Jumat, 22 Juni 2012

LOVE IN PESISIR (By Relaxap1@yahoo.co.id)


 

MALINGPING 1989
Endi berlari sepanjang pantai. Sesekali di punggutnya kerang-kerang kecil yang terdampar terbawa arus ombak dan melemparkannya kembali ketengah lautan, baginya kerang-kerang kecil itu punya hak yang sama untuk hidup lebih lama dan bianab sekali ombak-ombak yang rela menyeretnya kedaratan, sementara seharusnya dia paham daratan bukan tempat yang baik untuk kerang-kerang itu hidup. Bahkan bukan hanya itu sebagian dari manusia menganggap kehidupan di daratan bumi sangat tidak nikmat, banyak permasalahan dan banyak hambatan sehingga mereka lebih memilih menjatuhkan diri kelautan lepas dan tidak kembali lagi, mereka hanya menyisakan kisah klasik kehidupannya di daratan yang mereka anggap kejam.
“Akh...” Endi berteriak kencang, melepaskan beban hidup yang selama ini serasa membuatnya lebih tua dari usia yang sedang dilaluinya. Suara teriakan itu menyatu dengan debur ombak pantai yang seolah membentuk irama dan nada-nada baru dibumi ini.
Suasana pantai sore ini cukup sepi, padahal biasanya setiap minggu sore suasana pantai masih dipenuhi para penggunjung dari kota yang menghabiskan akhir minggunya. Sebenarnya Endi cukup lelah menjalani kehidupannya sebagai penjual Leumeung ( Makanan Kas Malngping, yang terbuat dari nasi ketan yang dibungkus daun pisang lalu dibakar ) di pesisir pantai pulau manuk setiap hari setelah pulang sekolah.
“Heh, Anak pesisir dagangan mu habis yah” seorang menepuk pundak Endi
“Mutiara!” Endi terlihat syok ketika menyadari orang itu adalah Tiara.
Mutiara Aswarandana seorang penulis asal Jogjakarta yang sedang menghabiskan waktu berliburnya di Malingping, sudah hampir satu bulan gadis berkacamata itu rajin menyambangi pulau manuk setiap sore sebelum sang penguasa siang menjatuhkan diri pada lidah biru raja lautan. Biasanya gadis itu akan naik pada sebuah batang pohon yang menjulang kelautan dan duduk santai diatasnya, tangannya akan bergerak membentuk sebuah gerakan kompleks yang sangat menarik untuk dinikmati, penuh dinamika dan estetika tinggi itu yang endi yakini sekalipun dia tak mengerti maksud dari gerakan tangan-tangan kecil gadis berambut pirang itu.
“Aku bukan setan anak pesisir, kenapa kau menatap ku dengan exspresi takut seperti itu?” Tanya tiara setelah menyadari exspresi Endi yang seolah syok melihat kehadirannya.
“Auh tidak seperti itu, aku sedikit heran saja dengan mu” Endi berusaha memberanikan diri untuk bercakap dengan gadis berkulit putih dan berpengawakan tinggi itu, karena biasanya endi hanya menyapa Tiara dan sekedar menanyakan keadaannya setiap kali tiara datang untuk memulai tindakan konyolnya duduk dibatang pohon tua paforitnya.
Tiara melangkahkan kakinya mendekati lautan, ombak pantai yang sesekali datang bak manusia-manusia kecil yang sedang beradu kecepatan berlari, kini setiap kali mereka datang seolah mereka bersiap menarik kaki mungil yang memang sengaja disiapkan untuk menyambutnya. Sementara Endi lebih memilih untuk medekati sebuah karang besar dan duduk santai diatasnya, sekalipun dia menyadari duduk diatas karang bukan suatu hal yang nikmat, karena sesekali karang-karang itu akan menusuk tubuhnya dan itu sangat menyakitkan.
“Kenapa kau heran dengan ku Anak pesisir, seharusnya yang heran itu adalah aku” Suara Tiara terdengar samar karena deburan ombak, tapi beruntung Endi dapat menangkap perkataan itu.
“Setiap sore kau menghabiskan waktumu untuk duduk di pohon tua itu, padahal pohon itu aku pikir sangat berbahaya dan untuk apa kau melakukan gerakan-gerakan aneh diatas pohon itu. Itu semua membuatku sangat penasaran dengan mu” Ucap Endi dengan suara sedikit keras, karena dia tidak ingin perkataannya hilang terbawa debur ombak yang kali ini semakin kencang.
“Haaa...Haha” Tiara tertawa keras
Endi terdiam, baginya sosok perempuan muda yang ada dihadapannya itu cukup membuat  hatinya penasaran. Karena selain cantik sosok itu memiliki banyak misteri yang disimpan dibalik pembawaannya yang dingin.
“Seharusnya aku yang heran kepadamu anak pesisir, sejak satu bulan ini aku memang sering berjumpa dengan mu, tapi aku tak pernah bilang bahwa namaku Mutiara! Tapi anehnya setiap kali kita berjumpa kau selalu menyapaku dengan sebutan mutiara, dari mana kau tau nama ku itu. Sementara dapat dipastikan bahwa di sekitar pulau manuk ini tak ada yang tau namaku Mutiara, mereka selalu menyebutku dengan sebutan Adinda. Aku suka nama baru ku itu”
Perkataan tiara membuat endi salah tingkah, memang aneh rasanya selama ini endi selalu tertarik dengan apa yang dilakukan gadis Jogja tersebut, bagi Endi gadis itu seperti memilik magnet yang memaksanya untuk mendekat dan mencari tau setiap kisah yang tersembunyi dibalik sosok yang tak pernah melepaskan senyum dari bibirnya yang tipis.
“Aku tau nama mu dari Mbah Iyut, Pemilik warung nasi biasa kau makan dimalingping. Bukankah kau tinggal bersamanya” Suara Endi terdengar ragu, sebenarnya dia malu mengatakan itu semua karena dengan demikian tiara akan tau bahwa selama ini dia sering menyelidikinya.
“Yah, aku tau itu ! si Mbah bilang kau selalu menanyakan ku. Apa yang ingin kau ketahui tentang ku, setertarik itukah dirimu pada ku?” Ucap tiara sedikit menyelidiki
“Sejujurnya aku heran, sekalipun Mbah bilang kau seorang penulis yang sedang mencari Inspirasi, tapi aku pikir sangat tidak wajar jika kau merelakan waktu sekolahmu hanya untuk mencari sebuah inspirasi menulis, bukankah inspirasi itu bisa hadir dimana saja? Lalu untuk apa kau jauh-jauh kemari” Endi memberanikan diri
Tiara terdiam, ekspresi wajahnya berubah tegang. Tiba-tiba dia berteriak kencang dan berlari ketengah lautan melawan ombak, tentu hal itu membuat Endi bingung dan merasa bersalah, terlebih ketika Endi menyadari bahwa tiara menangis. Endi tak mengerti apa yang salah dari pertanyaannya.
“Jangan bertindak bodoh Mutiara” Endi berteriak keras, dia segera bangkit ketika melihat gadis berkacamata itu sudah jauh berada ditengah lautan dengan cepat endi segera berlali menerobos ombak untuk segera menggapainya.
Tiara semakin berlari kencang ketengah lautan ketika mengetahui endi mengejarnya. Baginya pertanyaan endi membuat segala masalalunya kembali hadir dan itu cukup untuk menjadi alasan baginya untuk menjatuhkan diri menjadi makanan sang raja biru.
“Oke, aku minta maaf kalau pertanyaan ku itu salah. Tapi tolong stop ! kamu hentikan tindakan konyol yang akan kamu lakukan...”
“Anak pesisir, untuk apa kau memperdulikan ku, untuk apa? Aku ini bukan siapa-siapa kamu dan aku bukan siapa-siapa di muka bumi ini” ucap tiara diantara tangisnya.
“Mutiara”
“STOP ! Jangan pernah kau sebut nama itu, pemilik nama itu sudah mati, ouh..tidak-tidak lebih tepatnya akan segera mati!”
“Silahkan jika kau ingin mati, tapi ketahuilah kematian mu hanya menambah masalah bukan menghilangkan masalah”
“Masalah ? Yah aku memang biang dari segala masalah dibumi ini” suara tiara terdengar sangat lemah.
“Tiara...!!!” Endi berteriak kencang ketika menyadari gadis misterius itu tiba-tiba hilang terbawa lidah sang raja biru.


***
PULAU MANUK  2011
Seorang laki-laki tua nampak asik memainkan suling bambunya diatas pohon tua yang batangnya menjulang ketengah lautan. Usianya yang sudah berkepala empat memang sudah tak selayaknya lagi melakukan tindakan yang bisa menyelakai dirinya, terlebih sejak tadi pagi hujan tak pernah berhenti mengguyur pantai kecil dengan sejuta pesona dan kisah yang tersimpan didalamnya.
“Akhhh...” Sebuah teriakan membuat laki-laki itu menghentikan permainan suling bambunya, dengan cepat laki-laki tua itu melemparkan pandangannya kearah pusat suara yang tak lain berasal dari seorang wanita muda yang berdiri diatas perahu layar milik para nelayan yang singgah ditepian.
Endi laki-laki tua yang memiliki kisah besar dalam kehidupannya dimasa lampau dan pesisir pantai pulau manuk ini menjadi saksi bisu dimana seorang penulis muda asal jogja mengakhiri hidupnya dan menenggelamkan segala misteri yang ada pada dirinya. Peristiwa menghilangnya mutiara membuat segala kehidupannya seolah berubah, sosok Tiara tak pernah hilang dari ingatannya. Sejak pertama berjumpa endi memang sudah menyimpan ketertarikannya pada gadis itu, pertemuan manis dengan sebuah senyuman hangat dari gadis yang ternyata tak memiliki kehidupan yang membuatnya hangat dan betah tinggal dibumi ini, perpisahanpun justru berakhir teragis.
“Mutiara” Endi nampak syok ketika dia mendekati perempuan yang telah menghentikan permainan suling bambunya, perempuan itu benar-benar menghidupkan kembali sosok mutiara, rambutnya yang pirang, badannya yang putih dengan perawakan tinggi dan kacamata yang dikenakannya.
“Bapak memanggil saya?” Ucap perempuan itu ragu, sambil turun dari perahu kecil dan mendekat kearah Endi.
“Kau mutiara?” Endi memastikan
“Yah...Dari mana bapak tau nama saya?”
“Ya Tuhan, Benarkah ini dia?” Endi bertanya pada diri sendiri, setelah wanita muda ini kini benar-benar ada dihadapannya, senyum wanita muda itu benar-benar membuat perasaan hangat sama seperti peristiwa 22 Tahun lalu ketika penulis muda asal jogja memberikan senyuman pertamanya saat pertama kali berjumpa. Tatapan mata gadis muda itu juga tatapan milik mutiara yang setiap kali orang melihat tatapan itu orang tersebut seperti mendapat magnet besar yang membuat semua orang terterik untuk memasuki dunia peminpinnya.
“Dari mana bapak tau namaku, sementara aku baru sampai disini tadi! Dan saya pikir saya belum pernah bertemu bapak sebelumnya”
Endi terdiam, matanya menatap haru wanita muda yang berdiri tegap dihadapannya. Endi mulai menyadari bahwa gadis muda itu tak mungkin tiara yang dimaksudnya, karena jika itu tiara yang tentu keadaanya tiadak akan seperti itu, gadis dihadapannya masih muda sementara tiara seharusnya penulis berkacamata itu sama seperti dirinya sudah tua.
“Bapak salah orang nak...” Endi terlihat kecewa dan segera membalikan arah badanya, pergi menjauh dari gadis muda yang sudah kembali membuka luka hidupnya.
“Tunggu bapak pesisir !” gadis itu menghentikan langkah endi.
“Bapak pesisir?” Endi terlihat syok mendengar sebutan itu.
“Kenapa kau menatap saya dengan exspresi takut seperti itu?, Bapak terlihat heran dengan ku tapi kenapa bapak heran dengan ku Bapak pesisir, seharusnya yang heran itu adalah aku” Suara gadis itu terdengar lembut
Endi menitiskan air mata setelah mendengar perkataan gadis itu, hatinya benar-benar bergetar ketika mengingat bahwa perkataan itu sama persis dengan yang diucapkan tiara sebelum dia mengakhiri hidupnya.
“Nama ku memang mutiara ! Mutiara Ekacipta tepatnya , bapak bisa panggil aku Mutia”
“Ouh” suara endi terdengar dingin dan kecewa.
“Mutia cepat kemari, ada kabar baik untuk mu sayang” Seorang pria seusia endi melibatkan pembicaraan dan mendekat kearah mutiar.
“Aouuuh Ayah, berita apa sih!” Suara mutia terdengar manja, sementara endi nampaknya cukup tau diri untuk tidak ikut campur urusan keluarga mereka, setelah menyapa ayah dari mutia endi pamit untuk pergi, dan dia kembali menelusuri pesisir pulau manuk yang penuh misteri.
****
Endi berjalan mondar-madir dirumah kecilnya yang terletak disudut keramaian pasar malingping, sekalipun setiap hari rumahnya tak pernah sepi karena dia juga membuka warung Leumeung di teras rumahnya dan warungnya tidak pernah sepi pengunjung, tapi endi merasakan sebuah kesepian hidup yang tidak bisa dilukisan. Semenjak kematian Tiara endi merasa ada bagian dari dirinya yang hilang, bagian dimana membuat sebagian hidupnya terasa hampa dan membuat dia berubah menjadi seorang yang seolah memiliki dunia sendiri, bahkan bagian itu menguatkan tekadnya untuk terus menghidupkan sosok Mutiara dalam kehidupannya, bagian itu adalah hati yang didalamnya terdapat sebuah perasaan yang orang sebut dengan istilah CINTA, 22 Tahun hidup dalam kesendirian cukup membuat Endi menyadari bahwa dia memang jatuh cinta sejak pandangan pertama pada penulis asal jogja tersebut, dan perasaan itu yang menariknya dulu untuk menyelidiki sosok berkacamata yang sampai saat ini menyimpan misteri.
Tadi ada seorang laki-laki yang mencariku dan menanyakan sosok Mutiara? siapa laki-laki itu ? dan kenapa dia mencari tiara?” Ribuan pertanyaan tumbuh dalam pemikiran endi ketika mengetahui ada orang yang mencari info tentang tiara, setelah 22 tahun lamanya.
“Asalamuallaikum..” seseorang mengetuk pintu
“Waalaikumsalam” Endi segera membuka pintu
“Bapak Pesisir...”
Endi nampak kaget ketika membuka pintu rumahnya dan melihak sosok mutia berdiri bersama ayahnya, mutiapun nampak terlihat memiliki exspresi yang sama dengan endi.
“Masuklah” Suara endi terdengar gugup
Kedua orang itu tanpa banyak bicara mengikuti apa yang endi perintahkan, keduanya segera mengambil posisi duduk dikursi bambu tua yang reyot. Sementara endi dengan cepat segera mengambil Teh hangat,satu piring  Leumeung potong dan satu mangkuk semur daging ayam yang kemudian diletakan dimeja kecil dihadapan para tamunya itu.
“Lebih baik bicarakan langsung saja, sudah cukup lama saya menyimpan perasaan penasaran terhadap sososk mutiara” Suara endi terdengar sedikit kalut
“Jadi benar bapak mengenal mamah saya” Mutia terlihat antusias
“Apa.. kamu anak dari Tiara ? Penulis muda asal jogja, bukankah pada saat itu dia masih lajang” Endi terlihat syok mendengar ucapan Mutia
“Pada saat itu Tiara memang masih sekolah tepatnya kelas tiga SMA ! oyah perkenalkan saya Bagas ayah dari Mutia”
“Endi” suara endi kali ini nampak putus asa
“Baiklah” Bagas nampak ingin segera melanjutkan perkataanya, wajahnya pucat terlihat jelas ada sebuah penyesalan.
“Tiara adalah teman SMA ku dulu, sosoknya yang periang dan penuh semangat membuat aku meraskan sebuah perasaan yang membuat segala hariku seolah terhantui oleh sosoknya, tapi sayangnya perasaan itu tak pernah terbalaskan oleh Tiara. Berulang kali aku mengatakan cinta, berulang kali itu dia dengan tegas menolak ku, tanpa sedikitpun memberikan kesempatan untuk aku memasuki dunianya dan aku pikir itu sangat kejam bagiku. Apalagi setelah mengetahui bahwa Tiara lebih memilih Doni yang tak lain adalah musuh ku, kedekatannya dengan Doni membuat ku sakit. Setiap hari mereka bersama setiap hari itu pula hidupku serasa dineraka. Aku sadar Doni memang sosok yang layak dicintai, apalagi mereka memiliki hobi yang sama yaitu menulis, tentu kau tau kalau tiara suka menulis...” Bagas menghentikan ceritaya, untuk menarik napas sejenak dan meminum teh hangat.
“Lalu” Endi nampak menarik bagas untuk segera menceritakan kisah masa lalu gadis misterius yang dicintainya.
“Aku tidak membiarkan kisah cinta mereka berlangsung lama, sebulan setelah mereka berdua berhasil menerbitkan hasil karya buah tangan mereka. Aku menyusun rencana untuk membuhun Doni dengan harapan setelah kematian doni dia akan menerimaku”
“Kenapa ayah tidak pernah menceritakan tentang doni kepadaku” Mutia terlihat kesal, sejak tadi dia tidak berhenti menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Terlalu sakit untuk membayangkan sosok Doni, yang kemudian ayah singkirkan dengan cara menabrak lari dia. Tapi ternyata kematian Doni bukan membuat Tiara mendekat kepada ayah, justru membuat dia semakin jauh dan mengubah dirinya menjadi sosok pendiam yang sangat menyebalkan. Karena perasaan cinta ayah yang sudah tidak bisa dipendam lagi akhirnya ayah memutuskan untuk memerkosa ibumu sayang”
“Pluk” Endi menampar wajah Bagas
“Aku tau kau kesal, dan aku tau kau juga mencintai sosok mutiara. Itu yang nenek tua pemilik warung sebrang jalan bilang alasan kenapa sampai saat ini kau tidak menikah. Sekalipun aku tak tau apa yang terjadi karena perkataan Mbah iyut tidak menceritakan sejauh mana hubungan mu dengan tiara dan kenapa kalian tidak menikah!” Ujar Bagas terlihat ragu-ragu
“Untuk apa kau menanyakan hal itu kepadaku lebih baik kau selesaikan ceritamu”
Huh.. Bagas menarik napas panjang, kemudian melanjutkan ceritanya “Ternyata akibat tindakan gilaku itu, Tiara hamil pihak sekolah mengeluarkannya. Dikeluarkannya tiara disekolah membuat Ayahnya terkena serangan jantung terlebih setelah dia mengetahui anaknya tersebut dikeluarkan karena hamil, kakek mu kemudian meninggal sayang” Suara bagas terdengar paruh, kedua bola matanyapun terlihat berlinang air mata.
“Ayah terlalu menyimpan dusta banyak kepadaku”
Bagas kembali menarik napas dalam-dalam, didalam dirinya hadir sebuah ketakutan besar akan dosa-dosa yang telah dia lakukan. Terlebih ketika melihat wajah anaknya yang begitu mirip gadis berkacamata yang dia sakiti dulu, sosok itu seolah kembali hadir menatap penuh kebencian. Ketakutan itu semakin bertambah jika membayangkan bagaimana anaknya nanti jika membencinya setelah mengetahui apa yang sudah dia lakukan kepada ibunya.
“Tidak berapa lama ibumu melahirkan bayi mungil, tentu kau tau mutia bayi kecil itu adalah kamu. Setelah melahirkanpun ibu mu bersih keras menolak pinangan ayah padahal ayah sangat mencintainya terlebih setelah kelahiranmu cinta ayah semakin besar kepada kalian berdua. Karena tidak bisa memiliki kalian berdua ayah memutuskan untuk mengambil kamu dari tangannya, suatu malam ayah menculik kamu sayang, namun tiba-tibak nenek mu melihat kejadian itu, karena panik ayah kemudian memukul nenek mu dengan batu hingga meninggal. Pada saat itu ayah benar-benar panik tak tau apa yang harus ayah lakukan”
“Itu hal tergila yang pernah aku dengar” Tangis mutia kali ini pecah, selama ini bagas hanya menceritakan bahwa ibunya meninggalkan dia sejak kecil lalu pergi begitu saja dengan alasan mencari ketenangan ke pesisir lebak selatan namun tidak pernah kembali lagi.
“Kepergian nenek mu, membuat ibumu terpukul dan memutuskan untuk pergi meninggalkan jogja, sejak saat itu dia tidak pernah kembali lagi ...”
***
            Suasana malam dipesisir pantai nampak gelap gulita, ditengah lautan sinar-sinah kecil menyala dari perahu kayu para nelayan yang sedang bergulat melawan kehidupan. Sejak sore para nelayan itu sudah mulai berangkat padahal angin kali ini cukup kencang dan ombaknya cukup tinggi, tapi bagi para nelayan keadaan itu ibarat sebuah dilema dalam kehidupan, dilema yang segera harus mereka akhiri karena kalau tidak mereka tidak akan bisa hidup tenang.
Endi memandang pilu kearah laut lepas yang kini sudah tak terlihat kebiruannya, yang ada hanya gelap dan sesekali angin datang menampar wajahnya, tamparan yang membuat kedua bola matanya tertutup. Setelah mendengar apa yang diceritakan Bagas hati endi serasa benar-benar hancur, andai saja dia bisa menangis mungkin dia ingin sekencang-kencangnya berteriak dan menangis karena wanita yang dia cintai ternyata hidup penuh derita. Sementara Mutia nampak sudah tidak bisa menahan dukanya, suara tangisnya begitu terdengar menyayat hati terlebih setelah endi menceritakan kejadian apa yang menimpah ibunya, gadis muda itu nampak tak percaya dan menjerit sejadi-jadinya. Dilain sisi Bagas lebih memlilih duduk diwarung bambu kecil ditepi pantai, secangkir kopi hangat diminumnya penuh kenikmatan. Baginya tidak ada lagi beban hidup yang disembunyikan, perasaannya begitu lepas seperti karang besar yang terbebas dari hantaman ombak kencang.
“Inilakh kehidupan, mau tidak mau kau harus menerima kenyataan ini mutia...” Endi melirik kearah mutia, berusaha melihat exspresi gadis itu diantara kegelapan malam
“Aku tak menyangka bapak pesisir bahwa aku harus mengubur harapan ku untuk bertemu dengan mamahku, padahal siang tadi aku begitu bersemangat ketika mengetahui ada seorang yang mengenal mamah dan harapan bisa memeluk mamah seolah begitu dekat” Suara Mutia terdengar lembut terbawa angin malam.
Endi mengambil sebuah kerang kecil yang terhempas ombak dan mendarat dikakinya, setelah memandang sejenak karang itu sekuat tenaga endi melemparkannya kembali ketengah lautan.
“Jangan memanggilku dengan sebutan Bapak pesisir” Endi berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya.
“Kenapa”
“Sebutan mu membuat ku mengingat kembali sosok ibu mu ! kenapa kalian berdua begitu mirip , kau seperti Tiara yang terlahir kembali”
“Aku beruntung jika demikian, setidaknya aku benar-benar tidak kehilangan mamah ku”
“Kamu betul” Endi menganggukan kepalanya.
“Adinda, Turun dari pohon tua itu ini sudah malam dan ayah pikir diusiamu yang berkepala empat melakukan tindakan konyol duduk termenung di dahan tua yang hampir patah itu sudah tidak layak” seorang kakek tua berteriak kencang, mengusik pembicaraan Endi dengan mutia. Kedunya dengan serempak memandang kerah kakek itu, sementara kakek tua itu masih bersih keras merayu seseorang yang duduk di batang pohon tua yang menjulang kelatuan.
“Sepertinya ada yang menarik dengan batang pohon yang menjulang itu, Tadi siang aku juga melihat bapak duduk disitu sambil memainkan suling . tadinya kau pikir bapak cukup gila melakukan tindakan tersebut, tapi ternyata ada orang yang lebih gila melakukannya tengah malam”
“Heehehee.. ibumu yang mengajarkannya kepada ku, dulu setiap sebelum matahari tenggelam dia akan duduk di pohon tersebut dan melakukan gerakan yang sangat unik, kau ingin melihat seperti apa gerakannya?” Endi terlihat antusias, baginya mengingat bagaimana tiara melakukan gerakan itu membuat dirinya selalu ingin tertawa bahagia, walaupun pada akhirnya kebahagian itu terkalahkan oleh perasaan sedih.
Endi mengikuti gerakan demi gerakan yang biasa dilihatnya sebelum matahari menyerahkan diri pada kegelapan malam, gerakan dinamis yang setiap kali orang melihatnya akan terpesona, tertawa, penuh tanda tanya.
“Dari mana kau mengetahui gerakan itu? Apa kau doni” Sebuah suara menghentikan endi, suara yang sangat lembut dan terdengar penuh kesedihan namun suara itu serasa tidak asing ditelinga endi.
“Adinda, apa lagi yang akan kau lakukan ? ayah harus segera kembali kejakarta waktu liburan kita sudah habis” kakek tua itu kembali berteriak ketika mengetahui anaknya yang tadi bertindak konyol kini kembali membuatnya kesal.
“Nama ku Endi” Suara endi terdengar gugup ketika perempuan itu menyebutkan nama Doni, pikirannya melayang apakan perempuan dihadapannya itu adalah seseorang yang sangat dia rindukan.
“Maaf sepertinya aku salah orang” Perempuan itu terlihat sedih dan segera membalikan badannya.
“Tunggu Mutiara, Kenapa kau pergi” Endi memberanikan diri untuk memegang tangan perempuan itu dan menahannya.
“Mutiara” Mutia terlihat tak percaya
“Apa kau tak ingat aku mutiara? aku tau kau penulis jogja yang waktu itu sering ku temui. Aku hapal betul suara mu dan aku ingat dulu kau bilang nama mu adinda. Apa aku menggunakan nama itu sekarang” suara endi benar-benar terdengat paruh
“Anak pesisir, itukah kau!”
Tanpa banyak bicara endi memeluk wanita itu, dia yakin bahwa wanita yang berada dipelukannya itu adalah wanita yang telah mencuri hatinya. Wanita yang sangat dia tunggu dan wanita yang selalu dinantinya setiap hadir yang menjadi kekuatan dalam setiap nada-nada yang dimainkan lewar seruling bambunya.
“Kau masih hidup mutiara, aku tak percaya bahwa aku akhirnya akan berjumpa dengan mu. Aku tak percaya setelah 22 Tahun lamanya aku bisa....” endi tak melanjutkan perkataannya  “Kenapa kau tidak menemuiku, melihat kau hanyut terbawa ombak. Itu cukup membuat hidupku merasa bersalah dan selama 22 Tahun pula aku hidup dalam ketakuatan..” Endi melepaskan pelukannya.
“Maafkan aku anak pesisir, aku selalu merasa bersalah dengan tindakan mu kepada ku. Tapi aku tak ingin membuat mu bersedih dan membebankan mu. Seorang menyelamatkan ku dan mengangkatku menjadi putrinya, laki-laki berhati mulya itu merawatku penuh cinta dan membuat semangat ku untuk hidup bangkit kembali”
“Aku tau apa yang terjadi dengan kehidupa mu mutiara dan aku tau begapa menderitanya diri mu”
“Sejak dulu memang kau tau tentang diri ku dan tolong jangan menyebutku dengan nama mutiara lagi, karen mutiara sudah mati atau kau ingin kejadian 22 Tahun lalu terulang kembali” Suara Adinda terdengar samar terbawa angin malam yang semakin kencang.
“Aku tau sejak kematian Doni hidup mu begitu menyakitkan” Endi memberanikan diri untuk membuka lama sosok yang kini mengubah namanya menjadi Adinda.
Adinda nampak syok ketika Endi menyebutkan kalimat tersebut dengan menguatkan hati dia berusaha menanyakan dari mana endi mengetahui tentang Doni.
“Ayah yang menceritakannya kepada pak Pesisir Mah” Mutia yang sejak tadi terdiam berusaha menahan tangis kini mulai angkat bicara, dia tidak percaya bahwa sosok yang berdiri dihadapannya adalah sosok yang sangat dia rindukan.
“Ayah, Mamah . Siapa kamu” Adinda menyelidik
“Aku mutia anak mamah yang dulu diculik” Mutia memberanikan diri dan mendekati Adinda, kini dengan samar adinda dapat melihat sosok muda berkacamata yang sejak tadi terdiam.
“Tidak mungkin, kenapa wajah mu begitu mirip dengan ku?” Adinda terlihat tak percaya dan sedikit menjauh.
Mutia menagis “Aku bayi kecil mamah dulu!”
“Dia anak kita Tiara” Bagas tiba-tiba menyela pembicaraan mereka, sejak tadi ternyata dia sudah mendengarkan pembicaraan mereka.
“Bagas..” Suara Adinda terdengar ketakutan dan tanpa banyak bicara Adindi berlari kearah kakek tua yang sejak tadi menunggunya di mobil, sementara Endi berusaha mengejar.
Mutia lebih memilih menjatuhkan diri diatas pasir pantai dan membiarkan ombak menapar tubuhnya. Lain halnya dengan bagas yang memilih untuk berjalan dengan lemah ketengah lautan, dia tak percaya bahwa ternyata orang yang sudah dihancurkan hidupnya itu masih hidup.
“Ayah... Ayah...” suara Mutia terdengar panik ketika menyadari ayahnya tidak ada disampingnya “Bapak pesisir tolong ayah ku terbawa ombak”.
****
Pagi ini obak di pesisir pulau manuk nampak sangat tenang, Mentari bersinar terang cahayanya begitu menghangatkan, lutung-lutung kecil turun dari bukit  yang berada di sebrang jalan pantai pulau manuk.. Para nelayan yang baru pulang berlaut menurunkan hasil tangkapannya semalam, sementara Endi terlihat tenang memandang lautan lepas diatas karang. Baju putih yang dikenakan Endi sesekali tehempas terkena cipratan air laut yang dibawa gelombang ombak, tapi endi tak mempedulikan itu semua.
“Adinda” Endi dengan lembut memanggil wanita yang berdiri disampingnya.
“Endi” Adinda memanggil kembali seraya meletakan tangannya kepada tangan endi.
Endi menundukan kepala sambil menggenggam erat tangan Adinda, diam-diam dia berjanji kembali dalam hati “Aku tidak akan pernah melepaskan mu dan membuat mu menderita, aku akan selalu berada disamping mu selamanya” .
“Aku turut berduka atas kematian Bagas dan aku harap kau tidak menaruh dendam kepadanya”
Adinda menatap tajam endi, tatapan yang selama ini selalu endi rindukan tatapan yang membuat siapa saja yang mendapatkannya serasa tertarik kepada dunia pemiliknya.
“Aku tidak pernah menaruh dendam kepadanya, sekalipun selama ini aku diam atas kematian Doni dan kedua orang tua ku. Tapi aku cukup memahami bahwa apa yang bagas lakukan karena kesalahan ku juga”
“Kau tidak sepenuhnya salah, tapi itulah kehidupan” Endi berusaha menguatkan hati Adinda.
“Yah kau benar” Adinda mengangguk pelan
“Mamah” Mutia memberanikan diri untuk mendekati ibunya, setelah mengurus pengiriman jenajah ayahnya ke jogja dini hari sekali, Mutia memutuskan utuk tidak kembali ke jogaja dan memilih untuk hidup bersama Ibunya, lagi pula di jogja dia tidak punya siapa-siap. Selain ibu tirinya yang kejam dan kedua kakak laki-lakinya yang selalu menimbulkan masalah.
Mendengar suara lembut Mutia, Adinda tersenyum lembut “Sini sayang”
Kedua wanita itu saling berpelukan haru, Endi merasa beruntung dapat menyaksikan pertemuan keduanya yang begitu hangat dan membahagiakan.
“Bapak Pesisir” Mutia melepaskan pelukan ibunya dan menggenggam erat tangan kanan Endi
“Yah” Endi menyentuh wajah mutia dengan tangan kirinya, sentuhan yan begitu hangat layak seorang ayah kepada anak perempuannya.
“Maukah bapak menikahi ibu saya”
“Eh..” Endi terlihat gugup, wajahnya berubah mereah dan tertunduk malu
“Ibu tidak akan menikah dengan siapapun Mutia” Adinda berkata tegas, perkataan adinda membuat hati Endi berdetak kencang karena ketakutan. “Kecuali dengan anak pesisir yang dulu sering menyelidiki kehidupan ibu dan membuat hati ibu untuk Doni menghilang”
Ketiganya tertawa bahagia, sementara Adinda nampak mengeluarkan air mata bahagia dalam setiap tawa yang keluar dari bibir tipisnya.
***


PULAU MANUK 2012
“Mutia apa yang menginspirasi untuk membuat novel ini, dan setelah ku baca novel ini seperti memiliki kekuatan sendiri” seorang wartawan muda nampak mewawancarai mutia dalam peluncuran novel pertamanya di pesisir pantai pulau manuk.
“Mereka yang menginspirasi ku” Mutia menunjuk kearah sepasang suami istri yang berdiri, sang istri nampak menggendong bayi laki-laki kecil yang sangat lucu, keduanya sangat terlihat bahagia.
“Kalau boleh tau siapa mereka” wartawan muda itu kembali melempar pertanyaan.
“Mereka adalah kedua orang tua ku” Ucap Mutia dengan senyum yang terus berkembang “Ada pertanyaan lagi”
“Saya sudah tidak memiliki pertanyaan Nove Love in Pesisir ini cukup mejawab semua pertanyaan saya tentang sosok anda, tapi ada satu permintaan dari saya” Ucap wartawan muda yang sejak tadi antusias dengan peluncuran novel pertama mutia”
“Yah..!”
“Mutiara Ekacipta, Maukah kau menjadi kekasih ku” wartawan muda itu terlihat mendekat dan membawakan sekuntum marwar merah kehadapan mutia. Dimas nama wartawan muda yang ternyata sahabat Mutia ketika bersekolah di Jogja dulu.
“Hei Dimas Apriansyah, kau hanya menghabiskan uang mu saja jika nanti berpacaran dengan ku. Jogja-kab.lebak itu sangat jauh”
“Tapi bukankah hati mu dan hati ku akan selalu dekat, sekalipun jarak memisahkan kita. Bukan begitu Bapak pesisir” Dimas mendekat kearah Endi dan Adinda.
“Sepertinya ayah cukup yakin dengan wartawan muda ini”
“Baik lakh” suara mutia terdengar lembut dan malu-malu
“Love in Pesisir” Dimas sedikit menggoda Mutia yang kini berdiri dihadapannya
“Ups...Janga Malu-maluin” mereka saling berpelukan, semua yang  hadir dalam peluncuran buku itu dan para pengunjung pantai pulau manuk nampak bertepuk tangan melihat tingkah sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta.
                                                            THE END....
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar