MALINGPING
1989
Endi berlari sepanjang pantai. Sesekali di
punggutnya kerang-kerang kecil yang terdampar terbawa arus ombak dan
melemparkannya kembali ketengah lautan, baginya kerang-kerang kecil itu punya
hak yang sama untuk hidup lebih lama dan bianab sekali ombak-ombak yang rela
menyeretnya kedaratan, sementara seharusnya dia paham daratan bukan tempat yang
baik untuk kerang-kerang itu hidup. Bahkan bukan hanya itu sebagian dari
manusia menganggap kehidupan di daratan bumi sangat tidak nikmat, banyak
permasalahan dan banyak hambatan sehingga mereka lebih memilih menjatuhkan diri
kelautan lepas dan tidak kembali lagi, mereka hanya menyisakan kisah klasik
kehidupannya di daratan yang mereka anggap kejam.
“Akh...” Endi berteriak kencang, melepaskan beban hidup yang
selama ini serasa membuatnya lebih tua dari usia yang sedang dilaluinya. Suara
teriakan itu menyatu dengan debur ombak pantai yang seolah membentuk irama dan
nada-nada baru dibumi ini.
Suasana pantai sore ini cukup sepi, padahal biasanya setiap
minggu sore suasana pantai masih dipenuhi para penggunjung dari kota yang
menghabiskan akhir minggunya. Sebenarnya Endi cukup lelah menjalani
kehidupannya sebagai penjual Leumeung ( Makanan
Kas Malngping, yang terbuat dari nasi ketan yang dibungkus daun pisang lalu
dibakar ) di pesisir pantai pulau manuk setiap hari setelah pulang sekolah.
“Heh, Anak pesisir dagangan mu habis yah” seorang menepuk
pundak Endi
“Mutiara!” Endi terlihat syok ketika menyadari orang itu
adalah Tiara.
Mutiara Aswarandana seorang penulis asal Jogjakarta yang
sedang menghabiskan waktu berliburnya di Malingping, sudah hampir satu bulan
gadis berkacamata itu rajin menyambangi pulau manuk setiap sore sebelum sang
penguasa siang menjatuhkan diri pada lidah biru raja lautan. Biasanya gadis itu
akan naik pada sebuah batang pohon yang menjulang kelautan dan duduk santai
diatasnya, tangannya akan bergerak membentuk sebuah gerakan kompleks yang
sangat menarik untuk dinikmati, penuh dinamika dan estetika tinggi itu yang
endi yakini sekalipun dia tak mengerti maksud dari gerakan tangan-tangan kecil
gadis berambut pirang itu.
“Aku bukan setan anak pesisir, kenapa kau menatap ku dengan
exspresi takut seperti itu?” Tanya tiara setelah menyadari exspresi Endi yang
seolah syok melihat kehadirannya.
“Auh tidak seperti itu, aku sedikit heran saja dengan mu”
Endi berusaha memberanikan diri untuk bercakap dengan gadis berkulit putih dan
berpengawakan tinggi itu, karena biasanya endi hanya menyapa Tiara dan sekedar
menanyakan keadaannya setiap kali tiara datang untuk memulai tindakan konyolnya
duduk dibatang pohon tua paforitnya.
Tiara melangkahkan kakinya mendekati lautan, ombak pantai
yang sesekali datang bak manusia-manusia kecil yang sedang beradu kecepatan
berlari, kini setiap kali mereka datang seolah mereka bersiap menarik kaki
mungil yang memang sengaja disiapkan untuk menyambutnya. Sementara Endi lebih
memilih untuk medekati sebuah karang besar dan duduk santai diatasnya,
sekalipun dia menyadari duduk diatas karang bukan suatu hal yang nikmat, karena
sesekali karang-karang itu akan menusuk tubuhnya dan itu sangat menyakitkan.
“Kenapa kau heran dengan ku Anak pesisir, seharusnya yang
heran itu adalah aku” Suara Tiara terdengar samar karena deburan ombak, tapi
beruntung Endi dapat menangkap perkataan itu.
“Setiap sore kau menghabiskan waktumu untuk duduk di pohon
tua itu, padahal pohon itu aku pikir sangat berbahaya dan untuk apa kau
melakukan gerakan-gerakan aneh diatas pohon itu. Itu semua membuatku sangat
penasaran dengan mu” Ucap Endi dengan suara sedikit keras, karena dia tidak
ingin perkataannya hilang terbawa debur ombak yang kali ini semakin kencang.
“Haaa...Haha” Tiara tertawa keras
Endi terdiam, baginya sosok perempuan muda yang ada
dihadapannya itu cukup membuat hatinya
penasaran. Karena selain cantik sosok itu memiliki banyak misteri yang disimpan
dibalik pembawaannya yang dingin.
“Seharusnya aku yang heran kepadamu anak pesisir, sejak satu
bulan ini aku memang sering berjumpa dengan mu, tapi aku tak pernah bilang
bahwa namaku Mutiara! Tapi anehnya setiap kali kita berjumpa kau selalu
menyapaku dengan sebutan mutiara, dari mana kau tau nama ku itu. Sementara
dapat dipastikan bahwa di sekitar pulau manuk ini tak ada yang tau namaku
Mutiara, mereka selalu menyebutku dengan sebutan Adinda. Aku suka nama baru ku
itu”
Perkataan tiara membuat endi salah tingkah, memang aneh
rasanya selama ini endi selalu tertarik dengan apa yang dilakukan gadis Jogja
tersebut, bagi Endi gadis itu seperti memilik magnet yang memaksanya untuk
mendekat dan mencari tau setiap kisah yang tersembunyi dibalik sosok yang tak
pernah melepaskan senyum dari bibirnya yang tipis.
“Aku tau nama mu dari Mbah Iyut, Pemilik warung nasi biasa
kau makan dimalingping. Bukankah kau tinggal bersamanya” Suara Endi terdengar
ragu, sebenarnya dia malu mengatakan itu semua karena dengan demikian tiara
akan tau bahwa selama ini dia sering menyelidikinya.
“Yah, aku tau itu ! si Mbah bilang kau selalu menanyakan ku.
Apa yang ingin kau ketahui tentang ku, setertarik itukah dirimu pada ku?” Ucap
tiara sedikit menyelidiki
“Sejujurnya aku heran, sekalipun Mbah bilang kau seorang
penulis yang sedang mencari Inspirasi, tapi aku pikir sangat tidak wajar jika
kau merelakan waktu sekolahmu hanya untuk mencari sebuah inspirasi menulis,
bukankah inspirasi itu bisa hadir dimana saja? Lalu untuk apa kau jauh-jauh
kemari” Endi memberanikan diri
Tiara terdiam, ekspresi wajahnya berubah tegang. Tiba-tiba
dia berteriak kencang dan berlari ketengah lautan melawan ombak, tentu hal itu
membuat Endi bingung dan merasa bersalah, terlebih ketika Endi menyadari bahwa
tiara menangis. Endi tak mengerti apa yang salah dari pertanyaannya.
“Jangan bertindak bodoh Mutiara” Endi berteriak keras, dia
segera bangkit ketika melihat gadis berkacamata itu sudah jauh berada ditengah
lautan dengan cepat endi segera berlali menerobos ombak untuk segera
menggapainya.
Tiara semakin berlari kencang ketengah lautan ketika
mengetahui endi mengejarnya. Baginya pertanyaan endi membuat segala masalalunya
kembali hadir dan itu cukup untuk menjadi alasan baginya untuk menjatuhkan diri
menjadi makanan sang raja biru.
“Oke, aku minta maaf kalau pertanyaan ku itu salah. Tapi
tolong stop ! kamu hentikan tindakan konyol yang akan kamu lakukan...”
“Anak pesisir, untuk apa kau memperdulikan ku, untuk apa?
Aku ini bukan siapa-siapa kamu dan aku bukan siapa-siapa di muka bumi ini” ucap
tiara diantara tangisnya.
“Mutiara”
“STOP ! Jangan pernah kau sebut nama itu, pemilik nama itu
sudah mati, ouh..tidak-tidak lebih tepatnya akan segera mati!”
“Silahkan jika kau ingin mati, tapi ketahuilah kematian mu
hanya menambah masalah bukan menghilangkan masalah”
“Masalah ? Yah aku memang biang dari segala masalah dibumi
ini” suara tiara terdengar sangat lemah.
“Tiara...!!!” Endi berteriak kencang ketika menyadari gadis
misterius itu tiba-tiba hilang terbawa lidah sang raja biru.
***
PULAU MANUK 2011
Seorang laki-laki tua nampak asik memainkan suling bambunya
diatas pohon tua yang batangnya menjulang ketengah lautan. Usianya yang sudah
berkepala empat memang sudah tak selayaknya lagi melakukan tindakan yang bisa
menyelakai dirinya, terlebih sejak tadi pagi hujan tak pernah berhenti
mengguyur pantai kecil dengan sejuta pesona dan kisah yang tersimpan
didalamnya.
“Akhhh...” Sebuah teriakan membuat laki-laki itu
menghentikan permainan suling bambunya, dengan cepat laki-laki tua itu
melemparkan pandangannya kearah pusat suara yang tak lain berasal dari seorang
wanita muda yang berdiri diatas perahu layar milik para nelayan yang singgah
ditepian.
Endi laki-laki tua yang memiliki kisah
besar dalam kehidupannya dimasa lampau dan pesisir pantai pulau manuk ini
menjadi saksi bisu dimana seorang penulis muda asal jogja mengakhiri hidupnya
dan menenggelamkan segala misteri yang ada pada dirinya. Peristiwa menghilangnya
mutiara membuat segala kehidupannya seolah berubah, sosok Tiara tak pernah
hilang dari ingatannya. Sejak pertama berjumpa endi memang sudah menyimpan
ketertarikannya pada gadis itu, pertemuan manis dengan sebuah senyuman hangat
dari gadis yang ternyata tak memiliki kehidupan yang membuatnya hangat dan
betah tinggal dibumi ini, perpisahanpun justru berakhir teragis.
“Mutiara” Endi nampak syok ketika dia mendekati perempuan
yang telah menghentikan permainan suling bambunya, perempuan itu benar-benar
menghidupkan kembali sosok mutiara, rambutnya yang pirang, badannya yang putih
dengan perawakan tinggi dan kacamata yang dikenakannya.
“Bapak memanggil saya?” Ucap perempuan itu ragu, sambil
turun dari perahu kecil dan mendekat kearah Endi.
“Kau mutiara?” Endi memastikan
“Yah...Dari mana bapak tau nama saya?”
“Ya Tuhan, Benarkah
ini dia?” Endi
bertanya pada diri sendiri, setelah wanita muda ini kini benar-benar ada
dihadapannya, senyum wanita muda itu benar-benar membuat perasaan hangat sama
seperti peristiwa 22 Tahun lalu ketika penulis muda asal jogja memberikan
senyuman pertamanya saat pertama kali berjumpa. Tatapan mata gadis muda itu
juga tatapan milik mutiara yang setiap kali orang melihat tatapan itu orang
tersebut seperti mendapat magnet besar yang membuat semua orang terterik untuk
memasuki dunia peminpinnya.
“Dari mana bapak tau namaku, sementara aku baru sampai
disini tadi! Dan saya pikir saya belum pernah bertemu bapak sebelumnya”
Endi terdiam, matanya menatap haru wanita muda yang berdiri
tegap dihadapannya. Endi mulai menyadari bahwa gadis muda itu tak mungkin tiara
yang dimaksudnya, karena jika itu tiara yang tentu keadaanya tiadak akan
seperti itu, gadis dihadapannya masih muda sementara tiara seharusnya penulis
berkacamata itu sama seperti dirinya sudah tua.
“Bapak salah orang nak...” Endi terlihat kecewa dan segera
membalikan arah badanya, pergi menjauh dari gadis muda yang sudah kembali
membuka luka hidupnya.
“Tunggu bapak pesisir !” gadis itu menghentikan langkah
endi.
“Bapak pesisir?” Endi terlihat syok mendengar sebutan itu.
“Kenapa kau menatap saya dengan exspresi takut seperti itu?,
Bapak terlihat heran dengan ku tapi kenapa bapak heran dengan ku Bapak pesisir,
seharusnya yang heran itu adalah aku” Suara gadis itu terdengar lembut
Endi menitiskan air mata setelah mendengar perkataan gadis
itu, hatinya benar-benar bergetar ketika mengingat bahwa perkataan itu sama
persis dengan yang diucapkan tiara sebelum dia mengakhiri hidupnya.
“Nama ku memang mutiara ! Mutiara Ekacipta tepatnya , bapak
bisa panggil aku Mutia”
“Ouh” suara endi terdengar dingin dan kecewa.
“Mutia cepat kemari, ada kabar baik untuk mu sayang” Seorang
pria seusia endi melibatkan pembicaraan dan mendekat kearah mutiar.
“Aouuuh Ayah, berita apa sih!” Suara mutia terdengar manja,
sementara endi nampaknya cukup tau diri untuk tidak ikut campur urusan keluarga
mereka, setelah menyapa ayah dari mutia endi pamit untuk pergi, dan dia kembali
menelusuri pesisir pulau manuk yang penuh misteri.
****
Endi berjalan mondar-madir dirumah kecilnya
yang terletak disudut keramaian pasar malingping, sekalipun setiap hari
rumahnya tak pernah sepi karena dia juga membuka warung Leumeung di teras
rumahnya dan warungnya tidak pernah sepi pengunjung, tapi endi merasakan sebuah
kesepian hidup yang tidak bisa dilukisan. Semenjak kematian Tiara endi merasa
ada bagian dari dirinya yang hilang, bagian dimana membuat sebagian hidupnya
terasa hampa dan membuat dia berubah menjadi seorang yang seolah memiliki dunia
sendiri, bahkan bagian itu menguatkan tekadnya untuk terus menghidupkan sosok
Mutiara dalam kehidupannya, bagian itu adalah hati yang didalamnya terdapat
sebuah perasaan yang orang sebut dengan istilah CINTA, 22 Tahun hidup dalam
kesendirian cukup membuat Endi menyadari bahwa dia memang jatuh cinta sejak
pandangan pertama pada penulis asal jogja tersebut, dan perasaan itu yang
menariknya dulu untuk menyelidiki sosok berkacamata yang sampai saat ini
menyimpan misteri.
“Tadi ada seorang
laki-laki yang mencariku dan menanyakan sosok Mutiara? siapa laki-laki itu ?
dan kenapa dia mencari tiara?” Ribuan pertanyaan tumbuh dalam pemikiran
endi ketika mengetahui ada orang yang mencari info tentang tiara, setelah 22
tahun lamanya.
“Asalamuallaikum..” seseorang mengetuk pintu
“Waalaikumsalam” Endi segera membuka pintu
“Bapak Pesisir...”
Endi nampak kaget ketika membuka pintu rumahnya dan melihak
sosok mutia berdiri bersama ayahnya, mutiapun nampak terlihat memiliki exspresi
yang sama dengan endi.
“Masuklah” Suara endi terdengar gugup
Kedua orang itu tanpa banyak bicara mengikuti apa yang endi
perintahkan, keduanya segera mengambil posisi duduk dikursi bambu tua yang
reyot. Sementara endi dengan cepat segera mengambil Teh hangat,satu piring Leumeung potong dan satu mangkuk semur daging
ayam yang kemudian diletakan dimeja kecil dihadapan para tamunya itu.
“Lebih baik bicarakan langsung saja, sudah cukup lama saya
menyimpan perasaan penasaran terhadap sososk mutiara” Suara endi terdengar
sedikit kalut
“Jadi benar bapak mengenal mamah saya” Mutia terlihat
antusias
“Apa.. kamu anak dari Tiara ? Penulis muda asal jogja,
bukankah pada saat itu dia masih lajang” Endi terlihat syok mendengar ucapan
Mutia
“Pada saat itu Tiara memang masih sekolah tepatnya kelas
tiga SMA ! oyah perkenalkan saya Bagas ayah dari Mutia”
“Endi” suara endi kali ini nampak putus asa
“Baiklah” Bagas nampak ingin segera melanjutkan perkataanya,
wajahnya pucat terlihat jelas ada sebuah penyesalan.
“Tiara adalah teman SMA ku dulu, sosoknya yang periang dan
penuh semangat membuat aku meraskan sebuah perasaan yang membuat segala hariku
seolah terhantui oleh sosoknya, tapi sayangnya perasaan itu tak pernah
terbalaskan oleh Tiara. Berulang kali aku mengatakan cinta, berulang kali itu
dia dengan tegas menolak ku, tanpa sedikitpun memberikan kesempatan untuk aku
memasuki dunianya dan aku pikir itu sangat kejam bagiku. Apalagi setelah
mengetahui bahwa Tiara lebih memilih Doni yang tak lain adalah musuh ku,
kedekatannya dengan Doni membuat ku sakit. Setiap hari mereka bersama setiap
hari itu pula hidupku serasa dineraka. Aku sadar Doni memang sosok yang layak
dicintai, apalagi mereka memiliki hobi yang sama yaitu menulis, tentu kau tau
kalau tiara suka menulis...” Bagas menghentikan ceritaya, untuk menarik napas
sejenak dan meminum teh hangat.
“Lalu” Endi nampak menarik bagas untuk segera menceritakan
kisah masa lalu gadis misterius yang dicintainya.
“Aku tidak membiarkan kisah cinta mereka berlangsung lama,
sebulan setelah mereka berdua berhasil menerbitkan hasil karya buah tangan
mereka. Aku menyusun rencana untuk membuhun Doni dengan harapan setelah
kematian doni dia akan menerimaku”
“Kenapa ayah tidak pernah menceritakan tentang doni
kepadaku” Mutia terlihat kesal, sejak tadi dia tidak berhenti
menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Terlalu sakit untuk membayangkan sosok Doni, yang kemudian
ayah singkirkan dengan cara menabrak lari dia. Tapi ternyata kematian Doni
bukan membuat Tiara mendekat kepada ayah, justru membuat dia semakin jauh dan
mengubah dirinya menjadi sosok pendiam yang sangat menyebalkan. Karena perasaan
cinta ayah yang sudah tidak bisa dipendam lagi akhirnya ayah memutuskan untuk
memerkosa ibumu sayang”
“Pluk” Endi menampar wajah Bagas
“Aku tau kau kesal, dan aku tau kau juga mencintai sosok
mutiara. Itu yang nenek tua pemilik warung sebrang jalan bilang alasan kenapa
sampai saat ini kau tidak menikah. Sekalipun aku tak tau apa yang terjadi
karena perkataan Mbah iyut tidak menceritakan sejauh mana hubungan mu dengan
tiara dan kenapa kalian tidak menikah!” Ujar Bagas terlihat ragu-ragu
“Untuk apa kau menanyakan hal itu kepadaku lebih baik kau
selesaikan ceritamu”
Huh.. Bagas menarik napas panjang, kemudian melanjutkan
ceritanya “Ternyata akibat tindakan gilaku itu, Tiara hamil pihak sekolah
mengeluarkannya. Dikeluarkannya tiara disekolah membuat Ayahnya terkena
serangan jantung terlebih setelah dia mengetahui anaknya tersebut dikeluarkan
karena hamil, kakek mu kemudian meninggal sayang” Suara bagas terdengar paruh,
kedua bola matanyapun terlihat berlinang air mata.
“Ayah terlalu menyimpan dusta banyak kepadaku”
Bagas kembali menarik napas dalam-dalam, didalam dirinya
hadir sebuah ketakutan besar akan dosa-dosa yang telah dia lakukan. Terlebih
ketika melihat wajah anaknya yang begitu mirip gadis berkacamata yang dia
sakiti dulu, sosok itu seolah kembali hadir menatap penuh kebencian. Ketakutan
itu semakin bertambah jika membayangkan bagaimana anaknya nanti jika
membencinya setelah mengetahui apa yang sudah dia lakukan kepada ibunya.
“Tidak berapa lama ibumu melahirkan bayi mungil, tentu kau
tau mutia bayi kecil itu adalah kamu. Setelah melahirkanpun ibu mu bersih keras
menolak pinangan ayah padahal ayah sangat mencintainya terlebih setelah kelahiranmu
cinta ayah semakin besar kepada kalian berdua. Karena tidak bisa memiliki
kalian berdua ayah memutuskan untuk mengambil kamu dari tangannya, suatu malam
ayah menculik kamu sayang, namun tiba-tibak nenek mu melihat kejadian itu,
karena panik ayah kemudian memukul nenek mu dengan batu hingga meninggal. Pada
saat itu ayah benar-benar panik tak tau apa yang harus ayah lakukan”
“Itu hal tergila yang pernah aku dengar” Tangis mutia kali
ini pecah, selama ini bagas hanya menceritakan bahwa ibunya meninggalkan dia
sejak kecil lalu pergi begitu saja dengan alasan mencari ketenangan ke pesisir
lebak selatan namun tidak pernah kembali lagi.
“Kepergian nenek mu, membuat ibumu terpukul dan memutuskan
untuk pergi meninggalkan jogja, sejak saat itu dia tidak pernah kembali lagi
...”
***
Suasana
malam dipesisir pantai nampak gelap gulita, ditengah lautan sinar-sinah kecil
menyala dari perahu kayu para nelayan yang sedang bergulat melawan kehidupan.
Sejak sore para nelayan itu sudah mulai berangkat padahal angin kali ini cukup
kencang dan ombaknya cukup tinggi, tapi bagi para nelayan keadaan itu ibarat
sebuah dilema dalam kehidupan, dilema yang segera harus mereka akhiri karena
kalau tidak mereka tidak akan bisa hidup tenang.
Endi memandang pilu kearah laut lepas yang kini sudah tak
terlihat kebiruannya, yang ada hanya gelap dan sesekali angin datang menampar
wajahnya, tamparan yang membuat kedua bola matanya tertutup. Setelah mendengar
apa yang diceritakan Bagas hati endi serasa benar-benar hancur, andai saja dia
bisa menangis mungkin dia ingin sekencang-kencangnya berteriak dan menangis karena
wanita yang dia cintai ternyata hidup penuh derita. Sementara Mutia nampak
sudah tidak bisa menahan dukanya, suara tangisnya begitu terdengar menyayat
hati terlebih setelah endi menceritakan kejadian apa yang menimpah ibunya,
gadis muda itu nampak tak percaya dan menjerit sejadi-jadinya. Dilain sisi
Bagas lebih memlilih duduk diwarung bambu kecil ditepi pantai, secangkir kopi
hangat diminumnya penuh kenikmatan. Baginya tidak ada lagi beban hidup yang
disembunyikan, perasaannya begitu lepas seperti karang besar yang terbebas dari
hantaman ombak kencang.
“Inilakh kehidupan, mau tidak mau kau harus menerima
kenyataan ini mutia...” Endi melirik kearah mutia, berusaha melihat exspresi
gadis itu diantara kegelapan malam
“Aku tak menyangka bapak pesisir bahwa aku harus mengubur
harapan ku untuk bertemu dengan mamahku, padahal siang tadi aku begitu
bersemangat ketika mengetahui ada seorang yang mengenal mamah dan harapan bisa
memeluk mamah seolah begitu dekat” Suara Mutia terdengar lembut terbawa angin
malam.
Endi mengambil sebuah kerang kecil yang terhempas ombak dan
mendarat dikakinya, setelah memandang sejenak karang itu sekuat tenaga endi
melemparkannya kembali ketengah lautan.
“Jangan memanggilku dengan sebutan Bapak pesisir” Endi
berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya.
“Kenapa”
“Sebutan mu membuat ku mengingat kembali sosok ibu mu !
kenapa kalian berdua begitu mirip , kau seperti Tiara yang terlahir kembali”
“Aku beruntung jika demikian, setidaknya aku benar-benar
tidak kehilangan mamah ku”
“Kamu betul” Endi menganggukan kepalanya.
“Adinda, Turun dari pohon tua itu ini sudah malam dan ayah
pikir diusiamu yang berkepala empat melakukan tindakan konyol duduk termenung
di dahan tua yang hampir patah itu sudah tidak layak” seorang kakek tua
berteriak kencang, mengusik pembicaraan Endi dengan mutia. Kedunya dengan
serempak memandang kerah kakek itu, sementara kakek tua itu masih bersih keras
merayu seseorang yang duduk di batang pohon tua yang menjulang kelatuan.
“Sepertinya ada yang menarik dengan batang pohon yang
menjulang itu, Tadi siang aku juga melihat bapak duduk disitu sambil memainkan
suling . tadinya kau pikir bapak cukup gila melakukan tindakan tersebut, tapi
ternyata ada orang yang lebih gila melakukannya tengah malam”
“Heehehee.. ibumu yang mengajarkannya kepada ku, dulu setiap
sebelum matahari tenggelam dia akan duduk di pohon tersebut dan melakukan
gerakan yang sangat unik, kau ingin melihat seperti apa gerakannya?” Endi
terlihat antusias, baginya mengingat bagaimana tiara melakukan gerakan itu membuat
dirinya selalu ingin tertawa bahagia, walaupun pada akhirnya kebahagian itu
terkalahkan oleh perasaan sedih.
Endi mengikuti gerakan demi gerakan yang biasa dilihatnya
sebelum matahari menyerahkan diri pada kegelapan malam, gerakan dinamis yang
setiap kali orang melihatnya akan terpesona, tertawa, penuh tanda tanya.
“Dari mana kau mengetahui gerakan itu? Apa kau doni” Sebuah
suara menghentikan endi, suara yang sangat lembut dan terdengar penuh kesedihan
namun suara itu serasa tidak asing ditelinga endi.
“Adinda, apa lagi yang akan kau lakukan ? ayah harus segera
kembali kejakarta waktu liburan kita sudah habis” kakek tua itu kembali
berteriak ketika mengetahui anaknya yang tadi bertindak konyol kini kembali
membuatnya kesal.
“Nama ku Endi” Suara endi terdengar gugup ketika perempuan
itu menyebutkan nama Doni, pikirannya melayang apakan perempuan dihadapannya
itu adalah seseorang yang sangat dia rindukan.
“Maaf sepertinya aku salah orang” Perempuan itu terlihat
sedih dan segera membalikan badannya.
“Tunggu Mutiara, Kenapa kau pergi” Endi memberanikan diri
untuk memegang tangan perempuan itu dan menahannya.
“Mutiara” Mutia terlihat tak percaya
“Apa kau tak ingat aku mutiara? aku tau kau penulis jogja
yang waktu itu sering ku temui. Aku hapal betul suara mu dan aku ingat dulu kau
bilang nama mu adinda. Apa aku menggunakan nama itu sekarang” suara endi
benar-benar terdengat paruh
“Anak pesisir, itukah kau!”
Tanpa banyak bicara endi memeluk wanita itu, dia yakin bahwa
wanita yang berada dipelukannya itu adalah wanita yang telah mencuri hatinya.
Wanita yang sangat dia tunggu dan wanita yang selalu dinantinya setiap hadir
yang menjadi kekuatan dalam setiap nada-nada yang dimainkan lewar seruling
bambunya.
“Kau masih hidup mutiara, aku tak percaya bahwa aku akhirnya
akan berjumpa dengan mu. Aku tak percaya setelah 22 Tahun lamanya aku bisa....”
endi tak melanjutkan perkataannya
“Kenapa kau tidak menemuiku, melihat kau hanyut terbawa ombak. Itu cukup
membuat hidupku merasa bersalah dan selama 22 Tahun pula aku hidup dalam
ketakuatan..” Endi melepaskan pelukannya.
“Maafkan aku anak pesisir, aku selalu merasa bersalah dengan
tindakan mu kepada ku. Tapi aku tak ingin membuat mu bersedih dan membebankan
mu. Seorang menyelamatkan ku dan mengangkatku menjadi putrinya, laki-laki
berhati mulya itu merawatku penuh cinta dan membuat semangat ku untuk hidup
bangkit kembali”
“Aku tau apa yang terjadi dengan kehidupa mu mutiara dan aku
tau begapa menderitanya diri mu”
“Sejak dulu memang kau tau tentang diri ku dan tolong jangan
menyebutku dengan nama mutiara lagi, karen mutiara sudah mati atau kau ingin
kejadian 22 Tahun lalu terulang kembali” Suara Adinda terdengar samar terbawa
angin malam yang semakin kencang.
“Aku tau sejak kematian Doni hidup mu begitu menyakitkan”
Endi memberanikan diri untuk membuka lama sosok yang kini mengubah namanya
menjadi Adinda.
Adinda nampak syok ketika Endi menyebutkan kalimat tersebut
dengan menguatkan hati dia berusaha menanyakan dari mana endi mengetahui
tentang Doni.
“Ayah yang menceritakannya kepada pak Pesisir Mah” Mutia
yang sejak tadi terdiam berusaha menahan tangis kini mulai angkat bicara, dia
tidak percaya bahwa sosok yang berdiri dihadapannya adalah sosok yang sangat
dia rindukan.
“Ayah, Mamah . Siapa kamu” Adinda menyelidik
“Aku mutia anak mamah yang dulu diculik” Mutia memberanikan
diri dan mendekati Adinda, kini dengan samar adinda dapat melihat sosok muda
berkacamata yang sejak tadi terdiam.
“Tidak mungkin, kenapa wajah mu begitu mirip dengan ku?”
Adinda terlihat tak percaya dan sedikit menjauh.
Mutia menagis “Aku bayi kecil mamah dulu!”
“Dia anak kita Tiara” Bagas tiba-tiba menyela pembicaraan
mereka, sejak tadi ternyata dia sudah mendengarkan pembicaraan mereka.
“Bagas..” Suara Adinda terdengar ketakutan dan tanpa banyak
bicara Adindi berlari kearah kakek tua yang sejak tadi menunggunya di mobil,
sementara Endi berusaha mengejar.
Mutia lebih memilih menjatuhkan diri diatas pasir pantai dan
membiarkan ombak menapar tubuhnya. Lain halnya dengan bagas yang memilih untuk
berjalan dengan lemah ketengah lautan, dia tak percaya bahwa ternyata orang
yang sudah dihancurkan hidupnya itu masih hidup.
“Ayah... Ayah...” suara Mutia terdengar panik ketika
menyadari ayahnya tidak ada disampingnya “Bapak pesisir tolong ayah ku terbawa
ombak”.
****
Pagi ini obak di pesisir pulau manuk nampak sangat tenang, Mentari
bersinar terang cahayanya begitu menghangatkan, lutung-lutung kecil turun dari
bukit yang berada di sebrang jalan
pantai pulau manuk.. Para nelayan yang baru pulang berlaut menurunkan hasil
tangkapannya semalam, sementara Endi terlihat tenang memandang lautan lepas
diatas karang. Baju putih yang dikenakan Endi sesekali tehempas terkena
cipratan air laut yang dibawa gelombang ombak, tapi endi tak mempedulikan itu
semua.
“Adinda” Endi dengan lembut memanggil wanita yang berdiri
disampingnya.
“Endi” Adinda memanggil kembali seraya meletakan tangannya
kepada tangan endi.
Endi menundukan kepala sambil menggenggam erat tangan
Adinda, diam-diam dia berjanji kembali dalam hati “Aku tidak akan pernah melepaskan mu dan membuat mu menderita, aku akan
selalu berada disamping mu selamanya” .
“Aku turut berduka atas kematian Bagas dan aku harap kau
tidak menaruh dendam kepadanya”
Adinda menatap tajam endi, tatapan yang selama ini selalu
endi rindukan tatapan yang membuat siapa saja yang mendapatkannya serasa
tertarik kepada dunia pemiliknya.
“Aku tidak pernah menaruh dendam kepadanya, sekalipun selama
ini aku diam atas kematian Doni dan kedua orang tua ku. Tapi aku cukup memahami
bahwa apa yang bagas lakukan karena kesalahan ku juga”
“Kau tidak sepenuhnya salah, tapi itulah kehidupan” Endi
berusaha menguatkan hati Adinda.
“Yah kau benar” Adinda mengangguk pelan
“Mamah” Mutia memberanikan diri untuk mendekati ibunya,
setelah mengurus pengiriman jenajah ayahnya ke jogja dini hari sekali, Mutia
memutuskan utuk tidak kembali ke jogaja dan memilih untuk hidup bersama Ibunya,
lagi pula di jogja dia tidak punya siapa-siap. Selain ibu tirinya yang kejam
dan kedua kakak laki-lakinya yang selalu menimbulkan masalah.
Mendengar suara lembut Mutia, Adinda tersenyum lembut “Sini
sayang”
Kedua wanita itu saling berpelukan haru, Endi merasa
beruntung dapat menyaksikan pertemuan keduanya yang begitu hangat dan
membahagiakan.
“Bapak Pesisir” Mutia melepaskan pelukan ibunya dan
menggenggam erat tangan kanan Endi
“Yah” Endi menyentuh wajah mutia dengan tangan kirinya,
sentuhan yan begitu hangat layak seorang ayah kepada anak perempuannya.
“Maukah bapak menikahi ibu saya”
“Eh..” Endi terlihat gugup, wajahnya berubah mereah dan tertunduk
malu
“Ibu tidak akan menikah dengan siapapun Mutia” Adinda
berkata tegas, perkataan adinda membuat hati Endi berdetak kencang karena
ketakutan. “Kecuali dengan anak pesisir yang dulu sering menyelidiki kehidupan
ibu dan membuat hati ibu untuk Doni menghilang”
Ketiganya tertawa bahagia, sementara Adinda nampak
mengeluarkan air mata bahagia dalam setiap tawa yang keluar dari bibir
tipisnya.
***
PULAU
MANUK 2012
“Mutia apa yang menginspirasi untuk membuat novel ini, dan
setelah ku baca novel ini seperti memiliki kekuatan sendiri” seorang wartawan
muda nampak mewawancarai mutia dalam peluncuran novel pertamanya di pesisir
pantai pulau manuk.
“Mereka yang menginspirasi ku” Mutia menunjuk kearah
sepasang suami istri yang berdiri, sang istri nampak menggendong bayi laki-laki
kecil yang sangat lucu, keduanya sangat terlihat bahagia.
“Kalau boleh tau siapa mereka” wartawan muda itu kembali
melempar pertanyaan.
“Mereka adalah kedua orang tua ku” Ucap Mutia dengan senyum
yang terus berkembang “Ada pertanyaan lagi”
“Saya sudah tidak memiliki pertanyaan Nove Love in Pesisir
ini cukup mejawab semua pertanyaan saya tentang sosok anda, tapi ada satu
permintaan dari saya” Ucap wartawan muda yang sejak tadi antusias dengan
peluncuran novel pertama mutia”
“Yah..!”
“Mutiara Ekacipta, Maukah kau menjadi kekasih ku” wartawan
muda itu terlihat mendekat dan membawakan sekuntum marwar merah kehadapan
mutia. Dimas nama wartawan muda yang ternyata sahabat Mutia ketika bersekolah
di Jogja dulu.
“Hei Dimas Apriansyah, kau hanya menghabiskan uang mu saja
jika nanti berpacaran dengan ku. Jogja-kab.lebak itu sangat jauh”
“Tapi bukankah hati mu dan hati ku akan selalu dekat,
sekalipun jarak memisahkan kita. Bukan begitu Bapak pesisir” Dimas mendekat
kearah Endi dan Adinda.
“Sepertinya ayah cukup yakin dengan wartawan muda ini”
“Baik lakh” suara mutia terdengar lembut dan malu-malu
“Love in Pesisir” Dimas sedikit menggoda Mutia yang kini
berdiri dihadapannya
“Ups...Janga Malu-maluin” mereka saling berpelukan, semua
yang hadir dalam peluncuran buku itu dan
para pengunjung pantai pulau manuk nampak bertepuk tangan melihat tingkah
sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta.
THE
END....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar