Sinar mentari pagi jatuh
diatas wajahnya, walaupun sinar itu sesekali memaksanya untuk memejamkan mata
karena silaunya, tapi Wike tak menyesali keajaiban yang dapat dilihatnya pagi
ini, garis-garis sinar yang menyinari dua gunung batu karang terlihat bertemu
dibawah lautan sehingga membentuk bayangan yang sama persis dengan dua karang
yang menjulang tinggi di pantai sawarna, keindahan alam itu seolah memanjakan
matanya dan memberikan kehangatan yang teramat dalam. Tanpa sadar Wike
tersenyum pemikiran-pemikiran bahagia memenuhi kepalanya. Apa yang terjadi
akhir-akhir ini serasa membuat hidupnya kembali berwarna.
Kini sebuah pertanyaan
mengetuk hatinya, membuat Wike tertegun menyadari apa yang berada di benaknya.
Betulkah dia sudah tak layak lagi untuk bermimpi? Lalu kenapa kebahagiaan dan mimpi itu kini
kembali menghampiri hidupnya? . Wike menggelang pelan, ia tak mau kecewa untuk
kesekian kalinya.
“Jadi bagai mana,
apakah kau akan terus berada disini, ingat waktu berlibur kita sudah habis”
Sebuah suara memecah
kehangatan pagi, tapi suara itu tak sedikitpun membuyarkan segala pemikiran
yang ada dalam benak wike.
“Entahlah, seperti ada
yang menganjal dihatiku”
Tak berapa lama seorang menimpali, kali ini
suara itu benar-benar mengusik wike. Dia seperti pernah mendengar suara itu,
tapi dimana? Tiba-tiba tubuhnya terasa gemetar tangannya terasa dingin, tentu
saja wike mengingat siapa pemilik suara itu kini.
Wike melirik kearah
pemilik suara itu, hanya berjarak satu meter darinya dua orang yang telah
mengusiknya berdiri tegak . Wike hapal betul kedua orang itu, sekalipun tak
yakin perlahan wike melangkahkan kaki untuk lebih meyakinkan bahwa orang yang
dilihatnya memang tak salah.
“Icha” Seru wike dengan
sangat hati-hati.
Wajah perempuan yang
bernama Icha itu Nampak tegang ketika melihat wike, sementara laki-laki yang
berada disampingnya hanya menatap penuh tanda Tanya, terutama ketika menyadari
perubahan exspresi wajah Icha.
“Sahabat mu Cha?” Tanya
laki-laki itu polos
Wike sudah tidak bisa
menahan tangis, ternyata perasaan senang dan harpan akan mimpi-mimpinya selama
ini benar-benar akan menjadi nyata. Namun wike tetap berusaha menarik napas
dalam-dalam agar perasaan hatinya bisa terkontrol dengan baik, bagai manapun
pertemuan dengan sahabat lamanya ini menyuguhkan ribuan pertanyaan didalam
hatinya.
“Ayo kak kita pergi”
Icha nampa semakin
tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya, dengan cepat dia segera menarik
tangan laki-laki yang sejak tadi memandang penuh tanda tanya. Sementara Wike
hanya tertegun tak percaya dengan apa yang dilakukan sahabatnya, bagai mana
mungkin Icha bisa melakukan hal itu kepadanya dan apa yang sebenarnya terjadi?.
“Akhhh…”
Teriakan wike membuat
laki-laki yang berlalu bersama Icha membalikan tubuhnya dengan cepat, Pandangan
matanya terlihat iba melihat wike yang menjatuhkan diri diantara bebatuan
karang dan pasir pantai di pesisir pantai sawarna.
“Kenapa perempuan itu
menagis”
“Sudah lakh ka, lebih
baik secepatnya kita pergi dari sini, perempuan itu sedikit terganggu
mentalnya”
“Lokh Cha, bukannya dia
teman mu ? kenapa kamu berkata seperti itu”
Icha menghentikan
langkah kakinya dengan kesal dia melepaskan tangan laki-laki itu, bagi Icha
pertemuannya dengan Wike merupakan ancaman terbesar dalam hidupnya yang hampir
lima tahun ini dia hindari.
“Dia bukan teman ku !
itu jawaban terakhirku dan kakak jangan sekali-kali mengungkit hal ini lagi,
hari ini juga kita pulang ke Jakarta”
“Gak bisa gitu donk
Cha, perjanjian kita setelah berlibur di sini kita akan jiarah kemakan ayah
kakak di Rangkasbitung baru setelah itu kita akan kembali ke Jakarta, bukankah
sebelumnya kau bilang bahwa ada suatu hal yang mengganjal dihati mu, atau
jangan-jangan ini semua ada sangkutannya dengan perempuan itu”.
“ouke, sekarang juga
kita ke Rangkas, besok pagi-pagi sekali kita harus sudah ada distatsiun”
Sementara itu diatas
tebing karang yang membentuk gunungan, Wike berteriak keras melampiaskan
kekesalannya, apa yang terjadi tadi benar-benar membekas begitu jelas dalam
ingatannya. Exspresi wajah Icha dan tatapan kebencian yang terpancar dari
matanya, sungguh membuat perasaan wike hancur, terutama ribuan pertanyaan yang
sejak tadi hadir dan tak menemukan jawabannya kini seolah menghujat wike.
Dengan napas terenggah Wike menebarkan pandangannya keseluruh pelosok pantai,
sekali lagi kedua matanya menyisiri kerumunan orang yang kini semakin ramai
berdatangan, namun yang dicarinya benar-benar tak ada.
****
Perempuan berkerudung
dan berperawakan tinggi dengan bola mata yang biru dan senyum manisnya yang
selalu merekah kini benar-benar terlihat gusar, dengan cepat dia membereskan
semua pakaiannya. Pertemuannya dengan wike baginya adalah sebuah bencana besar
yang akan merusak kehidupannya kelak. Wike, entah apa yang salah dari perempuan
yang mirip dengan pemain sinetron Chelse Olivia itu, baginya wike adalah moster
yang kapan saja siap menerkam dirinya hidup-hidup.
“Cha sudah siap?”
“Sudah kak galuh” Icha
segera menarik kopernya, baginya keindahan pantai sawarna berubah menjadi
neraka yang siap membakarnya kapan saja, dan pergi dari tempat terkutuk itu
secepatnya merupakan keputusan yang sangat baik.
Galuh benar-benar tak
habis pikir dengan perubahan sikap Icha, kali ini Icha terlihat penuh dengan
emosi dan kegelisahan, bahkan ketika mereka berdua menyebrangi jembatan
penyebrangan yang sudah rapuh, Icha yang biasanya akan berteriak manja kini
justru terlihat diam membisu .
“Icha Stop.Icha.Icha”
Seseorang memanggil
namanya, teriakan itu terdengar jelas berasal dari arah belakang, Galuh
berbalik seketika sementara Icha lebih memilih untuk mempercepat langkah
kakinya. Matahari sudah semakin naik kepermukaan, kerumunan orang yang bersiap
melintasi jembatan penghubung menuju pantai sawarna semakin bergejimul, Galuh
melihat sosok wanita yang dilihatnya di pesisir pantai sawarna tadi Nampak
berlari diantara kerumunan orang pada jembatan bambu, keadaan jembatan semakin
tak karuan, anak-anak menangis ketakutan dan goyangan jembatan tersebut membuat
ibu-ibu menjerit kesal. Sementara itu seorang bapak nampak tak kuasa menahan
amarahnya dengan keras dia mencerca Wike.
“Icha jika kamu
menyembunyikan sesuatu dari ku, tolong jangan bersikap seperti ini” sura wike
kini terdengar samar
“Jangan menoleh ke
belakang kak, lebih baik kakak segera naik kedalam mobil”
Galuh hanya mengikuti
apa yang diperintahkan Icha kepadanya, walaupun sesekali dia melirik kebelakang
untuk melihat keadaan wanita yang sampai saat ini tak dia ketahui namanya. Bagi
galuh kejadian ini benar-benar aneh dan membuat perasaannya menjadi tak karuan,
seperti ada sebuah dinding yang selama ini berdiri kokoh didalam dirinya kini
mulai goyah.
“Kenapa kau berlari
darinya Cha, kalau memang kita tidak punya kesalahan untuk apa kita berlari dan
seakan menghindar. Kakak yakin kamu mengenal perempuan itu” Galuh berusaha
memberanikan diri.
Wajah icha semakin
menegang, mulutnya terlihat kering dan menggigil ketakutan. Sesekali tangannya
memperbaiki kerudung yang ia pakai, kemudian menarik napas panjang berusaha
mengontrol emosi.
“Tolong jangan tanyakan
itu lagi pada ku kak?” Suara Icha terdengar lemah
“Ouke kakak tidak akan
pernah menanyakan ini semua, kalau memang kamu tidak bersikap aneh seperti ini,
kau tidak merasa kasihan ketika melihat perempuan tadi menjerit, menangis
berlari mengejar kita, Cha kau tidak seperti Icha yang kakak kenal”
Icha terdiam, selama
ini belum pernah dia mendengar suara seperti itu bahkan cenderung seperti orang
kesal yang sedang membentak.
“Aku dan wike tidak ada
masalah apapun kak” Icha sedikit membentak
“Wike”
Galuh terdiam ketika
mendengar ICha menyebutkan sebuah nama, seperti ada sebuah gelombang besar yang
siap menghancurkan dinding besar didalam hatinya, dinding yang selama ini
membuatnya hidup seperti dalam sebuah kematian.
“Yah Wike” suara Icha
terdengar pasrah
***
Matahari perlahan mulai
mengurangi cahaya yang diberikannya kepada bumi, sebentar lagi tugasnya akan
segera tergantikan bulan. Sementara itu suasana di TPU kota Rangkasbitung
nampak benar-benar sepi, setiap langkah kaki terdengar begitu nyaring menginjak
dedaunan kering. Nisan-nisan nampak berjejer, dalam nisan tersebut dituliskan
kapan orang itu lahir dan meninggal, terkadang kehidupan memang sangat tidak
adil itu yang terlintas dalam benak galang ketika membaca sebuah nisan yang
pemiliknya hanya hidup satu minggu di dunia ini.
Langkah kedua kaki
Galuh dan Icha terdengar semakin menjauh dari pemakaman, bagi galuh walaupun
hanya membaca segelintir doa untuk ayahnya yang sudah meninggal itu merupakan
obat yang handal untuk mengurangi kerinduan terhadap sosok yang sangat
dikaguminya itu.
“Bagai mana kalau mala
mini kita berangkat kejakarta naik bis saja k” Icha berusa memecah keheningan
ketika dia benar-benar yakin bahwa sudah melewati pintu gerbang kompleks
pemakaman.
“Kenapa terburu-buru
sekali Cha, kamu tidak ingin pergi kerumah orang tua mu dulu ? Lagi pula kakak
rindu dengan negri Multatuli ini. Sudah lama rasanya melupakan kota ini”
“Terserah kakak saja”
suara Icha terdengar kesal
“Kenapa kau menghindar
dari ku” Wike nampak berdiri tegap
dihadapan Galuh dan Icha, “Selama ini aku cukup menderita cha, kehilangan dua
orang yang aku sayangi sekaligus. Aku hidup dalam seluruh pengharapan hampa,
aku hidup layak kunang-kunang tak memiliki cahaya, tapi kau justru tega
membiarkan ku seperti itu”
Icha hanya terdiam tak
berani menimpali perkataan Wike, dia benar-benar tak percaya wike akan
mengikutinya hingga kepemakaman, tangannya bergegas meraih lengan Galuh dan
memegangnya dengan erat, seperti tak ingin dipisahkan . wike yang menyadari tindakan
Icha nampak memahami apa maksud Icha, sekalipun baginya itu merupakan sebuah
pukulan telak yang akan menghancurkan semua harapan dan mimpinya.
“Gemuruh halilintar
tanpa hujan,sementara panas hadir tanpa percikan api batu kerikil terdampar di
tengah jalan karang kering tanpa tamparan garam. Waktu… menghujat alam mengguncang
perasaan tak perlu kau ucapkan cukup dengan isyarat hati dan ketika kedua bola
mata itu bertemu membentuk sebuah rasa, itulah cinta yang sesungguhnya”
Wike membacakan sebuah
kalimat dengan seksama, kemudian ia mendekat kearah Galuh dengan mengulangi
terus menerus kalimat yang dibacanya. Tatapan wike menatap tajam kearah Galuh,
seperti memohon mengghujat tapi juga tatapan penuh pengharapan. Tatapan itu
berlangsung singkat namun sangat mendalam, Galuh membalas tatapan itu dengan
penuh tanda tanya, terlebih ketika dia melihat bagai mana wike meneteskan air
matanya kemudian berlari meninggalkan mereka.
Kepergian wike justru
membuat hati icha tenang, Icha paham betul bahwa ketika wike sudah memutuskan
untuk pergi, wike tidak akan pernah kembali hadir tanpa diminta. Icha menarik
napas panjang-panjang tidak berapa lama melempar senyuman dan memeluk Galuh
yang nampak masih dalam kebingungan, Icha membisik pelan kearah Galuh
mengatakan bahwa semua sudah berakhir, perkataan icha justru membuat Galuh
semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
***
Suasana pagi di
statsiun kota Rangkasbitung nampak masih sangat sepi, dua kereta yang terparkir
masih terlihat gelap, di sudut statsiun seorang anak jalanan nampak masih larut
dalam mimpinya, dilain sisi para penjajah nasi uduk sudah menggelar
dagangannya, wajah mereka terlihat bersemangat untuk berjuang melawan kehidupan
hari ini.
“Ini masih terlalu
pagi”
Icha lebih memilih
diam, kejadian kemarin membuatnya semalaman tidak bisa tidur, pagi ini wajahnya
jelas terlihat pucat dan tubuhnya terlihat lemah.
“Kakak Rasa, kamu sakit
Cha, bagai mana kalau kita undur pemberangkatan hari ini” Galuh kembali membuka
pembicaraan berusaha menghangatkan suasana pagi yang sangat dingin.
“Lebih baik kita naik
kedalam Gerbong” Suara Icha terdengar paruh
Galuh lebih memilih
mengikuti apa yang diperintahakan Icha, dalam hidupnya perkataan Icha merupakan
kompas yang siap menentukan arah yang tepat sesuai apa yang diharapkannya,
keberadaan Icha selama ini disampingnya membuat dia sadar betul bahwa Icha
terlalu menganggapnya berharga dan baginya bukan perbuatan yang baik jika dia
membuat Icha kecewa.
Suasana didalam gerbong
gelap, dengan cepat Galuh menyalakan senter yang berada di Handphonenya,
sedikit cahaya membantu mereka untuk melangkah melewati deretan bangku kosong,
keduanya sepakat memilih Gerbong terakhir untuk mereka tempati.
“Disini saja Cha, Biar
turunnya mudah” Galuh menghentikan langkahnya ketika menemukan kursi yang
dianggap cocok.
Icha lebih memilih
untuk duduk di pojok dekat jendela, dia sadar betul bagai mana nanti ketika
para penumpang mulai berdatangan dan berdesak-desakan,duduk dekat jendela
kereta api merupakan satu-satunya tempat terindah yang ada pada rangkaian besi
usang yang mampu menahan ribuan beban umat manusia.
“Lebih baik kau tidur
saja Cha, kau terlihat lemas” Suara galuh terdengar sangat hati-hati karena dia
menyadari ada orang lain yang sedang tertidur pulas di kursi belakang mereka.
Perlahan lampu-lampu
yang terpasang pada gerbong kereta mulai menyala, para penumpang kereta apipun
mulai berdatangan memenuhi gerbong demi gerbong kereta tersebut, kebanyakan
dari para penumpang merupakan kaum adam yang hendak kembali bekerja. Galuh
menatap Icha yang tertidur pulas disampingnya, jika melihat dari exspresi wajah
Icha sekalipun dia tertidur nampak tersirat sebuah kecemasan. Entah apa
sebenarnya yang disempunyikan perempuan berkerudung itu darinya dan siapa
sebenarnya perempuan bernama wike sehingga membuat Icha seperti benar-benar
tertekan.
“Hei kau tertidur”
“Ka Rama ? sudah lama
tak berjumpa”
“Bagai mana kabar mu
wike?”
“Baik”
Galuh tersentak ketika
mendengar nama wike, Jadi orang yang sejak tadi tertidur pulas di bangku
belakang adalah wike, apakah wike mengetahui keberadaanya? Bagaimana jika Icha
terbangun dan melihat wike berada di gerbong yang sama?.
“Wike, Wajahmu masih
mengisyaratkan kesedihan?”
“Ouh kak Rama, Sudah
lakh. Kau lihat mukaku penuh dengan senyum kegembiraan”
“Kau selalu mendustai
dirimu sendiri wike, heeehheee tapi aku paham betul karena semua penulis pandai
bersandiwara”
“selalu seperti itu,
kak rama aku ini bukan seorang penulis”
“Sampai kapan kau
menyimpan orang yang sudah pergi meninggalkan mu didalam hati, sekalipun dunia
ini berputar tapi tidak akan pernah berputar kembali ketempat yang sama, kau
sudah menyia-nyiakan waktu mu untuk suatu hal yang tidak penting Wike”
“Cukup kak, kakak tidak
berhak menghakimi ku!”
“Kakak tidak menghakimi
mu wike, kakak hanya ingin melihat kamu seperti yang dulu, lupakan Galuh dan ingat dia sudah pergi meninggalkan
mu”
Galuh tersentak ketika
menyadari namanya ikut dilibatkan didalam percakapan, matanya melirik kearah
ICha yang masih tertidur lemah, apakah ketakutan Icha selama ini ada kaitannya
dengan dirinya, Galuh menarik napas panjang mencoba mengikuti kembali dengan
seksama percakapan yang terjadi dibelakang kursinya.
“Aku sudah melupakan
Galuh!” suara wike terdengar lirih
“Kau tidak melupakan
Galuh wike, matamu berkata seperti itu”
“hehehe…” Wike tertawa
berusaha menyembunyikan kembali perasaannya
“Hari ini kakak ada Tes
wawancara disalah satu perusahaan di Jakarta” Rama mengalihkan pembicaraan, dia
paham betul bagai mana setiap kali dia membicarakan Galuh wike selalu
mengalihkan pembicaraan, kali ini mungkin sudah selayaknya dia yang mengalihkan
pembicaraan.
“Aku akan mencoba
memulai hidup baru di Jakarta kak, sekalipun aku tidak suka dengan Jakarta tapi
sudah selayaknya aku memulai meraih impian ku sebagai seorang Jurnalis disana”
suara wike kini terdengar jauh lebih ringan dari sebelumnya.
“Waw, Kamu yakin?” Rama
terlihat tak percaya dengan ucapan Wike
“Tentu saja, sejujurny
apa yang kakak ucapkan tadi memang benar, sudah saatnya aku melupakan Galuh,
Galuh sudah menemui jalan hidupnya dan aku tak akan pernah tega merusak itu”
“Tunggu sebentar kau
sudah bertemu dengan Galuh?”
“Iyah Kak Rama, kemarin
aku bertemu dengannya, sepertinya dia tidak mengenali ku!”
Rama hanya terdiam,
manatap wike dengan tatapan penuh tanya dan Iba, baginya penderitaan yang
selama ini dilewati wike memang cukup berat, tapi keteguhan wanita berambut
panjang itu dalam menjalani hidupnya memang tidak bisa ada yang menandingi.
“Galuh tidak
mengenaliku, mungkin dia sudah melupakan aku dalam kehidupannya! Tapi itu tidak
membuat ku sedih, karena aku yakin dia menemukan seseorang yang membuatnya
bahagia”
“Maksud mu?” Exspresi
wajah Rama masih tetap menyiratkan sebuah tanda tanya.
“Icha bersama Galuh”
Rama nampak menarik
napas panjang, dia sadar betul wanita yang ada dihadapannya itu kali ini justru
kembali menghadapi sebuah perjalanan hidup yang jauh lebih berat dari
sebelumnya.
“Ouh Tunggu sebentar
kak Rama, Nampaknya kau belum mandi pagi hari ini”
“Hus enak saja kau ini,
kakak sudah mandi tau, lagi pula kalaupun kakak tidak mandi wajah ini” Rama
mendekatkan wajahnya kearah wike, membuat wike nampak sedikit gugup dan serba
salah, melihat tingkah laku wike yang begitu polos membuatnya merasa geli, bagi
rama exspresi wajah wike yang seperti ini sudah lima tahun lamanya tidak pernah
terlihat lagi “Kau lihat wajah ini nona wike, kau tentu tau senior mu yang satu
ini adalah orang terganteng yang pernah kau temui selama kau berada dibangku
SMA dulu”.
Wike nampak tertawa
lepas, dia ingat betul sejak dulu sikap Rama memang selalu kekanak-kanakan
“Lupa yah kak ? Waktu pemilihan duta sekolah dulu tidak ada satu orang
wanitapun yang memilih kakak, hampir seluruhnya yang memilih kakak itu kaum
pria dan aku pikir kakak justru terlihat cantik dimata mereka”.
“Kalau saja Galuh tidak
ikut dalam pemilihan tersebut, pasti kakak yang menang” Suara Rama antusias,
dia tidak menyadari bahwa ketika dia menyebutkan nama galuh, nama itu sudah
membuat tawa wike terhenti bertepatan dengan berhentinya laju kereta api.
“Sudah sampai statsiun
terakhir, kita berpisah disini kak”
“Kamu tinggal didaerah
mana Wike”
“Aku dijakarta Pusat
kak, tepatnya di Yayasan Putra Setia”
“Kau tinggal disana?”
“Yah, kapan-kapan
datanglah” Wike bangkit dari tempat duduknya bergegas untuk turun
“Baiklah, kakak akan
menghubungi mu”
Galuh tidak ingin
keberadaannya dengan ICha diketahui oleh mereka, dengan cepat dia bergegas dia
memutar tubuhnya membelakangi Wike dan Rama yang berjalan melewatinya,
percakapan mereka berdua selama perjalanan cukup memberikan dia sedikit jawaban
bahwa keduanya adalah sahabat semasa SMA, sekalipun Galuh masih belum bisa
menemukan jawaban apa yang sebenarnya terjadi anatara dia dengan wanita bernama
wike lima tahun yang lalu, dan mengapa dia sama sekali tidak mengenal sosok
wike ataupun rama.
“lokh kak, kau tidak
membangunkan ku” ICha terbangun.
Galuh tersentak “Ini
tadinya kakak mau bangunin kamu, abis kamu terlihat pulas sekali jadi tidak
tega”
“Yasuhdah ayo kita
turan, aku memang sedikit ngantuk semalaman aku tidak tidur” Icha bangkit dan bergegas merapihkan
kerudungnya “Oyah kak, tolong bawakan tas ku, badanku masih sangat lemah.
Nampaknya aku harus berusaha menyatukan nyawa-nyawa yang masih berkeliaran”.
ICha berlalu mendekati pintu gerbong kereta api bergegas untuk turun dari
kereta.
Galuh memungut sesuatu
yang tergeletak pada gerbong ketika hendak mengambil tas Icha, sebuah kalung
dengan lantion berbentuk lingkaran jam, dengan cepat galuh memasukan kalung itu
kedalam saku celananya.
***
Suasana statsiun Tanah
abang jauh berbalik dengan suasana statsiun kereta api Rangkasbitung, Ratusan
orang memadati peron-peron yang ada distatsiun, dengan ribuan exspresi
orang-orang tersebut dengan sabar menunggu kereta yang akan mereka tumpangi.
Sebagian lagi berjalan menaiki anak tangga untuk bergegas keluar dari statsiun.
Galuh nampak melemparkan pandangan matanya keberbagai arah sudut statsiun.
“Siapa yang kakak
Cari?”
“Tidak ada” Galuh
mendesah pelan, dia sadar tingkahnya tadi akan membuat Icha curiga.
“Tunggu” Seseorang
menghentikan langkah mereka berdua.
“Bruk” Tiba-tiba sebuah
tinju melayang kearah wajah Galuh, ICha menjerit tak percaya apa yang terjadi,
dengan cepat dia bergegas memukul laki-laki bertopi yang tiba-tiba saja meninju
Galuh.
“Apa yang kau lakukan
pada kekasih ku” Suara ICha lantang, membuat semua orang yang berada
distatsiun, mengalihkan pandangan mereka.
Laki-laki itu bergegas
membuka topinya, Icha hapal betul siapa laki-laki yang melemparkan tinju kearah
Galuh itu.
“Kekasih mu” suara Rama
terdengar melecehkan
ICha terdiam, dia sadar
betul apa yang Rama maksudkan
“Bagaimana mungkin dia
bisa menjadi kekasihmu begitu cepat, apakah kalian saling mencintai?” Rama
menatap galuh yang sedang merintih kesakitan, bibirnya terlihat lebam dan darah
segar menetes dari bibirnya yang tipis.
“Bruk” sekali lagi rama
melayangkan tinjunya kearah Galuh “Apa kau juga tidak mengenaliku, laki-laki
keparat” Suara rama terdengar semakin menjadi-jadi.
Keributan yang terjadi
kini benar-benar menyita perhatian, orang-orang saling berbisik berusaha
berspekulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi, sebagian lebih memilih diam
dan memperhatikan kejadian yang terjadi di bahwa tangga statsiun itu bak
memperhatikan sebuah sinetron dalam televisi, tak ada satu orangpun yang berani
menjadi penengah diantara kekacawan tersebut, karena mereka yakin ini bukan
masalah yang pada umumnya terjadi disetatsiun.
“Sungguh aku tidak
paham apa maksudmu” Galuh terdengar merintih berusaha menahan rasa sakit.
”Stop Rama ! bukan
Galuh yang salah tapi aku” Icha berusaha mengendalikan suasana, air matanya
sudah tidak terbentung lagi, matanya menatap Iba keadaan Galuh yang tergeletak
tak berdaya.
“Ouh yah, kau membela
kekasih mu. Yah…ya…ya… tidak ada satu orangpun didunia ini yang rela melihat
kekasihnya disakiti”
“STOP kakak” Sebuah
suara menghentikan Rama ketika hendak melemparkan tamparan kearah ICha.
“Wike, kenapa kau masih
berada disini?” Rama nampak tak percaya, padahal sebelumya dia sudah yakin
betul bahwa wike sudah keluar dari statisun.
“Seorang ibu memberitau
ku bahwa orang yang tadi berbicara dengan ku di kereta sedang terlibat
perkelahian”
ICha berlari kearah
galuh dan bergegas membantunya untuk bangkit dan segera melarikan diri,
keberadaan Wike baginya semakin memperburuk suasana. Tapi galuh dengan cepat
melepaskan tangan ICha.
“Sudah saatnya kita
akhiri semua ini”
Wike melirik kearah
galuh, tubuhnya gemetar ketika melihat galuh bersimpah darah. “Aku sudah
mengakhirinya kak Galuh, aku akan bergegas membawa kak Rama pergi dari sini dan
kau Icha” wike tak meneruskan perkataannya, dia memilih untuk terlebih dulu
menatap perempuan berkerudung itu “Aku sudah merelakan ini semua dan aku harap
kau tidak menyia-nyiakannya”.
“Maafkan kakak” Ujar
Rama menyesali apa yang telah diperbuatnya justeru membuat Wike semakin
menderita.
“Tidak ada yang salah
dan tak perlu meminta maaf, lebih baik kita pergi”
“Tidak ada yang boleh
pergi dari sini!” Galuh berteriak
“Sudah lakh kak, kakak
mau di tinju lagi ? lebih baik kita pergi dari sini”
“Diam !!!” Galuh
membentak Icha “Seharusnya kau tidak pernah menyembunyikan apapun dari aku,
selama ini aku cukup berusaha bersikap sesuai dengan apa yang kau inginkan”
“Aku tidak pernah
menyembunyikan apapun dari kakak”
Galuh berjalan
mendekati Wike “Kau menyembunyikan perempuan ini dari ku, kau menyembunyikan
kisah sebelum kejadian itu menimpah ku”. Galuh menggengam erat tangan Wike yang
hendak pergi “Jangan pernah berusaha mendustai takdir”.
“Aku tidak berusaha
mendustai takdir, tapi aku berusaha membuat takdir ini menjadi lebih ringan dan
tidak mengikat”
“Kau salah, takdir ini
sudah terikat sebelum kita terlahir kedunia. Tak ada yang bisa mengubah takdir”
“Wanita yang selama lima tahun ini berada disampingmu sudah mengubah takdir mu” Rama kembali melibatkan diri dalam percakapan, dengan cepat dia segera menarik tangan wike dan membawanya pergi.
“Wanita yang selama lima tahun ini berada disampingmu sudah mengubah takdir mu” Rama kembali melibatkan diri dalam percakapan, dengan cepat dia segera menarik tangan wike dan membawanya pergi.
““Gemuruh halilintar
tanpa hujan,sementara panas hadir tanpa percikan api batu kerikil terdampar di
tengah jalan karang kering tanpa tamparan garam. Waktu… menghujat alam
mengguncang perasaan tak perlu kau ucapkan cukup dengan isyarat hati dan ketika
kedua bola mata itu bertemu membentuk sebuah rasa, itulah cinta yang
sesungguhnya” Galuh mengucapkan sebuah kalimat yang membuat wike terpaksa
menghentikan langkahnya dan kembali berbalik arah mendekati Galuh, mata wike seolah
menuntut dan menghujat membuat galuh merasa bahwa dirinya benar-benar telah
berbuat dosa besar kepada peremupan yang mungkin merupakan bagian dari masa
lalunya.
“Jangan pernah
mengucapkan kalimat itu jika kau tidak mengetahui maknanya”
“Selama ini aku mungkin
berperan sebagai kekasih ICha, tapi ada lubang yang sepertinya sudah terisi
oleh orang lain sebelum Icha mengisinya, ada sebuah lubang yang sudah
mengganggu tidur ku selama ini, lubang itu seolah menuntut ku untuk terus
berusaha mencari pemiliknya”
“Tidak ada orang yang
berhak mengisi hati mu selain aku kak” Icha berteriak kencang, sekencang suara
kereta api yang akan segera berhenti.
Orang-orang yang sejak
tadi memperhatikan pertikayan antara empat anak adam tersebut, nampak enggan
untuk meninggalkannya, walaupun demikan mereka harus segera bersiap-siap untuk
naik kedalam gerbong kereta yang akan segera berhenti karena kalau tidak mereka tidak akan mendapatkan kursi dan harus
merelakan diri untuk berdiri sepanjang perjalanan.
“AKhhhhhh” Semua orang
menjerit histeris ketika menyadari seseorang terjatuh keatas rel.
“Settttttt” Suara rem
kereta api yang berhenti mendadak
“Wike” Rama berteriak
dan bergegas loncat dari peron, Masinis yang mengemudikan kereta api nampak
syok tak percaya dengan apa yang terjadi dihadapanya, semua orang menangis
histeris. Sontak saja suasana statsiun menjadi riuh penuh ketegangan.
“Kita pergi dari sini
kak” Icha begegas menarik tangan Galuh, tubuhnya menggigil ketakutan.
“Pruk” Galuh menampar
Icha sekuat tenanga hingga jilbab yang digunakannya nyaris terbuka “Perempuan
bianap, apa yang sudah kau lakukan terhadap teman mu sendiri!”
Icha memeluk tubuh
Galuh sekuat tenaga, berusaha menahan galuh yang hendak turun dari peron “Ayo
pergi kak, aku tidak mau kakak kembali kepangkuan Wike, aku tidak mau
kehilangan kakak”.
Galuh mendorong tubuh
Icha hingga terjatuh “Diam Kau”.
***
Wike menggerang pelan
saat merasakan tubuhnya kaku, kepalanya juga terasa sangat berat sekali, entah
apa yang terjadi setelah ICha mendorongnya. Atau jangan-jangan dirinya sudah
mati, dan kini dia sudah berada didimensi lain yang jauh dari orang-orang yang
sangat disayanginya.
“Apa yang terjadi pada
ku” Wike berusaha membuka kedua matanya, sebuah cahaya nyaris membuatnya tidak
bisa melihat, tapi cahaya itu cukup bisa membuatnya merasa lega dan tersadar
bahwa dirinya masih hidup.
“Kakak” Wike memanggil
seseorang yang sejak tadi berdiri resah di dekat jendela.
“Kau sudah sadar?”
Galuh nampak senang ketika menyadari wike sudah sadarkan diri, dengan cepat dia
bergegas menggenggam tangan wike.
“Kak Rama, aku sudah
sadar kenapa kakak masih berdiri didepan jendela ? Bukan segera menemuiku” Wike
berusaha melepaskan tanggan galuh, matanya masih tetap menatap Rama yang kini
sudah berebalik arah mendekat kearahnya.
“Jangan mencoba
mengubah takdir kembali wike, takdir sudah terbuka tak layak kau mengingkarinya
lagi” Rama menarik napas panjang, mengambil jeda sebelum dia memulai kembali
perkataanya “Bukan kau saja yang menderita dalam hal ini, Galuh justru menjadi
korban yang lebih menderita lagi, semua gara-gara perempuan gila itu”.
“Aku sudah berusaha
menerima semua ini”
“Lima tahun lalu,
sebuah kecelakaan menimpah ku. Aku kehilangan ingatan akan masa lalu ku” Galuh
berusaha menceritakan apa yang sebenarnnya terjadi.
“Tapi kau tidak
melupakan Icha”
Sepertinya
lebih baik aku pergi, biarkan kedua orang ini untuk berbicara dari hati ke hati
ouh jangan menjandi benalu Rama. Erang Rama dalam hati
kemudian bergegas untuk pergi tapi niatanya seperti sudah terbaca oleh wike
yang kemudian menghentikannya dan menyuruhnya untuk tetap berada di ruangan.
“Aku sendiri tidak tau
siapa sebenarnya ICha, orang yang pertama kali ada disampingku ketika
kecelakaan itu adalah dirinya, dia bilang seseorang menelepon dan memberitahu
kejadian itu kepadanya. Icha yang kemudian merawatku dan mejaga ku dengan baik,
pada saat itu dia bilang dia adalah kekasih ku, karena aku tidak bisa mengingat
masa lalu dan ketika icha membawa ku pulang dan ibuku bilang icha dalah
satu-satunya wanita yang pernah datang kerumah. Cukup untuk meyakinkanku bahwa
dia memang kekasih ku”
“Dan kakak cukup yakin
akan hal itu, itulah takdir yang sesungguhnya” suara Wike paruh, matanya nampak
berkaca-kaca menahan tangis yang hendak tumpah.
“Kenapa kau tidak
berusaha mencari ku jika memang kau mencintai ku Wike, jika apa yang dikatakan
Rama, kalau aku sudah berjanji untuk menikahimu dulu benar, seharusnya kau
datang untuk menagih janji itu kepada ku. Tapi nyatanya kau memilih untuk larut
dalam kesedihan dan tidak berusaha mencari ku”
Wike menggelangkan
kepala “Apa maksud kakak, kakak hendak berbalik menyalahkan ku. Setiap hari
selama setahun aku menghabiskan waktu untuk mencari kakak, keluarga kakak
bilang mereka juga tidak tahu menahu tentang keberadaan kakak, aku sudah
kehabisan akal untuk mencari kakak, ditempat kuliah kakak mereka bilang kakak
sudah berhenti. Bahkan orang-orang nyaris mengatakan bahwa kakak sudah mati,
ini yang membuat ku hampir gila”
“Kalau begitu kita
mulai semuanya dari awal wike, kakak yakin kakak mencintai mu. Kakak akan
berusah menebus semua kesalahan yang ICha perbuat kepada mu”
Wike menangis mendengar
apa yang dikatakan oleh Galuh “Sadar atau tidak jika kita meneruskan hubungan
kita, itu tidak akan berakhir dengan baik, kakak tau hati kakak sudah bukan milik ku lagi” Wike
tidak meneruskan kealimatnya, dia menarik napas panjang untuk berusaha
menyadari apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupannya, air matanya sudah
tidak bisa tebendung lagi “Kakak memang mencintai Icha”.
“Apa yang kau katakana
Wike, kakak mencintai mu. Selama ini kakak hanya merasa memiliki hutang yang
besar kepada Icha, sejak kakak bertemu dengan mu lagi ada perasaan lain yang
sepertinya sudah lama kakak nantikan”
“Tapi kakak rela
menebus segala kesalahan ICha kepada ku! Itu cukup membuktikan bahwa takdir
memang tidak berpihak kepada ku”
Rama berdiri tegak ,
hatinya merasa tidak enak mendengar percakapan Galuh dan wike, keadaan ruangan
tempat wike dirawat serasa seperti penjara yang siap menyeretnya.
“Grekk” seseorang
membuka pintu, tidak berapa lama kemudian ICha masuk dengan keadaan tangan
sudah terborgol ditemani dua orang polisi. Wike nampak syok melihat apa yang
terjadi dengan ICha, sementara galuh justru tak berani melihat keadaan wanita
berkerudung yang ternyata sudah menjadi racun yang menyerupai madu dalam
kehidupannya.
“Apa yang terjadi” Wike
berusaha bangkit dari tempat tidurnya tapi enah mengapa tubuhnya serasa berat,
kedua kakinya tidak bisa digerakan sama sekali.
Rama gergeas meraih
wike yang hampir terjatuh “Kaki mu terkena roda kreta, dan dokter bilang kamu
mengalami…” Rama mengehentikan kalimatnya, menatap Wike dengan tatapan Iba.
“Aku Lumpuh” Wike
berusaha mencari jawabannya sendiri
“Tapi tanang, dokter
bilang ini hanya sementara. Kemungkinan kamu bisa jalan lagi sangat besar wike”
Galuh berusaha untuk menenangkan dan memeluk tubuh wike.
Kini wike sudah tidak
bisa lagi mengeluarkan air matanya dengan kencang dia menggit bibirnya hingga
berdarah “Lepaskan Perempuan itu pak, dia tidak bersalah”.
Semua saling pandang,
mereka nyaris tak percaya dengan apa yang dikatakan wike, bagai mana mungkin,
wike masih bisa memaafkan perempuan yang sudah membuat hidupnya hancur dan
nyaris mati.
“Maafkan aku Wike” Icha
menjatuhkan diri menyesali perbuatannya
“Tak ada yang salah,
takdir sudah berkata demikian. Jika kita saling menyalahkan sama dengan kita
menyalahkan takdir. Tuhan tidak mungkin pernah membuat skema yang salah dalam
hidup ini, aku tidak menyalahkan mu wike. Kau berlaku demikian untuk
memperjuangkan cintamu terhadap kak Galuh. Jika memang kau mencintai kak Galuh
ambilah ! selama ini aku cukup iklas menerima kepergiannya, kehilangan kak
Galuh dalam hidupku sudah sedikit terbiasa walaupun itu sangat menyakitkan,
tapi kalau kamu kehilangan kak galuh … aku tidak akan ada dua Wike yang
menderita di dunia ini. Cukup aku saja!”
“Tapi” Galuh berusaha
mencegah wike
Wike menatap mata
galuh, senyumnya yang manis, bibirnya yang tipis, halisnya yang tebal,
rambutnya yang sedikit ikal dan tatapanya yang tajam, dan perasaan yang wike
alami setiap memandang wajah galuh masih sama persisi seperti dulu “Aku baru
menyadari, perasaan cinta yang sesungguhnya. Terdengar mungkin klies tapi
antara cinta dan keinginan untuk memiliki seharusnya bisa aku bedakan, aku
masih bisa mencintai kakak sekalipun tidak bisa memiliki”
Galuh mengecup kening
wike, menyadari betapa begitu berharganya sosok wike didalam kehidupan
terdahulu, perlahan tapi pasti ingatan akan bayangan masa lalu mulai membentuk
garis-garis kecil dalam pikirannya. Wanita cantik yang selalu mengiriminya
puisi, gadis kecil yang setia menunggunya di gerbang sekolah, perlahan tapi
pasti gadis yang selalu hadir dalam ingatannya itu kini nampak memperlihatkan
wajah aslinya.
“Apa yang kau inginkan
dari ku “ Ucap galuh sambil memeluk erat wike
“Menikahlah dengan
Icha” Suara wike terdengar berat ditelinga galuh, bahkan Rama nyaris menjatuhkan
dirinya karena masih tak percaya bagai mana mungkin wanita yang mirip chelse
Olivia itu rela memberika kekasihnya pada seorang teman yang sudah
menghianatinya hingga lima tahun.
“Baik Jika itu mau mu !
Besok kakak akan menikahi Icha” Galuh menimpali seraya melepaskan pelukannya,
kemudian dia bergegas mendekati Icha yang masih tersimpuh dilantai “Bangunlakh
! bersiaplah untuk besok, kakak akan menikahi mu”.
****
Suasana Ruangan
perawatan kecil di RS Harapan disulap sedemikian rupa, rangkaian bunga diberbagai
sudut ruangan nampak terlihat sangat cantik, Wike masih menyibukan diri membaca
sebuah majalah, tidak ada yang bisa dialakukan selain berbaring. Rama nampak
terlihat sibuk menyiapkan sebuah meja kecil yang dihiasi dengan taplak bermotif
bunga mawar. Sementara di sudut lain seorang perias kecantikan nampak asik
mendandani Icha untuk dijadikan ratu sehari. Seorang suster nampak sedang
bercakap-cakap dengan dokter dan satu orang office boy. Ketiganya sudah bersiap
untuk menjadi saksi dalam pernikahan ini.
“Kak sudah menghubungi
keluarga Icha?”
“Sudah, Insyaallah
kakaknya akan datang sebagai wali”
“Hei Cha, kau dengar
kakak mu akan datang. Jadi kau tenang saja jangan resah seperti itu” Wike
nampak menggoda Icha
“Oyah orang tua mu juga
akan hadir wike, sebenarnya sih hari ini mereka ingin menjenguk mu. Tapi
sekalian saja lakh”
“Bagus kalau begitu
bukankah makin banyak yang hadir, makin banyak juga doa untuk mereka”
“Assalamualaikum”
Semua yang ada
diruangan itu nyaris secara bersamaan menatap kearah orang yang mengucapkan
salam. Galuh nampak berwibawa dengan baju koko putih dan peci hitam yang
dikenakannya, dibelakangnya nampak kakak Icha dan kedua orang tua Wike yang
juga turut melemparkan senyuman.
“Nampaknya Mempelai
Pria sudah datang, kau tau kak sejak tadi Icha resah menunggu mu!” Wike
menggoda, kemudian melemparkan tawanya . semua orang yang hadir kini
melemparkan pandangan mereka kearah Wike, Kedua orang tua wike nyaris saling
pandang menatap tak pecaya bagai mana anaknya bisa memiliki kekuatan yang
begitu hebat, mereka tau selama ini wike mencintai galuh.
“Apakah acara bisa
segera dimulai” seorang laki-laki berkumis mengingatkan, dia adalah penghulu
yang akan menikahkan Galuh dengan ICha.
Tangan galuh sudah
menggenggam tangan penghulu itu, Icha dengan manis duduk disamping galuh,
sementara Rama memilih untuk berdiri didekat jendela. Wike nyaris tidak pernah
melepaskan pandangan matanya dari galuh, hal itu yang membuat kedua orang
tuanya nyaris meneteskan air mata.
“Saya nikahkan dan
kawinkan saudara Galuh dengan Icha kholilasari bin Muhamad Ichsan dengan
maskawin seperangkat alat solat dibayar tunai”
Perkataan penghulu itu
nyaris membuat perasaan wike hancur, matanya mulai berlinang air mata,
ingatannya kembali terbawa kemasa SMA diamana dia dan Galuh menjalin hubungan.
Lima tahun lalu sebelum Galuh lulus dia berjanji akan datang untuk
mempersuntingnya, sebuah kalung dengan liontin jam diberikan sebagai tanda
keseriusan, tapi lima tahun berlalu yang kini terjadi justru dia harus menjadi
saksi dipernikahan kekasihnya itu.
“kalungku” Wike baru
menyadari bahwa kalung yang dikenakannya hilang, perlahan dia melirik kearah
rama dan kemudian menganggukan kepala, berusaha meyakinkan perasaannya.
“Aku tidak bisa menikah
dengan kamu kak!”
“Apa yang kau katakana
Icha, aku sudah akan menikahi mu!”
“Kakak, selama kakak
kehilangan ingatan kakak, setiap malam nama Wike selalu kakak sebut. Walaupun
kakak tidak mengingat wike, tapi hati kakak untuk wike. Aku tidak ingin menikah
dengan laki-laki yang menyebutkan nama perempuan lain ketika dia sedang
tertidur disampingku, dan perkataan wike benar. Cinta dan keinginan memiliki
itu berbeda, selama ini aku ingi memiliki kakak bukan mencintai kakak,
menikahlah dengan wike”
Semua kini manatap
kearah wike, hal ini membuat wike salah tingkah . Rama nampak tertawa melihat
tingkah laku wike, sementara itu galuh sudah bangkit dan mendekati wike.
“Lihat ini” Galuh
memperlihatkan sebuah kalung yang digenggamnya.
“Dari mana kakak
mendapatkan kalung itu”
“Takdir yang
membawanya kepada ku!”
“Lucu sekali apa kau
dapat melihat wujud takdir, ketika dia menemuimu dan memberikan kalung itu”
Wike tertawa , kedua bola matanya masih tak henti mengeluarkan air mata. Tapi
kali ini air mata yang keluar terasa sangat berharga dan membuat hatinya serasa
ringan dari beban hidup yang selalu menghantui.
“Kau bodoh !” Galuh
memukul kepala wike dengan sepontan
“OUh… pada saat hilang
ingatanpun kebiasaan buruk kakak memukul kepala orang nampaknya masih tetap
teringat, lucu sekali”
Semua yang hadir
serempak tertawa melihat tingkah laku wike dan galuh.
The
End
Dilarang keras meng copy tanpa seijin pembuat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar