Jumat, 22 Juni 2012

GALUH (By : Rela)

GALUH
Sinar mentari pagi jatuh diatas wajahnya, walaupun sinar itu sesekali memaksanya untuk memejamkan mata karena silaunya, tapi Wike tak menyesali keajaiban yang dapat dilihatnya pagi ini, garis-garis sinar yang menyinari dua gunung batu karang terlihat bertemu dibawah lautan sehingga membentuk bayangan yang sama persis dengan dua karang yang menjulang tinggi di pantai sawarna, keindahan alam itu seolah memanjakan matanya dan memberikan kehangatan yang teramat dalam. Tanpa sadar Wike tersenyum pemikiran-pemikiran bahagia memenuhi kepalanya. Apa yang terjadi akhir-akhir ini serasa membuat hidupnya kembali berwarna.
Kini sebuah pertanyaan mengetuk hatinya, membuat Wike tertegun menyadari apa yang berada di benaknya. Betulkah dia sudah tak layak lagi untuk bermimpi?  Lalu kenapa kebahagiaan dan mimpi itu kini kembali menghampiri hidupnya? . Wike menggelang pelan, ia tak mau kecewa untuk kesekian kalinya.
“Jadi bagai mana, apakah kau akan terus berada disini, ingat waktu berlibur kita sudah habis”
Sebuah suara memecah kehangatan pagi, tapi suara itu tak sedikitpun membuyarkan segala pemikiran yang ada dalam benak wike.
“Entahlah, seperti ada yang menganjal dihatiku”
 Tak berapa lama seorang menimpali, kali ini suara itu benar-benar mengusik wike. Dia seperti pernah mendengar suara itu, tapi dimana? Tiba-tiba tubuhnya terasa gemetar tangannya terasa dingin, tentu saja wike mengingat siapa pemilik suara itu kini.
Wike melirik kearah pemilik suara itu, hanya berjarak satu meter darinya dua orang yang telah mengusiknya berdiri tegak . Wike hapal betul kedua orang itu, sekalipun tak yakin perlahan wike melangkahkan kaki untuk lebih meyakinkan bahwa orang yang dilihatnya memang tak salah.
“Icha” Seru wike dengan sangat hati-hati.
Wajah perempuan yang bernama Icha itu Nampak tegang ketika melihat wike, sementara laki-laki yang berada disampingnya hanya menatap penuh tanda Tanya, terutama ketika menyadari perubahan exspresi wajah Icha.
“Sahabat mu Cha?” Tanya laki-laki itu polos
Wike sudah tidak bisa menahan tangis, ternyata perasaan senang dan harpan akan mimpi-mimpinya selama ini benar-benar akan menjadi nyata. Namun wike tetap berusaha menarik napas dalam-dalam agar perasaan hatinya bisa terkontrol dengan baik, bagai manapun pertemuan dengan sahabat lamanya ini menyuguhkan ribuan pertanyaan didalam hatinya.
“Ayo kak kita pergi”
Icha nampa semakin tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya, dengan cepat dia segera menarik tangan laki-laki yang sejak tadi memandang penuh tanda tanya. Sementara Wike hanya tertegun tak percaya dengan apa yang dilakukan sahabatnya, bagai mana mungkin Icha bisa melakukan hal itu kepadanya dan apa yang sebenarnya terjadi?.
“Akhhh…”
Teriakan wike membuat laki-laki yang berlalu bersama Icha membalikan tubuhnya dengan cepat, Pandangan matanya terlihat iba melihat wike yang menjatuhkan diri diantara bebatuan karang dan pasir pantai di pesisir pantai sawarna.
“Kenapa perempuan itu menagis”
“Sudah lakh ka, lebih baik secepatnya kita pergi dari sini, perempuan itu sedikit terganggu mentalnya”
“Lokh Cha, bukannya dia teman mu ? kenapa kamu berkata seperti itu”
Icha menghentikan langkah kakinya dengan kesal dia melepaskan tangan laki-laki itu, bagi Icha pertemuannya dengan Wike merupakan ancaman terbesar dalam hidupnya yang hampir lima tahun ini dia hindari.
“Dia bukan teman ku ! itu jawaban terakhirku dan kakak jangan sekali-kali mengungkit hal ini lagi, hari ini juga kita pulang ke Jakarta”
“Gak bisa gitu donk Cha, perjanjian kita setelah berlibur di sini kita akan jiarah kemakan ayah kakak di Rangkasbitung baru setelah itu kita akan kembali ke Jakarta, bukankah sebelumnya kau bilang bahwa ada suatu hal yang mengganjal dihati mu, atau jangan-jangan ini semua ada sangkutannya dengan perempuan itu”.
“ouke, sekarang juga kita ke Rangkas, besok pagi-pagi sekali kita harus sudah ada distatsiun”
Sementara itu diatas tebing karang yang membentuk gunungan, Wike berteriak keras melampiaskan kekesalannya, apa yang terjadi tadi benar-benar membekas begitu jelas dalam ingatannya. Exspresi wajah Icha dan tatapan kebencian yang terpancar dari matanya, sungguh membuat perasaan wike hancur, terutama ribuan pertanyaan yang sejak tadi hadir dan tak menemukan jawabannya kini seolah menghujat wike. Dengan napas terenggah Wike menebarkan pandangannya keseluruh pelosok pantai, sekali lagi kedua matanya menyisiri kerumunan orang yang kini semakin ramai berdatangan, namun yang dicarinya benar-benar tak ada.


****
Perempuan berkerudung dan berperawakan tinggi dengan bola mata yang biru dan senyum manisnya yang selalu merekah kini benar-benar terlihat gusar, dengan cepat dia membereskan semua pakaiannya. Pertemuannya dengan wike baginya adalah sebuah bencana besar yang akan merusak kehidupannya kelak. Wike, entah apa yang salah dari perempuan yang mirip dengan pemain sinetron Chelse Olivia itu, baginya wike adalah moster yang kapan saja siap menerkam dirinya hidup-hidup.
“Cha sudah siap?”
“Sudah kak galuh” Icha segera menarik kopernya, baginya keindahan pantai sawarna berubah menjadi neraka yang siap membakarnya kapan saja, dan pergi dari tempat terkutuk itu secepatnya merupakan keputusan yang sangat baik.
Galuh benar-benar tak habis pikir dengan perubahan sikap Icha, kali ini Icha terlihat penuh dengan emosi dan kegelisahan, bahkan ketika mereka berdua menyebrangi jembatan penyebrangan yang sudah rapuh, Icha yang biasanya akan berteriak manja kini justru terlihat diam membisu .
“Icha Stop.Icha.Icha”
Seseorang memanggil namanya, teriakan itu terdengar jelas berasal dari arah belakang, Galuh berbalik seketika sementara Icha lebih memilih untuk mempercepat langkah kakinya. Matahari sudah semakin naik kepermukaan, kerumunan orang yang bersiap melintasi jembatan penghubung menuju pantai sawarna semakin bergejimul, Galuh melihat sosok wanita yang dilihatnya di pesisir pantai sawarna tadi Nampak berlari diantara kerumunan orang pada jembatan bambu, keadaan jembatan semakin tak karuan, anak-anak menangis ketakutan dan goyangan jembatan tersebut membuat ibu-ibu menjerit kesal. Sementara itu seorang bapak nampak tak kuasa menahan amarahnya dengan keras dia mencerca Wike.
“Icha jika kamu menyembunyikan sesuatu dari ku, tolong jangan bersikap seperti ini” sura wike kini terdengar samar
“Jangan menoleh ke belakang kak, lebih baik kakak segera naik kedalam mobil”
Galuh hanya mengikuti apa yang diperintahkan Icha kepadanya, walaupun sesekali dia melirik kebelakang untuk melihat keadaan wanita yang sampai saat ini tak dia ketahui namanya. Bagi galuh kejadian ini benar-benar aneh dan membuat perasaannya menjadi tak karuan, seperti ada sebuah dinding yang selama ini berdiri kokoh didalam dirinya kini mulai goyah.
“Kenapa kau berlari darinya Cha, kalau memang kita tidak punya kesalahan untuk apa kita berlari dan seakan menghindar. Kakak yakin kamu mengenal perempuan itu” Galuh berusaha memberanikan diri.
Wajah icha semakin menegang, mulutnya terlihat kering dan menggigil ketakutan. Sesekali tangannya memperbaiki kerudung yang ia pakai, kemudian menarik napas panjang berusaha mengontrol emosi.
“Tolong jangan tanyakan itu lagi pada ku kak?” Suara Icha terdengar lemah
“Ouke kakak tidak akan pernah menanyakan ini semua, kalau memang kamu tidak bersikap aneh seperti ini, kau tidak merasa kasihan ketika melihat perempuan tadi menjerit, menangis berlari mengejar kita, Cha kau tidak seperti Icha yang kakak kenal”
Icha terdiam, selama ini belum pernah dia mendengar suara seperti itu bahkan cenderung seperti orang kesal yang sedang membentak.
“Aku dan wike tidak ada masalah apapun kak” Icha sedikit membentak
“Wike”
Galuh terdiam ketika mendengar ICha menyebutkan sebuah nama, seperti ada sebuah gelombang besar yang siap menghancurkan dinding besar didalam hatinya, dinding yang selama ini membuatnya hidup seperti dalam sebuah kematian.
“Yah Wike” suara Icha terdengar pasrah



***
Matahari perlahan mulai mengurangi cahaya yang diberikannya kepada bumi, sebentar lagi tugasnya akan segera tergantikan bulan. Sementara itu suasana di TPU kota Rangkasbitung nampak benar-benar sepi, setiap langkah kaki terdengar begitu nyaring menginjak dedaunan kering. Nisan-nisan nampak berjejer, dalam nisan tersebut dituliskan kapan orang itu lahir dan meninggal, terkadang kehidupan memang sangat tidak adil itu yang terlintas dalam benak galang ketika membaca sebuah nisan yang pemiliknya hanya hidup satu minggu di dunia ini.
Langkah kedua kaki Galuh dan Icha terdengar semakin menjauh dari pemakaman, bagi galuh walaupun hanya membaca segelintir doa untuk ayahnya yang sudah meninggal itu merupakan obat yang handal untuk mengurangi kerinduan terhadap sosok yang sangat dikaguminya itu.
“Bagai mana kalau mala mini kita berangkat kejakarta naik bis saja k” Icha berusa memecah keheningan ketika dia benar-benar yakin bahwa sudah melewati pintu gerbang kompleks pemakaman.
“Kenapa terburu-buru sekali Cha, kamu tidak ingin pergi kerumah orang tua mu dulu ? Lagi pula kakak rindu dengan negri Multatuli ini. Sudah lama rasanya melupakan kota ini”
“Terserah kakak saja” suara Icha terdengar kesal
“Kenapa kau menghindar dari ku”  Wike nampak berdiri tegap dihadapan Galuh dan Icha, “Selama ini aku cukup menderita cha, kehilangan dua orang yang aku sayangi sekaligus. Aku hidup dalam seluruh pengharapan hampa, aku hidup layak kunang-kunang tak memiliki cahaya, tapi kau justru tega membiarkan ku seperti itu”
Icha hanya terdiam tak berani menimpali perkataan Wike, dia benar-benar tak percaya wike akan mengikutinya hingga kepemakaman, tangannya bergegas meraih lengan Galuh dan memegangnya dengan erat, seperti tak ingin dipisahkan . wike yang menyadari tindakan Icha nampak memahami apa maksud Icha, sekalipun baginya itu merupakan sebuah pukulan telak yang akan menghancurkan semua harapan dan mimpinya.
“Gemuruh halilintar tanpa hujan,sementara panas hadir tanpa percikan api batu kerikil terdampar di tengah jalan karang kering tanpa tamparan garam. Waktu… menghujat alam mengguncang perasaan tak perlu kau ucapkan cukup dengan isyarat hati dan ketika kedua bola mata itu bertemu membentuk sebuah rasa, itulah cinta yang sesungguhnya”
Wike membacakan sebuah kalimat dengan seksama, kemudian ia mendekat kearah Galuh dengan mengulangi terus menerus kalimat yang dibacanya. Tatapan wike menatap tajam kearah Galuh, seperti memohon mengghujat tapi juga tatapan penuh pengharapan. Tatapan itu berlangsung singkat namun sangat mendalam, Galuh membalas tatapan itu dengan penuh tanda tanya, terlebih ketika dia melihat bagai mana wike meneteskan air matanya kemudian berlari meninggalkan mereka.
Kepergian wike justru membuat hati icha tenang, Icha paham betul bahwa ketika wike sudah memutuskan untuk pergi, wike tidak akan pernah kembali hadir tanpa diminta. Icha menarik napas panjang-panjang tidak berapa lama melempar senyuman dan memeluk Galuh yang nampak masih dalam kebingungan, Icha membisik pelan kearah Galuh mengatakan bahwa semua sudah berakhir, perkataan icha justru membuat Galuh semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.





***
Suasana pagi di statsiun kota Rangkasbitung nampak masih sangat sepi, dua kereta yang terparkir masih terlihat gelap, di sudut statsiun seorang anak jalanan nampak masih larut dalam mimpinya, dilain sisi para penjajah nasi uduk sudah menggelar dagangannya, wajah mereka terlihat bersemangat untuk berjuang melawan kehidupan hari ini.
“Ini masih terlalu pagi”
Icha lebih memilih diam, kejadian kemarin membuatnya semalaman tidak bisa tidur, pagi ini wajahnya jelas terlihat pucat dan tubuhnya terlihat lemah.
“Kakak Rasa, kamu sakit Cha, bagai mana kalau kita undur pemberangkatan hari ini” Galuh kembali membuka pembicaraan berusaha menghangatkan suasana pagi yang sangat dingin.
“Lebih baik kita naik kedalam Gerbong” Suara Icha terdengar paruh
Galuh lebih memilih mengikuti apa yang diperintahakan Icha, dalam hidupnya perkataan Icha merupakan kompas yang siap menentukan arah yang tepat sesuai apa yang diharapkannya, keberadaan Icha selama ini disampingnya membuat dia sadar betul bahwa Icha terlalu menganggapnya berharga dan baginya bukan perbuatan yang baik jika dia membuat Icha kecewa.
Suasana didalam gerbong gelap, dengan cepat Galuh menyalakan senter yang berada di Handphonenya, sedikit cahaya membantu mereka untuk melangkah melewati deretan bangku kosong, keduanya sepakat memilih Gerbong terakhir untuk mereka tempati.
“Disini saja Cha, Biar turunnya mudah” Galuh menghentikan langkahnya ketika menemukan kursi yang dianggap cocok.
Icha lebih memilih untuk duduk di pojok dekat jendela, dia sadar betul bagai mana nanti ketika para penumpang mulai berdatangan dan berdesak-desakan,duduk dekat jendela kereta api merupakan satu-satunya tempat terindah yang ada pada rangkaian besi usang yang mampu menahan ribuan beban umat manusia.
“Lebih baik kau tidur saja Cha, kau terlihat lemas” Suara galuh terdengar sangat hati-hati karena dia menyadari ada orang lain yang sedang tertidur pulas di kursi belakang mereka.
Perlahan lampu-lampu yang terpasang pada gerbong kereta mulai menyala, para penumpang kereta apipun mulai berdatangan memenuhi gerbong demi gerbong kereta tersebut, kebanyakan dari para penumpang merupakan kaum adam yang hendak kembali bekerja. Galuh menatap Icha yang tertidur pulas disampingnya, jika melihat dari exspresi wajah Icha sekalipun dia tertidur nampak tersirat sebuah kecemasan. Entah apa sebenarnya yang disempunyikan perempuan berkerudung itu darinya dan siapa sebenarnya perempuan bernama wike sehingga membuat Icha seperti benar-benar tertekan.
 “Hei kau tertidur”
“Ka Rama ? sudah lama tak berjumpa”
“Bagai mana kabar mu wike?”
“Baik”
Galuh tersentak ketika mendengar nama wike, Jadi orang yang sejak tadi tertidur pulas di bangku belakang adalah wike, apakah wike mengetahui keberadaanya? Bagaimana jika Icha terbangun dan melihat wike berada di gerbong yang sama?.
“Wike, Wajahmu masih mengisyaratkan kesedihan?”
“Ouh kak Rama, Sudah lakh. Kau lihat mukaku penuh dengan senyum kegembiraan”
“Kau selalu mendustai dirimu sendiri wike, heeehheee tapi aku paham betul karena semua penulis pandai bersandiwara”
“selalu seperti itu, kak rama aku ini bukan seorang penulis”
“Sampai kapan kau menyimpan orang yang sudah pergi meninggalkan mu didalam hati, sekalipun dunia ini berputar tapi tidak akan pernah berputar kembali ketempat yang sama, kau sudah menyia-nyiakan waktu mu untuk suatu hal yang tidak penting Wike”
“Cukup kak, kakak tidak berhak menghakimi ku!”
“Kakak tidak menghakimi mu wike, kakak hanya ingin melihat kamu seperti yang dulu,  lupakan Galuh dan ingat dia sudah pergi meninggalkan mu”
Galuh tersentak ketika menyadari namanya ikut dilibatkan didalam percakapan, matanya melirik kearah ICha yang masih tertidur lemah, apakah ketakutan Icha selama ini ada kaitannya dengan dirinya, Galuh menarik napas panjang mencoba mengikuti kembali dengan seksama percakapan yang terjadi dibelakang kursinya.
“Aku sudah melupakan Galuh!” suara wike terdengar lirih
“Kau tidak melupakan Galuh wike, matamu berkata seperti itu”
“hehehe…” Wike tertawa berusaha menyembunyikan kembali perasaannya
“Hari ini kakak ada Tes wawancara disalah satu perusahaan di Jakarta” Rama mengalihkan pembicaraan, dia paham betul bagai mana setiap kali dia membicarakan Galuh wike selalu mengalihkan pembicaraan, kali ini mungkin sudah selayaknya dia yang mengalihkan pembicaraan.
“Aku akan mencoba memulai hidup baru di Jakarta kak, sekalipun aku tidak suka dengan Jakarta tapi sudah selayaknya aku memulai meraih impian ku sebagai seorang Jurnalis disana” suara wike kini terdengar jauh lebih ringan dari sebelumnya.
“Waw, Kamu yakin?” Rama terlihat tak percaya dengan ucapan Wike
“Tentu saja, sejujurny apa yang kakak ucapkan tadi memang benar, sudah saatnya aku melupakan Galuh, Galuh sudah menemui jalan hidupnya dan aku tak akan pernah tega merusak itu”
“Tunggu sebentar kau sudah bertemu dengan Galuh?”
“Iyah Kak Rama, kemarin aku bertemu dengannya, sepertinya dia tidak mengenali ku!”
Rama hanya terdiam, manatap wike dengan tatapan penuh tanya dan Iba, baginya penderitaan yang selama ini dilewati wike memang cukup berat, tapi keteguhan wanita berambut panjang itu dalam menjalani hidupnya memang tidak bisa ada yang menandingi.
“Galuh tidak mengenaliku, mungkin dia sudah melupakan aku dalam kehidupannya! Tapi itu tidak membuat ku sedih, karena aku yakin dia menemukan seseorang yang membuatnya bahagia”
“Maksud mu?” Exspresi wajah Rama masih tetap menyiratkan sebuah tanda tanya.
“Icha bersama Galuh”
Rama nampak menarik napas panjang, dia sadar betul wanita yang ada dihadapannya itu kali ini justru kembali menghadapi sebuah perjalanan hidup yang jauh lebih berat dari sebelumnya.
“Ouh Tunggu sebentar kak Rama, Nampaknya kau belum mandi pagi hari ini”
“Hus enak saja kau ini, kakak sudah mandi tau, lagi pula kalaupun kakak tidak mandi wajah ini” Rama mendekatkan wajahnya kearah wike, membuat wike nampak sedikit gugup dan serba salah, melihat tingkah laku wike yang begitu polos membuatnya merasa geli, bagi rama exspresi wajah wike yang seperti ini sudah lima tahun lamanya tidak pernah terlihat lagi “Kau lihat wajah ini nona wike, kau tentu tau senior mu yang satu ini adalah orang terganteng yang pernah kau temui selama kau berada dibangku SMA dulu”.
Wike nampak tertawa lepas, dia ingat betul sejak dulu sikap Rama memang selalu kekanak-kanakan “Lupa yah kak ? Waktu pemilihan duta sekolah dulu tidak ada satu orang wanitapun yang memilih kakak, hampir seluruhnya yang memilih kakak itu kaum pria dan aku pikir kakak justru terlihat cantik dimata mereka”.
“Kalau saja Galuh tidak ikut dalam pemilihan tersebut, pasti kakak yang menang” Suara Rama antusias, dia tidak menyadari bahwa ketika dia menyebutkan nama galuh, nama itu sudah membuat tawa wike terhenti bertepatan dengan berhentinya laju kereta api.
“Sudah sampai statsiun terakhir, kita berpisah disini kak”
“Kamu tinggal didaerah mana Wike”
“Aku dijakarta Pusat kak, tepatnya di Yayasan Putra Setia”
“Kau tinggal disana?”
“Yah, kapan-kapan datanglah” Wike bangkit dari tempat duduknya bergegas untuk turun
“Baiklah, kakak akan menghubungi mu”
Galuh tidak ingin keberadaannya dengan ICha diketahui oleh mereka, dengan cepat dia bergegas dia memutar tubuhnya membelakangi Wike dan Rama yang berjalan melewatinya, percakapan mereka berdua selama perjalanan cukup memberikan dia sedikit jawaban bahwa keduanya adalah sahabat semasa SMA, sekalipun Galuh masih belum bisa menemukan jawaban apa yang sebenarnya terjadi anatara dia dengan wanita bernama wike lima tahun yang lalu, dan mengapa dia sama sekali tidak mengenal sosok wike ataupun rama.
“lokh kak, kau tidak membangunkan ku” ICha terbangun.
Galuh tersentak “Ini tadinya kakak mau bangunin kamu, abis kamu terlihat pulas sekali jadi tidak tega”
“Yasuhdah ayo kita turan, aku memang sedikit ngantuk semalaman aku tidak tidur”  Icha bangkit dan bergegas merapihkan kerudungnya “Oyah kak, tolong bawakan tas ku, badanku masih sangat lemah. Nampaknya aku harus berusaha menyatukan nyawa-nyawa yang masih berkeliaran”. ICha berlalu mendekati pintu gerbong kereta api bergegas untuk turun dari kereta.
Galuh memungut sesuatu yang tergeletak pada gerbong ketika hendak mengambil tas Icha, sebuah kalung dengan lantion berbentuk lingkaran jam, dengan cepat galuh memasukan kalung itu kedalam saku celananya.



***
Suasana statsiun Tanah abang jauh berbalik dengan suasana statsiun kereta api Rangkasbitung, Ratusan orang memadati peron-peron yang ada distatsiun, dengan ribuan exspresi orang-orang tersebut dengan sabar menunggu kereta yang akan mereka tumpangi. Sebagian lagi berjalan menaiki anak tangga untuk bergegas keluar dari statsiun. Galuh nampak melemparkan pandangan matanya keberbagai arah sudut statsiun.
“Siapa yang kakak Cari?”
“Tidak ada” Galuh mendesah pelan, dia sadar tingkahnya tadi akan membuat Icha curiga.
“Tunggu” Seseorang menghentikan langkah mereka berdua.
“Bruk” Tiba-tiba sebuah tinju melayang kearah wajah Galuh, ICha menjerit tak percaya apa yang terjadi, dengan cepat dia bergegas memukul laki-laki bertopi yang tiba-tiba saja meninju Galuh.
“Apa yang kau lakukan pada kekasih ku” Suara ICha lantang, membuat semua orang yang berada distatsiun, mengalihkan pandangan mereka.
Laki-laki itu bergegas membuka topinya, Icha hapal betul siapa laki-laki yang melemparkan tinju kearah Galuh itu.
“Kekasih mu” suara Rama terdengar melecehkan
ICha terdiam, dia sadar betul apa yang Rama maksudkan
“Bagaimana mungkin dia bisa menjadi kekasihmu begitu cepat, apakah kalian saling mencintai?” Rama menatap galuh yang sedang merintih kesakitan, bibirnya terlihat lebam dan darah segar menetes dari bibirnya yang tipis.
“Bruk” sekali lagi rama melayangkan tinjunya kearah Galuh “Apa kau juga tidak mengenaliku, laki-laki keparat” Suara rama terdengar semakin menjadi-jadi.
Keributan yang terjadi kini benar-benar menyita perhatian, orang-orang saling berbisik berusaha berspekulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi, sebagian lebih memilih diam dan memperhatikan kejadian yang terjadi di bahwa tangga statsiun itu bak memperhatikan sebuah sinetron dalam televisi, tak ada satu orangpun yang berani menjadi penengah diantara kekacawan tersebut, karena mereka yakin ini bukan masalah yang pada umumnya terjadi disetatsiun.
“Sungguh aku tidak paham apa maksudmu” Galuh terdengar merintih berusaha menahan rasa sakit.
”Stop Rama ! bukan Galuh yang salah tapi aku” Icha berusaha mengendalikan suasana, air matanya sudah tidak terbentung lagi, matanya menatap Iba keadaan Galuh yang tergeletak tak berdaya.
“Ouh yah, kau membela kekasih mu. Yah…ya…ya… tidak ada satu orangpun didunia ini yang rela melihat kekasihnya disakiti”
“STOP kakak” Sebuah suara menghentikan Rama ketika hendak melemparkan tamparan kearah ICha.
“Wike, kenapa kau masih berada disini?” Rama nampak tak percaya, padahal sebelumya dia sudah yakin betul bahwa wike sudah keluar dari statisun.
“Seorang ibu memberitau ku bahwa orang yang tadi berbicara dengan ku di kereta sedang terlibat perkelahian”
ICha berlari kearah galuh dan bergegas membantunya untuk bangkit dan segera melarikan diri, keberadaan Wike baginya semakin memperburuk suasana. Tapi galuh dengan cepat melepaskan tangan ICha.
“Sudah saatnya kita akhiri semua ini”
Wike melirik kearah galuh, tubuhnya gemetar ketika melihat galuh bersimpah darah. “Aku sudah mengakhirinya kak Galuh, aku akan bergegas membawa kak Rama pergi dari sini dan kau Icha” wike tak meneruskan perkataannya, dia memilih untuk terlebih dulu menatap perempuan berkerudung itu “Aku sudah merelakan ini semua dan aku harap kau tidak menyia-nyiakannya”.
“Maafkan kakak” Ujar Rama menyesali apa yang telah diperbuatnya justeru membuat Wike semakin menderita.
“Tidak ada yang salah dan tak perlu meminta maaf, lebih baik kita pergi”
“Tidak ada yang boleh pergi dari sini!” Galuh berteriak
“Sudah lakh kak, kakak mau di tinju lagi ? lebih baik kita pergi dari sini”
“Diam !!!” Galuh membentak Icha “Seharusnya kau tidak pernah menyembunyikan apapun dari aku, selama ini aku cukup berusaha bersikap sesuai dengan apa yang kau inginkan”
“Aku tidak pernah menyembunyikan apapun dari kakak”
Galuh berjalan mendekati Wike “Kau menyembunyikan perempuan ini dari ku, kau menyembunyikan kisah sebelum kejadian itu menimpah ku”. Galuh menggengam erat tangan Wike yang hendak pergi “Jangan pernah berusaha mendustai takdir”.
“Aku tidak berusaha mendustai takdir, tapi aku berusaha membuat takdir ini menjadi lebih ringan dan tidak mengikat”
“Kau salah, takdir ini sudah terikat sebelum kita terlahir kedunia. Tak ada yang bisa mengubah takdir”
“Wanita yang selama lima tahun ini  berada disampingmu sudah mengubah takdir mu” Rama kembali melibatkan diri dalam percakapan, dengan cepat dia segera menarik tangan wike dan membawanya pergi.
““Gemuruh halilintar tanpa hujan,sementara panas hadir tanpa percikan api batu kerikil terdampar di tengah jalan karang kering tanpa tamparan garam. Waktu… menghujat alam mengguncang perasaan tak perlu kau ucapkan cukup dengan isyarat hati dan ketika kedua bola mata itu bertemu membentuk sebuah rasa, itulah cinta yang sesungguhnya” Galuh mengucapkan sebuah kalimat yang membuat wike terpaksa menghentikan langkahnya dan kembali berbalik arah mendekati Galuh, mata wike seolah menuntut dan menghujat membuat galuh merasa bahwa dirinya benar-benar telah berbuat dosa besar kepada peremupan yang mungkin merupakan bagian dari masa lalunya.
“Jangan pernah mengucapkan kalimat itu jika kau tidak mengetahui maknanya”
“Selama ini aku mungkin berperan sebagai kekasih ICha, tapi ada lubang yang sepertinya sudah terisi oleh orang lain sebelum Icha mengisinya, ada sebuah lubang yang sudah mengganggu tidur ku selama ini, lubang itu seolah menuntut ku untuk terus berusaha mencari pemiliknya”
“Tidak ada orang yang berhak mengisi hati mu selain aku kak” Icha berteriak kencang, sekencang suara kereta api yang akan segera berhenti.
Orang-orang yang sejak tadi memperhatikan pertikayan antara empat anak adam tersebut, nampak enggan untuk meninggalkannya, walaupun demikan mereka harus segera bersiap-siap untuk naik kedalam gerbong kereta yang akan segera berhenti karena kalau tidak  mereka tidak akan mendapatkan kursi dan harus merelakan diri untuk berdiri sepanjang perjalanan.
“AKhhhhhh” Semua orang menjerit histeris ketika menyadari seseorang terjatuh keatas rel.
“Settttttt” Suara rem kereta api yang berhenti mendadak
“Wike” Rama berteriak dan bergegas loncat dari peron, Masinis yang mengemudikan kereta api nampak syok tak percaya dengan apa yang terjadi dihadapanya, semua orang menangis histeris. Sontak saja suasana statsiun menjadi riuh penuh ketegangan.
“Kita pergi dari sini kak” Icha begegas menarik tangan Galuh, tubuhnya menggigil ketakutan.
“Pruk” Galuh menampar Icha sekuat tenanga hingga jilbab yang digunakannya nyaris terbuka “Perempuan bianap, apa yang sudah kau lakukan terhadap teman mu sendiri!”
Icha memeluk tubuh Galuh sekuat tenaga, berusaha menahan galuh yang hendak turun dari peron “Ayo pergi kak, aku tidak mau kakak kembali kepangkuan Wike, aku tidak mau kehilangan kakak”.
Galuh mendorong tubuh Icha hingga terjatuh “Diam Kau”.


***
Wike menggerang pelan saat merasakan tubuhnya kaku, kepalanya juga terasa sangat berat sekali, entah apa yang terjadi setelah ICha mendorongnya. Atau jangan-jangan dirinya sudah mati, dan kini dia sudah berada didimensi lain yang jauh dari orang-orang yang sangat disayanginya.
“Apa yang terjadi pada ku” Wike berusaha membuka kedua matanya, sebuah cahaya nyaris membuatnya tidak bisa melihat, tapi cahaya itu cukup bisa membuatnya merasa lega dan tersadar bahwa dirinya masih hidup.
“Kakak” Wike memanggil seseorang yang sejak tadi berdiri resah di dekat jendela.
“Kau sudah sadar?” Galuh nampak senang ketika menyadari wike sudah sadarkan diri, dengan cepat dia bergegas menggenggam tangan wike.
“Kak Rama, aku sudah sadar kenapa kakak masih berdiri didepan jendela ? Bukan segera menemuiku” Wike berusaha melepaskan tanggan galuh, matanya masih tetap menatap Rama yang kini sudah berebalik arah mendekat kearahnya.
“Jangan mencoba mengubah takdir kembali wike, takdir sudah terbuka tak layak kau mengingkarinya lagi” Rama menarik napas panjang, mengambil jeda sebelum dia memulai kembali perkataanya “Bukan kau saja yang menderita dalam hal ini, Galuh justru menjadi korban yang lebih menderita lagi, semua gara-gara perempuan gila itu”.
“Aku sudah berusaha menerima semua ini”
“Lima tahun lalu, sebuah kecelakaan menimpah ku. Aku kehilangan ingatan akan masa lalu ku” Galuh berusaha menceritakan apa yang sebenarnnya terjadi.
“Tapi kau tidak melupakan Icha”
Sepertinya lebih baik aku pergi, biarkan kedua orang ini untuk berbicara dari hati ke hati ouh jangan menjandi benalu Rama. Erang Rama dalam hati kemudian bergegas untuk pergi tapi niatanya seperti sudah terbaca oleh wike yang kemudian menghentikannya dan menyuruhnya untuk tetap berada di ruangan.
“Aku sendiri tidak tau siapa sebenarnya ICha, orang yang pertama kali ada disampingku ketika kecelakaan itu adalah dirinya, dia bilang seseorang menelepon dan memberitahu kejadian itu kepadanya. Icha yang kemudian merawatku dan mejaga ku dengan baik, pada saat itu dia bilang dia adalah kekasih ku, karena aku tidak bisa mengingat masa lalu dan ketika icha membawa ku pulang dan ibuku bilang icha dalah satu-satunya wanita yang pernah datang kerumah. Cukup untuk meyakinkanku bahwa dia memang kekasih ku”
“Dan kakak cukup yakin akan hal itu, itulah takdir yang sesungguhnya” suara Wike paruh, matanya nampak berkaca-kaca menahan tangis yang hendak tumpah.
“Kenapa kau tidak berusaha mencari ku jika memang kau mencintai ku Wike, jika apa yang dikatakan Rama, kalau aku sudah berjanji untuk menikahimu dulu benar, seharusnya kau datang untuk menagih janji itu kepada ku. Tapi nyatanya kau memilih untuk larut dalam kesedihan dan tidak berusaha mencari ku”
Wike menggelangkan kepala “Apa maksud kakak, kakak hendak berbalik menyalahkan ku. Setiap hari selama setahun aku menghabiskan waktu untuk mencari kakak, keluarga kakak bilang mereka juga tidak tahu menahu tentang keberadaan kakak, aku sudah kehabisan akal untuk mencari kakak, ditempat kuliah kakak mereka bilang kakak sudah berhenti. Bahkan orang-orang nyaris mengatakan bahwa kakak sudah mati, ini yang membuat ku hampir gila”
“Kalau begitu kita mulai semuanya dari awal wike, kakak yakin kakak mencintai mu. Kakak akan berusah menebus semua kesalahan yang ICha perbuat kepada mu”
Wike menangis mendengar apa yang dikatakan oleh Galuh “Sadar atau tidak jika kita meneruskan hubungan kita, itu tidak akan berakhir dengan baik, kakak tau  hati kakak sudah bukan milik ku lagi” Wike tidak meneruskan kealimatnya, dia menarik napas panjang untuk berusaha menyadari apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupannya, air matanya sudah tidak bisa tebendung lagi “Kakak memang mencintai Icha”.
“Apa yang kau katakana Wike, kakak mencintai mu. Selama ini kakak hanya merasa memiliki hutang yang besar kepada Icha, sejak kakak bertemu dengan mu lagi ada perasaan lain yang sepertinya sudah lama kakak nantikan”
“Tapi kakak rela menebus segala kesalahan ICha kepada ku! Itu cukup membuktikan bahwa takdir memang tidak berpihak kepada ku”
Rama berdiri tegak , hatinya merasa tidak enak mendengar percakapan Galuh dan wike, keadaan ruangan tempat wike dirawat serasa seperti penjara yang siap menyeretnya.
“Grekk” seseorang membuka pintu, tidak berapa lama kemudian ICha masuk dengan keadaan tangan sudah terborgol ditemani dua orang polisi. Wike nampak syok melihat apa yang terjadi dengan ICha, sementara galuh justru tak berani melihat keadaan wanita berkerudung yang ternyata sudah menjadi racun yang menyerupai madu dalam kehidupannya.
“Apa yang terjadi” Wike berusaha bangkit dari tempat tidurnya tapi enah mengapa tubuhnya serasa berat, kedua kakinya tidak bisa digerakan sama sekali.
Rama gergeas meraih wike yang hampir terjatuh “Kaki mu terkena roda kreta, dan dokter bilang kamu mengalami…” Rama mengehentikan kalimatnya, menatap Wike dengan tatapan Iba.
“Aku Lumpuh” Wike berusaha mencari jawabannya sendiri
“Tapi tanang, dokter bilang ini hanya sementara. Kemungkinan kamu bisa jalan lagi sangat besar wike” Galuh berusaha untuk menenangkan dan memeluk tubuh wike.
Kini wike sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air matanya dengan kencang dia menggit bibirnya hingga berdarah “Lepaskan Perempuan itu pak, dia tidak bersalah”.
Semua saling pandang, mereka nyaris tak percaya dengan apa yang dikatakan wike, bagai mana mungkin, wike masih bisa memaafkan perempuan yang sudah membuat hidupnya hancur dan nyaris mati.
“Maafkan aku Wike” Icha menjatuhkan diri menyesali perbuatannya
“Tak ada yang salah, takdir sudah berkata demikian. Jika kita saling menyalahkan sama dengan kita menyalahkan takdir. Tuhan tidak mungkin pernah membuat skema yang salah dalam hidup ini, aku tidak menyalahkan mu wike. Kau berlaku demikian untuk memperjuangkan cintamu terhadap kak Galuh. Jika memang kau mencintai kak Galuh ambilah ! selama ini aku cukup iklas menerima kepergiannya, kehilangan kak Galuh dalam hidupku sudah sedikit terbiasa walaupun itu sangat menyakitkan, tapi kalau kamu kehilangan kak galuh … aku tidak akan ada dua Wike yang menderita di dunia ini. Cukup aku saja!”
“Tapi” Galuh berusaha mencegah wike
Wike menatap mata galuh, senyumnya yang manis, bibirnya yang tipis, halisnya yang tebal, rambutnya yang sedikit ikal dan tatapanya yang tajam, dan perasaan yang wike alami setiap memandang wajah galuh masih sama persisi seperti dulu “Aku baru menyadari, perasaan cinta yang sesungguhnya. Terdengar mungkin klies tapi antara cinta dan keinginan untuk memiliki seharusnya bisa aku bedakan, aku masih bisa mencintai kakak sekalipun tidak bisa memiliki”
Galuh mengecup kening wike, menyadari betapa begitu berharganya sosok wike didalam kehidupan terdahulu, perlahan tapi pasti ingatan akan bayangan masa lalu mulai membentuk garis-garis kecil dalam pikirannya. Wanita cantik yang selalu mengiriminya puisi, gadis kecil yang setia menunggunya di gerbang sekolah, perlahan tapi pasti gadis yang selalu hadir dalam ingatannya itu kini nampak memperlihatkan wajah aslinya.
“Apa yang kau inginkan dari ku “ Ucap galuh sambil memeluk erat wike
“Menikahlah dengan Icha” Suara wike terdengar berat ditelinga galuh, bahkan Rama nyaris menjatuhkan dirinya karena masih tak percaya bagai mana mungkin wanita yang mirip chelse Olivia itu rela memberika kekasihnya pada seorang teman yang sudah menghianatinya hingga lima tahun.
“Baik Jika itu mau mu ! Besok kakak akan menikahi Icha” Galuh menimpali seraya melepaskan pelukannya, kemudian dia bergegas mendekati Icha yang masih tersimpuh dilantai “Bangunlakh ! bersiaplah untuk besok, kakak akan menikahi mu”.


****
Suasana Ruangan perawatan kecil di RS Harapan disulap sedemikian rupa, rangkaian bunga diberbagai sudut ruangan nampak terlihat sangat cantik, Wike masih menyibukan diri membaca sebuah majalah, tidak ada yang bisa dialakukan selain berbaring. Rama nampak terlihat sibuk menyiapkan sebuah meja kecil yang dihiasi dengan taplak bermotif bunga mawar. Sementara di sudut lain seorang perias kecantikan nampak asik mendandani Icha untuk dijadikan ratu sehari. Seorang suster nampak sedang bercakap-cakap dengan dokter dan satu orang office boy. Ketiganya sudah bersiap untuk menjadi saksi dalam pernikahan ini.
“Kak sudah menghubungi keluarga Icha?”
“Sudah, Insyaallah kakaknya akan datang sebagai wali”
“Hei Cha, kau dengar kakak mu akan datang. Jadi kau tenang saja jangan resah seperti itu” Wike nampak menggoda Icha
“Oyah orang tua mu juga akan hadir wike, sebenarnya sih hari ini mereka ingin menjenguk mu. Tapi sekalian saja lakh”
“Bagus kalau begitu bukankah makin banyak yang hadir, makin banyak juga doa untuk mereka”
“Assalamualaikum”
Semua yang ada diruangan itu nyaris secara bersamaan menatap kearah orang yang mengucapkan salam. Galuh nampak berwibawa dengan baju koko putih dan peci hitam yang dikenakannya, dibelakangnya nampak kakak Icha dan kedua orang tua Wike yang juga turut melemparkan senyuman.
“Nampaknya Mempelai Pria sudah datang, kau tau kak sejak tadi Icha resah menunggu mu!” Wike menggoda, kemudian melemparkan tawanya . semua orang yang hadir kini melemparkan pandangan mereka kearah Wike, Kedua orang tua wike nyaris saling pandang menatap tak pecaya bagai mana anaknya bisa memiliki kekuatan yang begitu hebat, mereka tau selama ini wike mencintai galuh.
“Apakah acara bisa segera dimulai” seorang laki-laki berkumis mengingatkan, dia adalah penghulu yang akan menikahkan Galuh dengan ICha.
Tangan galuh sudah menggenggam tangan penghulu itu, Icha dengan manis duduk disamping galuh, sementara Rama memilih untuk berdiri didekat jendela. Wike nyaris tidak pernah melepaskan pandangan matanya dari galuh, hal itu yang membuat kedua orang tuanya nyaris meneteskan air mata.
“Saya nikahkan dan kawinkan saudara Galuh dengan Icha kholilasari bin Muhamad Ichsan dengan maskawin seperangkat alat solat dibayar tunai”
Perkataan penghulu itu nyaris membuat perasaan wike hancur, matanya mulai berlinang air mata, ingatannya kembali terbawa kemasa SMA diamana dia dan Galuh menjalin hubungan. Lima tahun lalu sebelum Galuh lulus dia berjanji akan datang untuk mempersuntingnya, sebuah kalung dengan liontin jam diberikan sebagai tanda keseriusan, tapi lima tahun berlalu yang kini terjadi justru dia harus menjadi saksi dipernikahan kekasihnya itu.
“kalungku” Wike baru menyadari bahwa kalung yang dikenakannya hilang, perlahan dia melirik kearah rama dan kemudian menganggukan kepala, berusaha meyakinkan perasaannya.
“Aku tidak bisa menikah dengan kamu kak!”
“Apa yang kau katakana Icha, aku sudah akan menikahi mu!”
“Kakak, selama kakak kehilangan ingatan kakak, setiap malam nama Wike selalu kakak sebut. Walaupun kakak tidak mengingat wike, tapi hati kakak untuk wike. Aku tidak ingin menikah dengan laki-laki yang menyebutkan nama perempuan lain ketika dia sedang tertidur disampingku, dan perkataan wike benar. Cinta dan keinginan memiliki itu berbeda, selama ini aku ingi memiliki kakak bukan mencintai kakak, menikahlah dengan wike”
Semua kini manatap kearah wike, hal ini membuat wike salah tingkah . Rama nampak tertawa melihat tingkah laku wike, sementara itu galuh sudah bangkit dan mendekati wike.
“Lihat ini” Galuh memperlihatkan sebuah kalung yang digenggamnya.
“Dari mana kakak mendapatkan kalung itu”
“Takdir yang membawanya kepada ku!”
“Lucu sekali apa kau dapat melihat wujud takdir, ketika dia menemuimu dan memberikan kalung itu” Wike tertawa , kedua bola matanya masih tak henti mengeluarkan air mata. Tapi kali ini air mata yang keluar terasa sangat berharga dan membuat hatinya serasa ringan dari beban hidup yang selalu menghantui.
“Kau bodoh !” Galuh memukul kepala wike dengan sepontan
“OUh… pada saat hilang ingatanpun kebiasaan buruk kakak memukul kepala orang nampaknya masih tetap teringat, lucu sekali”
Semua yang hadir serempak tertawa melihat tingkah laku wike dan galuh.
The End

Dilarang keras meng copy tanpa seijin pembuat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar