SAHABAT NARNIA
PUTRI GRESILLIA DAN PANGERAN ENDRIA
( Untuk Adik-Adik narnia ku Rahma, Aulia, Alyaa, Vhira Dan Widia )
Satu” Malam Saat Hujan
Malam ini dunia seolah menangis, hujan turun dengan derasnya. Sesekali air hujan itu menghujat jendela, suranya terdengar miris menyayat hati, malam ini tak ada seorangpun yang berani keluar rumah dengan keadaan alam yang begitu mengerikan kau akan lebih suka untuk lekas mengunci pintu kamar dan bersembunyi di balik selimut hangat mu.
“Widia ! Kau pikir Narnia itu nyata?”
“Tentu Saja apa lagi yang kau ragukan dengan Narnia Rahma, CS.Lewiss punya dunia tersendiri yang membuat dia menciptakan Narnia”
“Kenapa kalian, masih membiarkan jendela kamar ini terbuka, lihat novel-novel Narnia ku jadi terkena air hujan” Seorang yang lebih dewasa hadir membawakan mereka secangkir coklat hangat, wajahnya nampak kesal ketika mengetahui bahwa jendelanya tak ditutup.
Widia dan Rahma saling pandang sejak tadi mereka tak menyadari bawa jendela kamar itu terbuka, padahal anggin diluar sangat kencang tapi mereka tak merasa ada anggin masuk kedalam kamar, sejak tadi mereka merasakan kehangatan yang teramat.
“Kak, rel. Aku pikir kakak akan melupakan Narnia setelah masuk universitas, bagaimana kalau teman-teman kakak menganggap kakak gila dan bukankah lebih asik membicarakan masalah pria-pria tampan di kampus dari pada membicarakan hal-hal yang konyol seperti yang kami bicarakan saat ini. Atau jangan-jangan kak rela gak laku yah”
“What? Kamu pikir kakak gak cantik yah?”
Rahma kini tak hanya diam, dia tak mau kesempatan untuk mengejek sahabatnya hilang begitu saja “Emang nyatanya k rela gak cantik heheheh”
Uih, rela mendesis pelan dan melemparkan boneka singa kecil kearah Rahma dan Widia yang nampak tertawa puas karena berhasil mengejek kak rela, sahabat yang paling tertua diantara mereka.
“Tuh liat Rah, Kak Rel kalau udah marah aura jadisnya keluar”
“Widia, diam! Kalau gak malam ini juga kakak suruh kamu pulang ke bali”
“Iyah-iyah ancemannya kejam, masa iya aku suruh pulang malem-malem gini”
“Udah-udah, coklat panasnya keburu dingin lok k rel” Rahma mengingatkan
“Astaga ini semua gara-gara kalian berdua”
Rahma dan widia saling pandang, tak berapa lama mereka tertawa lepas berdua. Sementara rela lebih memilih untuk berdiri di depan jendela memandangi hujan deras di luar dengan ditemani secangkir coklat hangat. Suasana diluar nampak buruk sekali sebuah pohon cemara tumbang kearah jalan raya, belum ada petugas yang merapihkan cukup berbahaya memang jika angin kencang disertai hujan harus keluar rumah, belum lagi di sekitar jalanan kompleks banyak pohon cemara yang sudah berusia tua. Lampu penerangan jalanpun terlihat dipadamkan.
“Suasana diluar sangat menyeramkan”
“Haduh k rel, jangan suka kaya si Aulia deh udah tau serem kok masih aja berdiri tegak disitu” kali ini vhira yang sejak tadi asik membaca buku, ikut angkat bicara. Matanya melirik kearah jam tua yang sudah mulai menunjukan pukul 23.00, perlahan vhira mulai menutup novelnya dan mengambil posisi untuk tidur menyusul aulia yang sejak sore memang sudah terbaring lemah.
Hujan masih tak mau berhenti, rela cukup menikmati suasana hujan malam ini terlebih setelah ke empat adik kecilnya berkumpul memutuskan untuk berlibur ditempatnya, cukup membuatnya merasakan bahwa dia punya orang-orang berharga yang memahami keinginannya dan mengerti pemikirannya. Hujan-ujan itu terus berjatuhan dengan kencang kau tau seperti apa bunyinya keras sekali semakin keras dan lama-lama yang terdengar justru bukan seperti air yang jatuh dari langit, melainkan seperti batu-batu kecil yang berjatuhan seperti bongkahan es batu, rela menengguk sedikit lagi coklat hangatnya dia menyadari bahwa kali ini memamang yang terjadi adalah hujan es karena suaranya benar-benar membuat telinga serasa mau pecah. Perlahan tangannya mulai menarik goreden “ rasanya cukup menikmati misteri malam kali ini”. Hanya butuh satu tarikan lagi rela menutup jendelanya dan mengakhiri renungan malamnya tapi tiba-tiba dia mengurungkan niatnya, dia melihat sebuah benda putih kecil berjatuhan dilangit seperti layaknya kapas, semakin lama benda-benda itu semakin banyak berjatuhan, dengan cepat rela membuka kacamatanya-mengelap dan menggunakannya kembali, dia sadar bahwa yang dilihat bukan efek ilusi atau imajinasinya semata tapi ini benar-benar nyata dia melihat salju berjatuhan di depan rumahnya.
“Aul, Rahma , vhira, widia ! get up salju , get up salju”
Vhira yang memang baru saja merasakan kehangatan selimut malamnya, nampak terbangun, tangannya terlihat mengucek-ngucek kedua matanya “ Why mother?”
Pluk” rela memukulkan bantal kearah vhira karena ternyata gadis berambut panjang itu sedang mengigo, bukan terbangun karena teriakannya.
“Hehe, sory k rel ! lagian apaan sih malem-malem teriak-teriak”
“Diluar ada salju”
“what? Are you sure..” vhira meletakan tangannya kearah kening rela, menarik napas panjang dan kembali berkata “You have boyfrend, I think..” Vhira tidak meneruskan perkataannya dia teringat akan sesuatu dan segera bangkit lalu berlari kearah jendela kamar.
“Your think I carzy” rela sedikit mengejek ketika melihat tingkah vhira dan melihat exspresi wajah vhira yang terlihat pucat pasi setelah melihat kadaan yang terjadi di luar.
“Impossible”
Rela segera mendekat kearah vhira, kali ini ada perasaan senang karena dia yakin dia tidak sedang bermimpi apalagi berimajinasi seperti yang dipikirkannya tadi.
Keadaan diluar jendela semakin terlihat indah, mereka berdua dengan leluasa bisa melihat salju-salju berjatuhan menutupi pohon cemara yang tumbang dan menghalangi jalan, ini bukan natal karena sekarang tanggal 10 Januari bukan 25 Desember, dan sekalipun ini Natal di Indonesia tidak akan pernah turun salju karena indonesia dalah negara tropis yang hanya memiliki dua musim yaitu hujan dan kemarau, tapi kenapa malam ini salju turun dengan deras seolah mereka seperti sedang menghujani kota London di inggris. Vhira terlihat benar-benar tak percaya dia begegas membuka pintu kamar dan menuruni anak tangga, rela tak dengan cepat segera bergegas mengikuti vhira.
“Kakak yakin kita tidak sedang menginap dirumah profesor diogry?”
“This is my home!”
“siapa pengurus rumah disini?” mereka terus bercakap-cakap sambil berjalan cepat agar segera sampai ruang depan dan membuka pintu untuk sampai diluar
“kamu ingin kakak menjawab bahwa pengurus rumah ini Mrs Macready dan ketiga pelayannya Ivy, margaret dan betty. Itu terlalu mustahil sayang”
Mereka berdua sudah sampai pintu utama, mereka bertatapan wajah keduanya nampak terlihat pucat, rela dengan cepat membuka pintu dengan tangan yang tak berhenti begetar.
“auuuuuuuuhhhh” Mereka menjerit kencang lalu terjatuh setelah melihat sebuah mahluk seperti anjing putih yang sangat besar, setelah itu mereka melihat suasana berubah gelap dan mereka tidak tau apa yang selanjutnya terjadi kepada mereka berdua.
*****
Dua’ Meyakinkan
“Selamat pagi” Aulia nampak terlihat cerah pagi ini, dengan cepat dia segera membangunkan kedua sahabatnya Rahma dan Widia yang masih tertidur pulas.
“Ka Rahma dan Ka Widia, apa kalian akan menghabiskan waktu berlibur kalian hanya untuk bermalas-malasan saja” Aulia mulai mengguncang tubuh keduanya dengan kencang tapi keduanya tidak mau membuka mata karena kesal aulia lebih memilih untuk mengambil segayung air dan menyiram keduanya dengan air tersebut dan ternyata caranya cukup ampuh walaupun karena itu dia mesti kena omelan rahma.
“Ikh.. kenapa sih kakak-an masih ngantuk Aul”
“Ka Rahma, tapi ini libur. Kita datang kemari untuk berlibur bukan untuk tidur”
“Kakak pikir yang sejak kemarin tidur itu’kamu”
“Kak rela mana?”
“Ka Rahma, mungkin aja k rela dan k vhira sudah lebih dulu jalan-jalan. Karena sejak aku bangun mereka berdua sudah tidak ada di tempat tidur”
“ouh...” Rahma melirik ke arah widia yang kini sudah duduk malas di sopa dan memandang televisi “Wid, aku pikir kau semalam mengigau dan berteriak get up salju”
“bercanda! kamu yang ngigaukan kamu Rah, kamu yang teriak-teriak salju”
“Waw.. aku pikir semalam ka rela dan ka vhira mereka menuruni anak tangga” aulia nampak kembali melibatkan diri dalam pembicaraan
Rahma dan widia saling pandang, tak berapa lama mereka bergegas keluar dari kamar dan segera mencari kedua sahabat lainnya.
“Hei come back, kalian tidak menyuruhku membereskan tempat tidur kaliankan?” aulia berteriak sekalipun kedua sahabatnya tak mempedulikan teriakannya itu.
Mereka menemukan Rela dan vhira sedang tertidur lemah ruang utama dengan pintu terbuka, wajah keduanya terlihat penuh dengan ketakutan dan lusuh. Posisi vhira nampak lebih lucu dengan jempol yang masuk kedalam mulutnya seperti bayi kecil yang sedang mengisap jempol.
“aku yakin keduanya bermimpi, apa lagi kau tau k rela suka sekali berimajinasi dengan mimpinya, bahkan ketika semalam kita sebelum tidur dia lebih memilih menatap luar terlebih dahulu padahal kau tau, kalau semalam sudah larut dan siapa tau saja ada kuntilanak yang bergelantungan di pohon cemara depan rumah tua sana”
“Rahma, aku pikir kau juga terlalu berimajinasi, aku yakin mereka semalam bemimpi sambil berjalan membuka pintu hendak keluar ternyata pas mereka membuka pintu ada pocong di depan pintu”
“hahhahah widia kau tak ada hantu lain selain pocong yang sedikit berkelas?”
“Lebih baik kita bangunkan kedua orang ini!” mereka menyepakati itu
Butuh waktu yang cukup lama untuk membangunkan kedua orang yang mereka anggap korban hantu semalam, tapi dengan sabar akhirnya keduanya berhasila membangunkan orang-orang itu. Kalian akan tertawa ketika melihat betapa lucunya exspresi kedua orang yang kalian anggap korban kejailan hantu gentayangan ketika terbangun keesokan harinya, mereka terlihat seperti orang yang tidak memiliki akal pikiran yang sehat dan terlihat serba salah. Rela lebih memilih bergegas lari kekamar dan menutupi diri dengan selimut, sementara vhira masih berdiri di depan pintu menatap tak percaya keadaan diluar rumah yang masih dihiasi gerimis hujan.
“Why?” Rahma kini tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya “Hantu apa yang semalam mengganggu kalian berdua”
“Apa hantu? Kau pikir aku sampai pingsan seperti itu karena melihat hantu, aku tidak takut hantu macam apapun, tapi semalam aku melihat salju lebat dan seekor mahluk yang lewiss bilang rusa putih penarik kendaraan jadis jahat yang ukurannya hampir sama dengan anjing shetland ponies, wajah rusa itu pucat matanya tanpa sinar dan ketika kalian melihatnya kalian seakan merasakan bahwa diri kalian penuh dengan rasa putus asa rasa yang hampa dan buat diri kalian mati”
“Yah, kau benar vhira” vhira nampak senang ketika widia membenarkan perkataannya, widia menatap wajah vhira yang kini terlihat sedikit ada sinar kehangatan jauh lebih indah dibandingkan pertama kali melihat wajahnya ketika masih dalam keadan entah tertidur atau pinsan “Semalam sebelum tidur aku melihat vhira membaca Novel Narnia terlebih dahulu, dan seperti yang kau tau Rahma,bahwa Magic dalam buku Narnia sedang mempengaruhi pemikirannya”
Exspresi wajah vhira kini berubah penuh dengan kekecewaan, Rahma nampak melihat perubahan exspresi itu dia bergegas menyuruh widia untu segera mandi dan merapihkan diri sementara dia lebih memilih menenangkan vhira.
“Vhira, kau boleh mempercayai Narnia, karena kami juga percaya tapi Exspresi wajahmu membuat aku gila” Ucap widia sebelum pergi meninggalkan vhira dan Rahma
“Hei, kau akan merasakan batunya yang Widia, kau tau pertama kali lucy datang kenarnia dan Edmund tidak mempercayainya apa kau akan membiarkan nasib mu sama seperti edmund”
“Setidaknya ketika aku sampai di Narnia nanti aku sudah lebih mengenal jadis, dan well jika benar narnia ada aku rasa jadis sudah mati, karena tentu kau tau sayang di dalam buku di jelaskan Aslan sudah membunuhnya”
“Widia, akukan menyuruh mu untuk mandi kenapa masih disini, bukannya kau tadi sudah pergi”
“Gua suka ngebercandai Vhira”
Vhira yang nampak kesal mendengar perkataan widia tapi kini dia nampak bisa menahan emosi, mungkin saja widia benar, semalam dia hanya berimajinasi tapi bagai mana dengan rela.
“Kakak berangkat dulu, sebentar lagi Alyaa datang kalian kalau mau sarapan nyari aja di luar uangnya ada di Aul, jadwal kuliah kakak hari ini gak lama kok hanya tiga jam”
“Lok k” vhira nampak aneh melihat keadaan rela yang terlihat seperti tak ada hal yang aneh yang menimpanya.
“Kenapa vhira, keajaiban itu datang sekali dan cukup hati kita yang tau dan mempercayainya, kakak pikir kita cukup beruntung semalam bisa melihat salju dan rusa putih, sekalipun rusa putih yang kita lihat tidak seperti yang kita impikan setidaknya kita punya dunia kita sendiri, dan dunia kita, sudah memanggil kita”
“Tunggu sebentar” Widia yang sejak tadi belum juga pergi untuk mandi kembali angkat bicara “jadi semalam benar ada salju?”
Rela mengaggukan kepala
“Tapi kenapa, tidak ada bekas salju dijalan, yang ada hanya pohon cemara tumbang” widia mendekati pintu dan menatap kearah pohon tumbang yang belum juga dirapihkan “Padahal aku jugakan mempercayai adanya dunia lain di dalam kehidupan kita”
“Mungkin belum saatnya kamu dipanggil dunia mu, ya udah kakak pergi”
Semuanya serempak mengagguk, kau sudah melihat bagaiman gadis kecil beranjak dewasa keusia diamana mereka harus memulai kehidupan mereka yang sesungguhnya, seperti itulakh ketika kau menatap bagaimana keadaan Rela yang kini sedang mengubah citra diri kearah yang lebih dewasa, dengan exspresi wajah datar dan garisan kecil di kening yang akan membuat mu berpikir bahwa dia lebih cocok menjadi nenek tua bukan wanita dewasa.
“Yah lebih baik aku mandi” widia kini benar-benar pergi
“Aku akan membantu Aulia membereskan kamar, apa yang akan kamu lakukan vhir?”
“Entahlakh Rahma, kepalaku berat rasanya”
“Kalau begitu lebih baik kau Istirahat!”
“Yah” Vhira menjatuhkan diri diatas shopa yang ada diruang tamu kecil dan segera menutup kedua matanya, berusaha menghilangkan ingatan yang terjadi kepadanya semalam, sementara itu Rahma bergegas menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu, jika di teliti rumah ini seperti rumah gadang, semua terbuat dari kayu-kayu yang kokoh dan hangat hanya saja jika dirumah gadang seperti panggung tapi bagian yang seharusnya panggung disini dibuat menjadi bagian rumah lagi, sehingga kau akan berpikir rumah ini adalah seperti lumah lantai dua moderen lainnya hanya seluruhnya terbuat dari kayu-kayu yang sudah di cat pelumas sehingga warna coklatnya terlihat indah sekali. Keseluruhan purniture rumah seperti rumah moderen pada umumnya, yang membedakan hanya ketika kau masuk kedalam kamar milik rela yang sekarang mereka semua tempati, kamar ini memiliki purniture yang berbeda lebih kelasik dan justru lebih terlihat kuno ditambah lukisan gadis kecil sedang bermandikan cahaya yang terletak tepat diatas meja belajar dan ketika kau membuka pintu kamar itu, gadis kecil itu yang akan pertama kali kau lihat.
“Kak Rela aneh yah, kamar serem banget seperti kamar-kamar jaman dulu”
“Gak juga sih Aul, K Rahma juga suka model kamar k rela!”
“Tapi masa sih mesti ada kursi goyang di dalam kamar”
“Kalau dikamar k rela serasa bukan lagi di Indonesia yah, coba aja deh liat ke jendela langsung di sambut pohon cemara dan rumah tua berarsitektur belanda”
“Ahhhhh....” Aulia menjerit ketika membuka kaca jendela
“Kenapa?”
“kaca jendelanya kok dingin banget kaya Es”
Rahma mendekat pelan ke arah Aulia, dia menatap jendela kamar yang masih setengah terbuka, dengan cepat tangannya bergegas mendorong jendel itu, kau tau bagaimana bentuk jendela kamar itu kau akan menyukainya karena ukuran jendela yang tinggi dan besar ketika kau membuka jendela itu kau serasa membuka pintu, ditambah ternya jendela itu bukan sekedar jendela ada teras kecil di luarnya dan ada sebuah kursi dan meja kecil disana, di ujung teras berukuran 2X4 Meter itu ada sebuah tungku perapian.
“Enggak dinggin biasa aja Aul”
“Masa sih..” Aulia sekali lagi menyentuh jendela yang merupakan pintu keteras kecil itu “Aneh yah perasaan tadi dingin, lagian ternyata disini ada teras yah hehehe.. teras tersembunyi”
Aulia bergegas menduduki kursi kecil yang ada di teras itu, matanya menatap kearah rumah tua disebrang jalan, sementara Rahma terlihat membersihkan tungku.
“Apa Itu?” Aulia menunjuk kearah gundukan putih yang ada di samping tungku, Rahma yang melihat benda putih lembut itu bergegas mengambil benda tersebut.
“Aw..dingin, ini sisa salju” wajah Rahma nampak terheran-heran melihat tumpukan benda putih yang sangat lembut yang sedang dipegangnya, lebih lembut dari kapas sangat lembut dalam benaknya jadi yang semalam dilihat Vhira dan kak rela benar-benar salju, beruntung sekali mereka bisa melihat salju kenapa dia tidak dapat melihat benda putih yang sangat menakjubkan itu.
“Yah... jadi bener yah semalam ada salju”
“Salju Apa?” Sebuah suara tiba-tiba, mereka hapal betul siapa pemilik suara itu, gadis kecil dengan rambut iklanya dan gaya yang sedikit tomboy.
“Alyaa...” Aulia dan Rahma langsung memeluk sahabat mereka yang baru datang
“Kenapa k vhira tadi terlihat pucat dibawah, kemana k widia dan k rela dan salju apa yang kalian bicarakan” alyaa memborong banyak pertanyaan itu sudah biasa dia lakukan.
“Sepertinya kami butuh banyak waktu satu jam untuk menjawab semua pertanyaan mu itu”
“Siapa yang datang!”
“Kak Widia!”
“Alyaa”
“Hei, kalian membiarkan aku tertidur dibawah sendirian” Vhira datang, wajahnya sedikit terlihat lebih cerah
“Tadi aku sudah mencoba membangunkan kakak, tapi aku pikir kakak seperti cape sekali jadi aku tidak berani mengganggu tidur kakak”
“Wah, alyaa kamu terlihat ceria sekali”
“Iyah donk ka vhira, kita kita harus selalu ceria”
“Melihat tingkah mu aku jadi teringat Queen lucy” vhira sedikit menggoda
“kalau itu aku rasa terdengar sedikit berlebihan”
“hehe.. vhira.vhira aku pikir masih ada pengaruh buku narnia setelah kau dan k rela bilang melihat salju semalam”
Alyaa nampak kaget mendengar perkataan widia, dia bergegas mendekat kearah vhira yang masih berdiri di depan pintu, tapi sebelum alya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, vhira lebih dulu menegaskan bahwa dia tidak ingin membicarakan kejadian semalam dan lebih baik rela yang menceritakan semua kejadian, karena yang lebih dulu melihat kejadian semalam memang rela.
****
Rela terlihat serius menceritakan kejadian semalam, kali ini dia menceritakannya dengan sangat semangat karena hampir semua yang hadir mempercayai apa yang dilihatnya semalam kecuali widia, yang lebih asik mendengarkan sambil memandangi Televisi.
“Impossible”
“Kau tau Aul, vhira mengetakan hal yang sama dengan mu ketika melihat salju menutupi rumah tua di depan dan jalanan”
“Terus apa yang harus kita lakukan K Rel” Alyaa yang paling semangat dalam hal ini sejak tadi dia lebih memilih untuk berdiri di teras kecil itu dan berharap salju akan segera turun menemuinya “Apa kakak pikir Aslan memanggil kita dan apa yang sedang terjadi kepada Narnia”
“Bukannya di buku dijelaskan bahwa Narnia yang selalu di datangi ke empat anak Adam itu sudah hancur, Narnia mana yang akan kita datangi atau kita dipanggil ke Negri aslan dengan demikian berarti kita akan meninggal” Widia kini mulai kembali angkat bicara
“Kakak rasa apa yang dikatakan widia benar”
Rahma nampak menelan ludah mendengar perkataan widia dia membayangkan bagai mana jadinya jika yang mereka datangi justru negri Aslan, berarti dia akan meninggal dan tentu dia belum siap akan hal itu.
“ Di dunia ini kita hidup tidak pada satu dimensi tetap, ada ribuan dimensi yang kita lalui, ada dunia diantara dunia. Kalian tentu tau hutan diantara dunia-dunia..” Rela tak meneruskan perkataanya melainkan dia lebih memilih menunggu respon lawan bicaranya terlebih dahulu.
“Aul tau k rel, hutan yang di datangi Digory dan Polly bukan?”
“Tepat sekali, mungkin saja dunia yang memanggil kita adalah salah satu diantara dunia-dunia itu”
Alyaa yang sejak tadi berada di luar tiba-tiba merasakan angin kencang berhembus kearahnya, dengan cepat dia berlari kedalam ruangan dan menutup pintu itu, kini pintu tersebut kembali terlihat seperti jendela
“Kenapa Al?”
“Entah k rel, angin kencang sekali mungkin sebentar lagi hujan akan datang”
“Tunggu” Aulia seperti melihat sesuatu “Look, That is mist”
Semua nampak serentak melihat kerah yang dimaksud Aulia, ternyata kabut yang sangat lebat nampak menutupi jendela kamar yang baru saja ditutup, kini semua berlari kearah jendela tersebut. Tapi kabut terlalu tebal mereka tidak bisa melihat keadaan diluar jendela, yang terlihat justru hanya kabut putih yang setiap kali kau melihatnya yang ingin kau lakukan adalah mengucek-ngucek matamu karena terasa tidak nyaman pandangan mata yang kabur.
“BRUK” Tiba-tiba pintu jendela itu terbuka dan mereka semua terjatuh saling berjatuhan menindih satu sama lain
“Aku pikir ka widia, mendidih ku” Jerit Alya kencang
“Akh... siapa yang menindihku” Balas Aulia sambil merengek kesakitan
“Auhh bukan aku, aku sendiri berada di posisi bawah dan aku rasa vhira menindihku “ suara Rahma terlihat paruh
“Berarti ka rela yang menindih ku” Aulia mengambil kesimpulan, padahal jelas-jelas yang menindinya Alya dan widia.
“Apa kita sedang berada di Cair Paravel?”
Mereka semua menghentikan keluh kesahnya ketika mendengar perkataan rela yang sejak tadi ternyata sudah berdiri meyadari bahwa ada yang aneh menimpah mereka. Semua kini tersadar bahwa mereka bukan berada di teras kecil melainkan tempat lain.
Tiga” Dwraf Pengembala
Kau tau seperti apa aroma bunga mawar, negri ini lebih memiliki wangi yang jauh lebih indah dari bunga mawar yang sedang mekar-mekarnya, mencium aroma wangi yang begitu segar ini, ituakan membuat seorang nenek kembali kemasa gadisnya. Benar-benar wangi yang sangat liar dan merasuk keadalam tubuh ke Enam sahabat yang kini terjebak di negri tersebut.
Langit di negri ini bukan berwarna biru seperti langit yang biasa kau lihat di dunia mu, langitnya berwarna merah muda yang benar-benar mempesona, awan putih terlihat begitu teransparan hanya seperti kabut-kabut tipis menghiasi dinding langit yang berwarna pink, cahaya mataharipun tak seterik cahaya matahari yang menyinari bumi yang seolah garang melawan segala keculasan, disini cahaya matahari sangat menghangatkan.
“Ka rela, ini istana siapa?”
“Entah lak aul...”
Widia membersihkan debu-debu kecil yang menempel dipakaiannya, sementara vhira sibuk membantu membangunkan, alya dan Rahma.
“Apa k rela pikir ini Narnia”
“kak Rasa bukan, Narnia yang Lewiss ceritakan jauh sekali dari apa yang kakak lihat di negri ini”
“aku rasa juga seperti itu”
“Sepertinya Istana ini kosong, karena ketika kita terrjatuh debu-debu langsung menyergap kita, karena kalau ternyata istana ini ada yang menghuni aku yakin tidak mungkin lantai indah ini dibiarkan kotor, orang seperti apa yang tinggal di sini sampai mereka membiarkan debu-debu menyelimuti istana, aku yakin jorok” widia sudah mulai angkat bicara sementara yang lain lebih memilih diam, udara yang sangat segar dan wangi cukup untuk membumkam mulut mereka agar tidak banyak bicara.
“Gresilia kau tidak menutup jendela kamar mu sayang”
Mereka semua tersentak mendengar suara yang datang, dengan cepat ke enamnya terdiam tak berani mengucap sepatah katapun, mereka tak ingin keberadaanya diketahui penghuni istana ini karena bisa jadi mereka akan dianggap penyusup dan nyawa mereka berakhir di tiang gantung atau yang lebih mengerikan seumur hidup dijadikan budak di istanan ini. Suara langkah itu semakin dekat dan mendekat tapi tiba-tiba suara itu berbalik arah dan kembali menjauh lalu hilang.
“Apa yang harus kita lakukan ka Rel”
“Kita harus segera pergi dari tempat ini ka Rel”
“Yah, aku rasa tempat ini tidak cukup baik buat kita ka Rel”
“Suttt! Kalian bisa diam, ikuti aku...”
Mereka menggendap-ngendap, bersembunyi di balik patung lalu berlari kearah patung lain begitu seterusnya hingga mereka semua sampai di depan gerbang Istana dengan perasaan yang sangat was-was ke Enam sahabat itu lebih memilih untuk bersembunyi terlebih dahulu pada pohon Apel besar yang persisi berdiri tegak di dekat Pintu gerbang Istana yang dijaga oleh dua orang manusia kulit hitam yang sangat kekar dan berkepala botak, tapi janggutnya begitu tersisir rapih, keduanya penjaga tersebut berdiri tegak di depan pintu gerbang Istana dengan pedang menyilang di dada mereka.
“Bagai Mana cara kita keluar dari sini”
“Aku Rasa k rel, sebaiknya kita menunggu malam tiba, mungkin kalau malam kita bisa mengendap”
Widia menarik napas panjang, dia menyenderkan tubuhnya pada pohon Apel tua itu “Aku lebih ingin memilih kembali ke Indonesia dari pada terperangkap di Negri ini, negri yang ingin aku datangi Narnia, bukan negri antah berantah yang tak jelas seperti ini Om Santi, Santi Om”
“Sedang Apa kalian mengendap-ngendap disini seperti penyusup saja” Sebuah suara yang sangat lembut tiba-tiba mengagetkan mereka, widia yang hampir saja hendak menutupkan kedua matanya segera bangkit dan mendekati kelima sahabatnya, yang lain benar-benar terlihat syok pikiran mereka melayang membayangkan nasib mereka yang kemungkinan besar berakhir di pedang para penjaga gerbang tersebut.
“Glory for Princess” Tiba-tiba pelayan tua itu mengganggukan kepala dan pergi begitu saja ketika melihat wajah gadis-gadis asing yang seharusnya dia serahkan kepada algojo istana untuk di penggal kepalanya, tapi yang terjadi pelayan tua itu justru pergi begitu saja membiarkan mereka.
“Apa yang pelayan tua itu katakan, Princess ! siapa yang dia maksud Princess?”
Rahma nampak terlihat mengangguk-ngaggukan kepalanya seolah dia menemukan cara untuk pergi dari tempat tersebut “Aku, tau ikuti aku dan bersikaplah seolah kita bukan orang asing disini”.
Yang lain tidak banyak bicara dan lebih memilih untuk mengikuti Rahma dari belakang, mereka berusaha menenangkan diri, menyembunyikan kepanikan dan bersikap seolah-olah mereka sudah biasa keluar masuk Istana, sekalipun sebenarnya jantung mereka berdetak kencang, entah sudah seperti apa bunyi napas mereka yang kini tak teratur ditambah lagi keringat dingin terasa membasahi seluruh tubuh. Kini semua tak berani menatap kedepan karena jarak mereka dan dua orang penjaga gerbang Istana tersebut hanya tinggal satu langkah, mereka semua tertunduk kecuali Rahma, dia sekuat tenaga berusaha memberanikan diri menatap kedua laki-laki yang lebih cocok dikatakan raksasa dibanding dengan manusia, karena ukuran badan dan tinggi mereka diatas rata-rata manusia Indonesia pada umumnya.
“Glory for Princess” kedua laki-laki itu berteriak kencang membelah udara sekitar, tak berapa lama pintu gerbang Istana terbuka lebar dan kau dapat melihat padang Ilalang luas di luar Istana terhampar begitu Indah. Semua tak berani menatap kejadian menakjubkan bagai mana kedua gerbang tersebut terbuka secara otomatis hanya karena teriakan kedua laki-laki besar itu, mereka lebih memilih mempercepat langkah kaki mereka agar segera keluar dari Istana yang membuat mereka sangat kebingungan, dan akhirnya mereka berhasil melepaskan diri mereka dari ancaman hukuman mati istana karena ketakutan akan tuduhan sebagai penyusup, ke enamnya berhamburan diantara padang Ilalang luas yang terhampar begitu bebas sejauh mata memandangpun yang terlihat hanya padang ilalang lepas berwarna merah jambu dengan aroma mawar yang semakin menusuk hidung mereka, dan tak berapa lama mereka semua melihat pintu gerbang Istana itu tertutup kembali dan semua terlihat begitu sunyi setelah itu.
“Yeah...” Mereka berenam berteriak kencang dan tertawa, berlarian diantara padang Ilalang. Mereka saling mengejar seperti anak kecil yang baru bisa berlari, di wajah mereka terlihat begitu kebahagiaan yang teramat dalam.
“Lihat, Istana Itu nampak terlihat indah disini”
“Waw, Is Magic”
Alyaa dan Aulia nampak lebih sesama memperhatikan Istana yang baru saja mereka tinggalkan, mereka baru menyadari bahwa Istana itu terlihat begitu Indah, seperti sebuah bunga yang sedang merekah tapi ada sesuatu hal yang membuat keduanya kemudian menjerit histeris, memandang Istana tersebut secara lama membuat mereka merasa hati mereka sakit- sangat sakit, kau mungkin pernah merasakan bagaiaman kegelisahan pada hati yang membuat kau sulit untuk tidur sementara kau sendiri tidak tau alasan apa yang membuat kau sangat gelisah, perasaan yang Alyaa dan Aulia rasakan juah lebih menyakitkan dan menyeramkan dari itu semua hal itu membuat mereka menangis sejadi-jadinya, entah karena apa dan untuk siapa mereka menangis, mereka sendiri tidak tau itu.
“Kenapa kalian berdua” Rahma terlihat berlari menemui Aulia dan Alyaa, gadis berkulit putih ini memang yang paling perhatian terhadap kedua sahabat kecilnya itu, Rahma memiliki pembawaan yang sangat tenang setenang air yang mengalir. Dia memiliki keahlian dalam mengendalikan emosi dan perasaannya, belum lagi sikapnya yang selalu perhatian dan memampu memperlihatkan bagaimana rasa cintanya kepada para sahabatnya, membuat sosok Rahma sangat dicintai, bahkan widia yang terkenal dengan kekeras kepalaanyapun lebih sering berasama dengannya mengahabiskan waktu dan berbicara layaknya dua gadis remaja, keduanya sangat akrab walaupun keduanya memiliki sipat dan pembawaan yang berbeda dan kau tau seperti apa Widia, gadis berkacamata itu akan terlihat lebih serius dan pintar dari kalian semua, dia mampu memposisikan dirinya untuk selalu dihormati dengan segala intelegensitas yang dia miliki, kemampuannya dalam berdipolomasi sudah tidak diragukan lagi, gadis yang menghabiskan masa liburan tahun lalu untuk meracik obat-obatan di apotik milik ibunya memiliki keahlian yang jauh melebihi gadis seusianya, tapi widia akan selalu memposisikan kau terlihat lebih bodoh dan tak nyaman jika berada di sampingnya, dia selalu lebih suka berpikir rasionalis dan mungkin dia adalah satu dari seribu orang Indonesia yang tergabung dalam para Empirisme.
“Kakak kau tau jika melihat istana itu hati ini serasa sakit” Aulia berusaha menjelaskan dengan Isakan tangin, Aulia memang paling manja diantara ke Enam sahabat itu, dia sering menangis hanya karena masalah hal sepele, apapun yang diinginkanya harus segera di turuti tipe orang penuntut tapi tidak mau dituntut tapi kemanjaannya membuat siapapun akan selalu merindukan Aulia jika hanya dalam beberapa hari dia tidak hadir di sekolah. Aulia akan lebih manja jika berhadapan dengan Vhira. Vhira adalah gadis berambut panjang yang memiliki kelembutan teramat dalam, senyumnya selalu berkembang sepanjang waktu jika kau jalan bersamanya, kecantikan vhira membuat semua laki-laki di sekolah menaruh hati kepada perempuan dengan mata yang indah itu tapi vhira lebih senang menghabiskan waktunya dengan membaca buku tanpa mempedulikan laki-laki yang menitipkan salam kepadanya.
“Benar begitu Alyaa”
Alyaa mengaggukan kepala, gadis kecil tomboy yang memiliki sejuta kecerian membuat kehangat dan semua orang yang ada disampingnya lupa akan masalah yang sebenarnya menghampiri mereka, kemampuan alyaa dalam berimajinasi membuat tawanya terasa semakin berwarna dan merekah karena alyaa kadang mencampur adukan apa yang terjadi dengan hal-hal konyol yang ada dipikirannya.
“Lebih baik kita segera pergi dari tempat ini” Vhira mulai terlihat panik
Semua menatap Vhira secara serempak dan kau akan terkejut ketika melihat wajah vhira terlihat begitu pucat seperti tak bernyawa, dia baru saja merasakan hatinya serasa ditusuk pisau tajam setelah menatap Istana itu kurang dari lima menit. Setelah melihat bagaimana exspresi wajah vhira, kini semuanya serempak berlari kearah Timur padang Ilalang, entah kemana mereka akan pergi, tapi mereka akan pergi menjauh dari Istana indah yang sangat mengerikan itu.
Mereka terus berlari tanpa mengenal lelah, semakin mereka berlari yang mereka rasakan adalah kelegaan dalam hati mereka, Aulia yang sangat merasakan bagai mana hatinya kini merasakan kebahagiaan senyumnya mulai berkembang dan dia berlari seperti terbawa angin, wangi angin itu adalah aroma mawar yang membuat tubuh mu serasa habis berendam dengan sari bunga mawar setelah habis bepanas-panasan seharian.
“Sihuttt! Lihat” Alyaa menujuk sesuatu
“Dwarf” Mereka semua berteriak kompak dan berlari kearah manusia kecil yang mereka tau mahluk seperti itu di tuliskan lewiss dalam buku Narnia dan dinamakan dengan Dwarf. Dwarf kecil itu membawa tas bambu yang dianyam sedemikian halus, sangat halus dan lembut sehingga tidak terlihat bahwa tas itu terbuat dari bambu, pakaian yang digunakan sang Dwarf sangat unik dengan warna-warna yang sangat mencolok mata, sepatunya seperti sepatu Aladin dari negri seribu satu malam yang bagian depannya dibuat runcing, dwarf kecil itu membawa cambuk kecil yang sesekali dia pukulkan kepada kambing yang sedang digembalakannya.
“Permisi”
“Astaga” Dwarf kecil itu terlihat kaget ketika mendengar sapaan dari Alyaa, dengan cepat dia membalikan badan dan kau tau exspresi wajahnya berubah menjadi sangat menakutkan badannya menggigil seperti habis melihat setan, lalu dwarf kecil itu menundukan kepala dan menjatuhkan diri, seperti hendak menghormat pada seseorang.
“Glory for Princess” suaranya terdengar lembut penuh kehati-hatian
Aulia melangkahkan kakinya mendekati dwarf kecil itu “Mr...” aulia tidak meneruskan ucapannya karena dia tak tau harus menyebut dwarf kecil itu siapa.
“Grupisser, Yah Princess. My name Grupisser” dwarf kecil itu memperkenalkan diri dengan terus menunduk, sehingga ke enam sahabat itu tidak tau siapa yang dimaksud Princess oleh Grupisser
“Mr, Grupisser” Widia mendekat kearah dwarf kecil itu “Siapa yang kau maksud dengan putri disini tidak ada putri”.
Grupisser kini berani mengangkat kepala dengan tajam matanya dia arahkan kearah rela yang sejak tadi lebih memilih untuk tidak berbicara. Grupisser menatap rela dengan begitu lama dan sangat tajam hal itu membuat rela sedikit risih dan ketakutan melihat tatapan mata manusia kecil yang menurutnya sangat mengerikan.
“Kenapa kau menatapku dengan tatapan yang sangat mengerikan” Rela kini mulai protes
“Maaf, Yang Mulia Putri Gresillia. Bukan maksud hamba bertindak tidak sopan, tapi kenapa Yang Mulia putri terlihat tidak bersemangat”
“Aku bukan Gresillia” Ucap rela dengan sangat lembut saking lembutnya suara itu seolah hadir di bumi hanya seperti angin yang hadir sejenak lalu hilang menembara menyusuri pelosok lain dari bumi.
“Mustahil, Wajah kalian begitu mirip sekali, tinggi badan rambut bahkan bola mata kalian berdua nyaris sama, aku tidak tau kalau Putri Gresillia memiliki kembaran”
“Aku bukan Princess Gresillia ataupun kembarannya” Rela menegaskan
Grupisser nampak mengerutkan keningnya dia sedang berpikir keras “ Aku pikir, jika kalian tidak memiliki hubungan darah bagai mana bisa kalian berdua begitu miirip Miss..”
“Rela” Rela dengan cepat memberi tau namanya, agar dwarf itu tak lagi menyebutnya sebagai princess gresillia
“Iyah Rela, kalian berdua seperti pinang di belah dua begitu mirip dan sangat mirip”
Grak,grak.Grak Sebuah suara nampak mendekat, mereka sadar betul suara itu suara tapal kaki kuda yang terdengar semakin mendekat, semakin dekat dan kau dapat melihat seorang prajurit menggunakan baju besi lengkap sedang mengendarai kuda hitam yang sangat gagah, kuda hitam itu benar-benar sangat mempesona, matanya berwarna biru, begitu gagah jika melihat kuda tersebut kau akan tau bahwa kuda itu bukan kuda kuli yang biasa kau lihat di Indonesia untuk menarik delman atau sejenisnya.
“Princess Gresillia, Queen Reniera ingin berjumpa dengan Yang Mulia”
Kalian tidak akan sempat berkedip ketika melihat gerak tangan prajurit berkuda hitam itu menarik tangan Rela dan menaikannya dikuda yang sangat gagah perkasa, setelah itu keduanya menghilang secepat kilat, semua baru tersadar ketika melihat kuda itu sudah berada jauh dipandangan mereka.
“Kenapa dia begitu cepat melakukan itu, dan bagaimana dengan Ka Rela” semua kini mulai terlihat panik.
“Lihat apa yang terjadi, bagai mana kita bisa melepaskan ka Rela. Apa kita harus masuk kembali ke dalam Istana yang sangat mengerikan itu, akh... kenapa kita tersesat disini yang aku inginkan aku berada di Narnia, berjumpa dengan Queen Lucy dan King Edmund”
“Narnia” Grupisser terlihat memastikan perkataan Widia
“Yah, Narnia negri yang sangat bebas”
“Apa Kalian berasal dari Narnia, Apa kalian tau dengan Aslan”
“Mr Grupisser, kau tau aslan?” Vhira kini mendekat
“Iyah Aslan, mendengar nama itu membuat ku sangat merindukan nenek moyangku yang berasal dari Narnia, andai saja Narnia tidak benar-benar berakhir andai saja tidak ada monyet hina yang mempropoganda Aslan”
“Kau berasal dari Narnia, kalau begitu pasti ada jalan menuju Narnia disini....” Semua nampak begitu antusias kali ini
“Tidak ada jalan menuju Narnia, dalam kitab kuno bangsa Dwarf di jelaskan bahwa Aslan hanya memperuntukan orang-orang yang mempercayainya untuk datang kenarnia sesungguhnya tempat semua raja dan ratu Narnia berkumpul dan aku dan bangsa dwarf lainnya hanya bisa menikmati ke indahan narnia dalam kitab kuno bangsa kami dan yang paling memaluka diakhir kehidupan bangsa Narnia, bangsa dwarf banyak yang tidak mempercayai aslan itu sangat ingin membua ku menangis” Dwarf kecil itu membelai lembut janggutanya dimatanya terdapat tetesan air mata yang begitu sangat menyedihkan.
“ouh... Mr Gruppiser, kau Dwarf terbaik yang pernah ku temui” Aulia sedikit menghibur dan memeluk Dwarf kecil itu “Setidaknya kami juga mempercayai Narnia dan menikmati keberadaan Narnia lewat buku yang kami punya, Narnia tidak benar-benar berakhir, karena Narnia akan selalu hidup di hati kita”
Widia berbisik kearah Rahma “Kau lihat tingkahnya? sangat menjijikan, dia seolah-olah memposisikan dirinya seperti Queen Lucy saat berjumpa dengan Mr.Tumnus”
“Dan kau, jangan memposisikan dirimu seperti King Edmun, karena jika king Edmun memiliki kemuliaan kau tidak” Rahma terlihat kesal melihat tingkah widia
“Apakah kau tidak sadar, kau selalu memposisikan diri mu seperti Queen susan yang bijaksana, kau tidak lebih bijaksana dari gadis kecil yang setiap hari berpura-pura main ibu-ibuan bersama teman-temannya ditaman” Suara Widia kini mulai terdengar sedikit keras
“Jaga mulut kamu widia” Emosi Rahma kali ini benar-benar tidak terkendalikan
“Ouke Mom..”
“Lebih baik kamu pergi widia, kamu hanya memperkeruh suasana dan membuat kepalaku semakin serasa ingin pecah”
Tanpa banyak bicara widia pergi meninggalkan mereka
“Ka widia tunggu aku ikut” Alyaa yang sejak tadi terdiam tiba-tiba angkat bicara dan lebih memilih untuk pergi bersama widia, sebenarnya Alyaa tidak tega membiarkan widia pergi sendirian ditempat yang sama sekali tak dikenalnya.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan k Vhira, k widia dan alyaa pergi”
“Kita lebih baik jangan sampai terpisah dengan k Rahma, kau tau kita belum tentu bisa kembali ke dunia kita, dan sangat menakutkan jika harus pergi tanpa orang yang kita kenal”
“Permisi”
“Yah, Mr. Grupisser” Rahma terlihat sudah bisa menggembalikan emosinya, ada perasaan menyesal mengapa dia memperlakukan widia begitu kasar, tapi ocehan widia membuat kepalanya pusing belum lagi dia harus berpikir bagai mana cara melepaskan rela.
“Sebentar lagi matahari tenggelam, saya harus segera membawa kambing pergi dari tempat ini, karena biasanya jika malam tiba tempat ini akan di jadikan para prajurit Kerajaan Glorydeer untuk berlatih berperang, aku tidak ingin terperangkap dalam simulasi perang yang sangat mengerikan dan kau tau kami bangsa Dwarf tidak suka berperang”
“Tapi kami tak tau kami harus pergi kemana, Kami bukan berasal dari Negri ini” Rahama kembali menjelaskan, dia yakin Dwarf kecil itu pasti akan mudah memahami apa yang terjadi pada mereka.
“Long life to Aslan, Kalian bukan warga Roseland. Apakah yang terjadi dengan kalian sama seperti yang terjadi dengan King dan Queen Narnia”
“Mr,Grupisser. Kami yakin kurang lebih seperti itu nasib kami, kami sedang ada dikamar tiba-tiba jendela berkabut dan ketika kami membuka pintu jendela kamar kami, kami terdorong lalu terjatuh di Castle di selatan sanah”
“Kalian sudah pernah memasuki Deer white, Atas Nama Aslan. Istana itu begitu Indah sejak kecil aku selalu ingin memasuki Istana itu, ceritakan pada ku bagaimana keadaan dalam Istana?” Grupisser nampak terlihat begitu penasaran dan bersemangat
“Ouh Demi Tuhan Dwarf yang baik hati, Istana itu membuat aku menjerit merasakan bagai mana yang namanya sebuah penderitaan” Aulia nampak tidak ingin menceritakan keadaan Istana indah itu.
“Mr Grupisser, kami tak sempat memperhatikan keadaan istana, kami begitu ketakutan dan ingin segera keluar dari sana”
Grupisser nampak tertegun, dia melihat ada hal yang aneh yang diceritakan ketiga kawan barunya tentang Istan Deer White, kenapa Istana yang begitu Indah mereka anggap begitu mengerikan dan menakutkan apa yang sebenarnya terjadi “Aku rasa ada hal yang aneh yang sedang terjadi, lebih baik kita segera pergi dari tempat ini, tempat ini mungkin saja berbahaya untuk kita semua”
“Apakah burung-burung di sini bisa berbicara” Aulia nampak masih penasaran dengan keadaan Negri Roseland.
“Ini bukan narnia sayang, tak ada hewan bisa berbicara kecuali bangsa Dwarf” Ucap grupisser sambil mengisyaratkan kepada Rahma,Aulia dan Vhira untuk mengikutinya.
“Auh, Ka Rahma disini aku pikir ada bangsa Faun dan satyr. Roseland sama saja dengan bumi..”
“Itu Rumah ku” Grupisser menunjuk kearah rumah kecil di tepi danau, Rumah itu terlihat kokoh berdiri diantara hutan Bambu yang menjulang tinggi, bunga mawar menjalar liar menutupi sebagian dari rumah tersebut, dan pada pintu depan rumah menggantung sebuah sangkar burung yang di huni oleh anak burung Elang.
“Apakah disini kau tinggal sendiri Mr. Grupisser”
“Tidak, aku tidak tinggal sendirian. Kalian akan terkejut jika melihat siapa yang tinggal dengan ku disini. Aku sengaja tinggal disini, jauh dari bangsa dwarf lainnya karena inggin menjaga Blotting dia adalah teman yang begitu berharga dan sangat mencitai ku, sejak kecil aku menjaganya dengan sepenuh hati”
“Apa kau membicarakan aku Gruppiser?” Sebuah suara yang sangat berwibawa tiba-tiba melibatkan diri, ketiga sahabat itu langsang memfokuskan pandangan mereka kearah belakang pondok kecil itu dan kau tau apa yang mereka bertiga lihat, kau akan berjingkrak ketika mengetahui bahwa yang keluar dari belakang pondok kecil itu adalah seekor kuda jantan yang gagah berani dan kuda itu bisa berbicara.
“OH, my God. Impossible” Mereka bertiga serentak berbicara dengan nada yang sangat lembut.
“Kalian tidak akan percaya bahwa Blotting adalah keturunan dari kuda Narnia yang dibawa kakek ku berratus tahun lalu. Dia satu-satunya kuda yang bisa berbicara yang tersisa yang keluarga kami miliki, aku menyembunyikannya cukup lama, maka dari itu aku lebih memilih untuk bersembunyi di sini jauh dari bangsa dwarf lain, karena jika mereka tau bahwa blotting bisa berbicara mereka akan membunuhnya, bangsa dwarf yang melarikan diri ke roseland sudah berjanji tidak akan pernah mengingat narnia, mereka hanya menjadikan kitab kuno kami dongeng pengantar tidur, Narnia mereka anggap dongeng belaka dan dengang blotting hidup diantara kesunyian ini aku bisa menghidupkan narnia dalam hidup ku”.
“Auh... Grupisser aku lebih suka kau panggil Bloth, dan kalian putri hawa , siapa nama kalian” Suara Bloth terdengar begitu menyejukan dan membuat kegembiraan diantara ketiga sahabat itu
“Kuda yang tampan, kami yakin kau adalah kuda keturunan fledge. Kami senang dengan begitu kami merasa kami bagian dari narnia”
“kalian tau Mr. Fledge, Bapak dari para kuda terbang. Aku tak percaya itu, kalian adalah sahabat Narnia”
“Tentu kami adalah sahabat Narnia yang sejati”
Empat “ Terjebak Menjadi Princess
Kalian tidak akan mengenali Rela Mutiara lagi, Perempuan itu kini sudah terlihat berbeda. Kerutan di dahinya hilang seketika, kacamata yang biasa dia gunakanpun sudah ditanggalkannya entah karena dia sudah bisa melihat tanpa kacamata atau karena alasan lain. Rambut panjang yang biasa dia ikat dengan bentuk tak jelas terurai rapih, senyumnya yang manis mungkin akan jarang kau lihat jika dia berada didunianya, karena baginya tidak ada waktu untuk tersenyum sia-sia diantara ribuan masalah yang selalu menimpahnya. Hidupnya sebelum ini benar-benar kacau, dia menghabiskan seluruh harinya untuk berdiam diri di teras kamarnya menghadap notebook kesayangannya dan menciptakan ribuan kisah cinta klasik, berharap keajaiban cinta menghampirinya. Sejak kecil dia menghabiskan waktunya untuk berimajinasi membentuk dunianya sendiri berharap akan datang kepadanya pangeran tampan menggunakan kuda putih lalu mengatakan I love you my princess, kau akan lebih gila lagi jika melihat perempuan berkacamata itu menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya, dia akan teriak menyala matikan notebook kecilnya lalu menangis dan tertidur. Hidupnya benar-benar kacau, lingkungan tempatnya menuntut ilmu merupakan neraka baginya dengan sahabat-sahabat yang lebih cocok sebagai kakek ataupun orang tua dalam kehidupannya, kau bisa bagaikan bagai mana harus menjaga sikap ditengah para sahabat yang justru lebih cocok menjadi ayahmu ( aku tidak bisa membayangkan kehidupannya).
Rela berjalan anggun dengan mata menatap tajam kedepan padahal sebelumya di dunianya dia akan selalu berjalan tertunduk seakan semua beban tentang dunia berada dipundaknya, belum lagi dia akan menyembunyikan tangannya pada kantung celana yang dikenakan berusaha menyembunyikan keresahan yang sedang di deritanya. Aktivitas lainnya dihabiskan untuk belajar menjadi aktivis berharap menjadi aktivis sosial malah salah mengambil jalur dan akhirnya dia ikut terjun ke dunia politik yang membuatnya lebih tua dari anak-anak usia 18 tahun pada umumnya. Hatinya pernah kacau ketika sebagian pria menganggapnya berusia lebih dari 20 tahun disitu dia tersadar ada yang tidak beres dengan dirinya dan setelah menatap cermin kecil yang sudah kusam yang menggantung di dinding kamarnya, kau akan tau betapa lamanya cermin itu berharap sang pemilik menggunakannya untuk menatap diri tapi sia-sia, kini setelah sekian lama cermin itupun akhirnya digunakan tapi setelah itu cermin malang itu justru dibuang ketongsampah karena sang pemilik menuduhnya berdusta dan menampakan wajah nenek tua ketika pemiliknya sedang bercermin, padahal kenyataannya sang pemilik memang tak lebih dari wanita muda yang memiliki beban hidup jauh dari pada seorang nenek tua.
Berusaha mengubah diri itu yang dilakukan gadis berkulit hitam, perlahan dia mau memperbaiki semua yang menurutnya membuat dirinya terlihat berbeda dan aneh, tapi tenyata butuh waktu mengubah diri. Hal yang pertama dialakukan adalah lebih sering menghibur diri dan mengurangi segala aktivitas berpikir yang bisa membuatnya terlihat lebih tua dan berusaha bersikap semanis mungkin agar ada pangeran tampan yang mau menjadikannya putri dalam kehidupan pangeran itu, tidak butuh lama menemukan pangeran tampan yang sesuai dengan hatinya tapi butuh waktu yang lama untuk meyakinka pangeran itu. Kini hal tergila yang terjadi pada rela adalah menghabiskan untuk menunggu laki-laki bernama Dimas mengatakan Ilove you kepadanya, cukup lama dan membuatnya benar-benar seperti wanita dewasa yang sangat gila.
“Princess Gresillia, kau tidak akan menghabiskan waktu mu untuk berdiam diri dikamar”
Suara itu benar-benar membuat jantung rela berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya, kemarin setelah dia dipaksa untuk naik oleh prajurit berkuda yang tak lain adalah panglima perang tertinggi bernama Galma, dia langsung di pertemukan denga Queen Reniera putri berambut pirang dengan mata berwarna biru yang sangat menyeramkan, Ratu itu sangat tinggi dan memiliki paras yang sangat menakutkan, setiap kali dia berbicara seluruh istana serasa berguncang, kesediahan dari sekian ribu kesedihan adalah ketika kau menatap Ratu itu, di wajahnya tak sedikitpun terpancar kebahagiaan yang ada hanyalah sebuh dendam, amara dan keserakahan yang teramat mendalam.
Keadaan Deer white begitu jauh dari apa yang dipikirkan Mr.grupisser, istana yang tampak mempesona itu terlihat begitu kelabu seperti penuh dengan kemunapikan para penghuninya, sekalipun kau akan terkejut jika melihat bagaimana air terjun setinggi 5 meter berderu didalam istana, air itu kemudian jatuh kedanau kecil yang tepat berada di aula kebesaran sang Ratu. Air danau itu kemudian mengalir melalui sungai-sungai kecil dan menyatu dengan tujuh danau yang ada di halam luar istana. Sungai-sungai kecil itu sengaja dibuat dan atasnya dilapisi oleh sebuah kaca tebal yang sekalipun kau injak menggunkana sepatu besi kaca itu tidak akan pernah pecah. Berada di dalam istana Deer white serasa berada di alam bebas karena bunga mawar menjalar menutupi singgahsana sang ratu, Bunga teratai hidup bebas di danau yang biasa disebut dengan danau keabadian di dalam istana deer white, dibawahnya ribuan ikan hidup tanpa sedikitpun perasaan cemas dan waswas, karena tidak akan ada seorangpun yang mengambil ikan-ikan yang penuh warna itu.
Rela bejalan diatas permadani yang begitu lembut menuju tempat Agung sang ratu, baju yang dikenakannya terbuat dari sutra yang di jahit menggunakan benang emas dan dilapisi manik-manik berbagai batu mulya. Sebuah mahkota yang terbuat dari mutiara hitam kualitas tebaik melihkar dirambutnya, sepatunya terbuat dari berlian yang dibentuk sedemikian rupa jauh lebih indah dari sepatu kaca milik cinderrela, wajahnya kini terlihat merah merona entah seperti apa wajah princess gressillia jika seorang rela yang baru hidup satu hari di Deer white bisa berubah seratus persen dari aslinya.
“Duduk lah, Princess”
Perlahan rela menduduki kursi emas yang sudah dipesiapkan untuknya tepat dihadapan sang ratu, sekalipun singgasana sang ratu berdampingan dengan air terjuan yang terus bergemuru tapi ketika sang ratu berbicara, air terjun itu seolah terdiam suasana hening seketika menyapa seluruh ruangan yang memiliki aroma udara yang begitu segar tapi .
“Princess, sesuai kesepakatan usiamu kini sudah beranjak dewasa dan tentu kau tau raja Galls dari negri Breaker sudah meminang kau untuk pangeran Endria”
Rela lebih memilih diam, dia pikir bukan haknya untuk menjawab semua perkatan ratu yang memang bukan diperuntukan untuknya melainkan untuk princess gresillia
“Bersikaplakh selayaknya seorang putri, kau tau bahwa kerajaan kita semenjak peninggalan ayahmu sedang dalam posisi kritis. Tugas mu sebagai pewaris tahta kerajaan adalah menjaga kesetabilan negri roseland, menikah dengan pangeran endria adalah jalan satu-satunya agar negri Breaker tidak mengambil alih kekuasan ku sebagai penguasa negri ini”
“Jadi sebenarnya ini untuk kekuasaan mu atau kesejahteraan rakyat Roseland” Rela membernikan diri untuk berkata, dia yakin ada yang tidak beres dengan kerajaan Roseland.
“Sikap mu tidak menunjukan bahwa kau seorang putri gresillia” Queen Reniera nampak terlihat emosi mendengar perkataan orang yang dia pikir adalah Gresillia
“Yang Mulia bilang, aku adalah seorang putri penerus kerajaan tentu aku punya hak untuk berbicara”
Semua orang yang hadir dalam pertemuan itu terlihat saling berbisik, mereka tak percaya seorang princess gresillia yang mereka anggap selama ini selalu mengikuti perintah sang ratu kini berani membantahnya.
“Yah, aku berhak untuk berbicara pada kesempatan kali ini, bukan kah kalian semua yang hadir tentu tau, bahwa yang seharusnya duduk di singgasana agung itu adalah aku, tapi perempuan licik itu merebut tahta kekuasaan ku, dalam surat wasiat yang diberikan sang raja tertuliskan atas nama rakyat Roseland dan atas nama Aslan bahwa ketika aku sudah dewasa ketika itupula tahta kerajaan secara otomatis berpindah kepadaku”
Rela seperti kerasukan dan seolah sudah memahami sejuta permasalahan yang negri Roseland alami, entah karena apa dia seperti menemukan jiwa raga sang putri masuk dalam dirinya, sementara itu semua yang hadir nampak terlihat berubah exspresi menjadi pucat pasi, didalam diri mereka seperti ada sebuah ketakutan yang teramat dalam ketika mereka mendengar kata Aslan, rela sendiri tak tau kenapa dia menyebutkan kata Aslan, seperti ada sebuah kekuatan besar yang mendorongnya untuk berkata demikin.
PENASARAN………………???? TUNGGU LANJUTANNYA YAH…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar