuh alat pembuatan tenun, menyatukan benang-benang membentuk salur,-salur indah. Butuh tenaga yang extra untuk membuat benang-benang itu bersatu membentuk sebuah salur keindahan, ketelitian kesabaran juga perlu diperhatikan. Aku tersentak ketika harus berusaha menyelesaikan satu jalur salurpun membutuhkan waktu lima menit, sementara untuk membentuk kain, mungkin saja aku membutuhkan waktu satu minggu tanpa henti. Tapi berat alat penenun itu akh.. aku hanya bisa tertawa menyadari betapa lemahnya hidup ku ini.
“Sanny, hese amat kumaha jink?”
“sing sabar mangkana”
Aku tertawa, bukan karena suara khas sanny yang beda dariku, tapi karena sanny mengetahui bahwa aku bukan tipe orang penyabar. Perlahan tapi pasti dengan telaten sanny mengajariku, aku mulai bisa menentukan irama permainan untuk membuat satu kain yang memiliki nilai estetika yang tinggi, sisiran penghalang benang perlahan ku angkat, semakin lama semakin cepat aku bisa melakukannya, aku sendiri tak menyangka hanya dalam jangka waktu setengah jam, kesabaranku mulai terasah.
“sanny cape uyy” aku mulai menghentikan tangan ku
“Ges gera, kami neruskeun”
Aku bangkit, sanny meneruskan pekerjaannya dengan cepat, aneh rasanya melihat sanny yang sangat lihai dan semangat, memopang alat penenunnya saja membutuhkan tenaga yang bukan main hebatnya. Suara kayu-kayu yang bersentuhan dari alat penenun kembali membuat irama yang sangat indah perlahan mataku mulai terasa lemah dan kunang-kunang, napasku tak beraturan seperti biasa jika hal itu sudah terjadi kepadaku, aku lebih memilih untuk berbaring lemah, menghilangkan rasa sakit dan kali ini aku berbaring disamping sanny.
***
Malam kembali tiba rintih hujan perlahan nadir kembali, rencananya malam ini adalah malam pendekatan, tapi tuhan berkata lain. Rintik-rintik itu semakin besar dan deras menghantam, ditambah suara angin kencang yang mengerikan terkadang menggerakan pepohonan yang masih setia menjadi tembok pelindung negri badui, sebuah lampu kecil yang terbuat dari kaleng bekas menemani malam kami, cahanya indah membuat perasaan hati sedikit berbeda padahal ketika berada dirumah kita jarang sekali mensyukuri cahaya yang tuhan berikan, tapi kali ini nilai syukur itu jauh lebih besar dari apa yang biasa kita lakukan.
Hidangan makan malam menyapa kami, cukup sederhana hanya nasi dan mie rebus yang direbus hingga airnya kering, asin memang rasanya ketika pertama kali merasakan, tapi lambat laun nilai kenikmatan itu akan semakin terasa disetiap suapan yang masuk kedalam mulut kita, semua tertawa kecil, tak ada yang menggeluh dengan keadaan. Aku lebih suka memilih diam menyaksiakan adegan-adegan lucu yang kadang kala tercipta. Kang Hapid bilang, kesetaraan gender itu akan terlihat ketika makan, yah memang kenyataannya demikian wanita makan lebih besar dibanding para pria, tak ada yang mau kelaparan hidup di dunia ini, semua sepakat hal itu. Ada hal lain yang tak bisa ku lupakan, pria wanita makan dalam satu piring yang sama. Ini adalah yang pertama kali aku rasakan, aneh rasanya tapi perlahan selama tinggal di negri badui itu menjadi tradisi kecil keluarga kampus kami, mengapa sejujurnya karena piring yang dimiliki pemilik rumah cukup terbatas.
Sudah hampir satu jam hujan tak kunjung reda, aku yakin semua berharap hujan segera reda dan kegiatan berjalan sesuai rencana, tapi apa daya inilakh keputusan besar sang penguasa jagat raya, akhirnya solusi yang diambil kang hapid cukup akurat, mengumpulkan semua ketua dari masing-masing kelompok dan meminta maaf karena kegiatan yang direncanakan banyak yang terbengkalai. Setilah semuanya berkumpul dalam satu ruang kecil dengan ditemani cahaya lampu minyak yang cukup untuk melihat bagaimana exspresi wajah orang-orang malam ini. Tak ada yang kecewa dengan keadaan alam memang selebihnya manusia tidak akan pernah bisa menentang tuhan, obrolan malam cukup berjalan lancar, lelucon kecil sering kali bergulir dan aku lebih memilih diam dibanding ikut terlibat dalam percakapan malam itu.
BADUI 30 Oktober
Ini pagi kedua yang kurasakan di negri badui, mataku mulai terbuka aku mulai terbiasa tanpa waktu dan tanpa seruan billal tapi seperti ada kekuatan alam yang memberitau saat-saat dimana kita harus membuka mata, kali ini suasana berbeda dengan kemarin keadaan lebih sempit dan sesak yah karena penghuni bertambah. Anak-anak cowok tidak mau tidur diluar dan lebih memilih berbaur dengan para wanita. Mungkin mereka juga menuntut hak mereka dalam urusan kesetaraan hahah…
“Cu, solat”
Kini ka fu yang membangunkan ku, aku segera bergegas bangkit melewati sahabat lain yang masih berbaring lemas, membuka pintu dan merasakan udara pagi yang hari ini akan segera ditinggalkan, malas rasanya jika harus berpisah dengan alam ini, sejak dulu aku selalu bermimpi tinggal di desa terpencil tanpa orang-orang yang senang bergunjing satu sama lain, tinggal dengan kepolosan hati dan berpasrah diri kepada sang pemilik ribuan hati dimuka bumi ini.
***
Mentari semakin naik angkuh kepermukaan, mungkin dia kesal dengan awan-awan hitam yang kini selalu mengambil jatahnya untuk menyinari alam, atau mungkin justru sebaliknya mentari lebih suka beresembunyi dibalik dusta awan hitam yang menakutkan, aku tak peduli apapun yang terjadi pada mentari, yang ku pedulikan bagai mana aku merasakan panas yang disebarnya ke bumi ini. Pohon-pohon kini bisa leluasa menari ria, ayam-ayam kecil yang kemarin bersembunyi dibawah rumah-rumah bambu milik para badui kini berani keluar dan mengeluarkan suaranya, aku tersenyum melihat tingkah ayam itu. Kabut putih masih terlihat diatap-atap rumah kaum badui yang tebuat dari injuk, mempesona jika menatap kelangit pagi ini yang seolah cerah menyambut kepergian kami, atau jangan-jangan mereka senang karena negri mereka akan kembali tenang tanpa kami, oh tuhan picik sekali pemikiran ku.
Setelah melakukan perpisahan dengan warga badui kini aku segera menggendong ranselku, sepatuku kumasukan dan aku kembali memilih berjalan tanpa alas kaki, ayo kali ini aku berani menantang masyarakat badui, sekalipun aku menyadari aku sangat lemah dimata mereka. Tanah-tanah merah negri badui disepanjang jalan kembali kami lewati, kali ini mereka lebih tidak bersahabat karena sejak semalam mereka dihantam hujan, sepertinya mereka membalas serangan itu kepada ku, atau jangan-jangan aku kembali berpikir picik “Tuhan… aku memang bukan orang baik”.
Waktu kembali terasa lebih cepat dibanding ketika kami datang, mungkin para pengghuni negri badui kini mengantarkan kepergian kami dengan kekuat yang jauh lebih membaik, pelajaran pertama bahwa aku mampu berpikir positif, senyumku berkembang disepanjang jalan tawa,canda ke konyolan dan hal unik lainnya sudah terkemas satu menjadi sejarah di pemikiran kami semua yang ikut dalam rombongan ini, Terkadang aku berpikir bahwa intelektualitas itu tidak terlalu penting dibandingkan kualitas hidup yang mampu menghilangkan semua permasalahan untuk kehidupan yang membahagiakan.
Untuk yang terakhir kalinya aku menatap kembal negri badui, menarik napas tangan menunduk perlahan dan mengucapkan selamat tinggal. Sebelum aku benar-benar pergi aku berjanji kepada sahabatku sanny bahwa secepatnya aku akan kembali dan jika kembali aku akan menemuinya untuk kembali belajar kepadanya, bukan belajar bagai mana membuat kain tapi lebih kepada belajar bagai mana memaknai kehidupan sanny yang memberikan ku pelajaran bahwa nilai Intelektualitas tidak penting jika hanya menimbulkan masalah dikemudian hari.
“Bejang naon sakola,amun ngarusak adatmah” Itu ucapan sanny yang cukup mengetuk hatiku. Akhir-akhir ini banyak permasalah bangsa yang terjadi akibat orang-orang yang memiliki intelektualitas tinggi, yah orang-orang yang pintar memintari orang pintar. Miris rasanya mendengar perkataan sanny yang membuatku terdiam sesaat untuk merenungi,tak perlu kurangkai ribuan kata lagi untuk mengungkapkan perasaan apa yang keluar ketika sanny mengatakan demikian, perasaan yang membuat aku cukup malu untuk menggunakan lagi almamaterku namun dilain sisi ada perasaan yang membuat aku inggin membuktikan kepada sanny bahwa perkataannya salah. Selain itu sanny mengajariku bagai mana menyikapi cinta dengan keiklasan dan kerelaan bagaimana menyikapi bagaimana perasaan itu hadir.
Aku menaikan kepalaku menatap langit biru yang seolah bercahaya, selamat tinggal dan aku akan kembali wahay angin-angin penghuni badui.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar