Sore itu hujan deras, Petir turun dari langit saling menyambar. Langit kota Rangkasbiung benar-benar kelam walaupun sesekali terang terkena cahaya petir. Air mulai menggenangi Jalanan seputar pasar kota Rangkasbitung, Para pedagang kaki lima mulai sibuk membereskan dagangannya, mereka berlarian memasuki emperan toko. Di sudut toko pakaian D&D berdiri seorang laki-laki berkacamata dengan kemeja biru dan dasi merah marun, tampangnya terlihat intelek ditambah kacamata yang membuatnya seperti orang pintar.
“Hallo, aku bentar lagi sampai, kamu bisa jemput aku? Soalnya aku gak bawa mobil terus disini hujan deras”
Suara laki-laki itu terdengar samar-samar diantara rintih hujan yang semakin mengguyur kota rangkasbitung.
“Iyah.iyah aku ada tepat di depan toko D&D, Kamu taukan? Udah dulu yah disini hujan deras gak begitu jelas”
Laki-laki itu mengakhiri percakapannya.
Setengah jam berlalu, hujan sudah reda yang tersisa kini hanya percikan air yang jatuh dari genting, laki-laki berkacamata itu masih setia menunggu orang yang di hubunginya. Wajahnya terlihat panik karena orang yang diatunggu tidak juga hadir juga, sesekali dia melirik arlojinya. Sementara itu para pedagang kaki lima mulai kembali menjajahkan barang dagangannya, Sesaat dia mulai merogoh telepon genggamnya, berusaha menghubungi orang yang akan menjemputnya, namun tiba-tiba.“BRUK” Seseorang menabraknya, Hendphone laki-laki itu terjatuh dan masuk kedalam kubangan air sisa hujan yang ada di depan pertokoan tempat dia berdiri.
“Maaf, aku gak sengaja…”
“ Oke Gak masalah…”
Perempuan itu segera mengambil Handphone yang terjatuh dan mengeringkannya dengan ujung baju yang di kenakan.
“Ini, Maaf yah”
“gak masalah”
“ oyah, aku wita!”
Wita tersenyum, ketika meyadari bahwa orang yang ada dihadapanya begitu tampan, sesaat wina mulai mencuri-curi pandang, dia merasa tidak asing dengan laki-laki itu.
“Hei, kamu mirip sekali Digta…”
“Digta mana?”
“ vokalis yovie and nuno lokh”
Dalan hanya tersenyum mendengar perkataan wita, baru kali ini dia melihat seorang gadis yang begitu ceria. Wajahnya lumayan, wita memiliki bola mata yang indah, halisnya tebal, hidungnya mancung, belum lagi kawat gigi yang dia kenakan menambah manis setiap kali dia tersenyum. Kulitnya kuning langsat rambutnya terurai panjang berwarna hitam kental.
“Tid…tid…”
Sebuah mobil Volvo berwaran hitam, tiba-tiba berhenti. Tidak berapa lama jendelanya terbuka dan seorang wanita cantik dengan kacamata hitamnya melambaikan tangan kearah dalan.
“Sory, aku udah di jemput senang berjumpa dengan mu”
“Iyah”
Perlahan mobil yang dinaiki Dalan melaju kencang meninggalkan pusat keramaian. Hujan benar-benar sudah reda, wina segera melanjutkan langkahnya karena hari ini dia ada janji dengan teman lamanya semasa sekolah dulu.
*****
Malam semakin larut Dalan hanya terdiam, tangannya tak pernah berhenti memainkan balpoin kesayangannya, bahkan ketika jam wekernya berbunyi dia masih tetap asik dalam lamunanya wajah dalan begitu dingin, tak ada seorangpun yang mampu menebak pemikirannya. Dalan adalah seorang ekonom yang sangat handal, dikampusnya dia merupakan salahsatu mahasiswa yang sangat berpotensi dengan nilai tertinggi, selain itu dalan mudah bergaul dengan orang lain, sehingga pergaulannya luas dan relasinya sangat banyak, tapi ada satu kelemahan dalan yang orang lain tak mengerti, emosinya sering meluap dan tak bisa terkendalikan.
“ Lan, Kamu jadi pindah ke Rangkas, disini itu kota kecil tak berpotensi lagi pula kamu yakin kuat pulang pergi Jakarta-rangkas untuk menyelsaikan s2 mu?”
“ Iya bu, dalan yakin lagi pula Rangkas-jakarta tidak begitu jauh, dalan yakin dalan sanggup”
Bu ratna membuka koper-koper dalan yang masih tertutup rapih, dipindahkannya semua isi koper kedalam lemari tua disudut kamar. Sesaat perempuan itu tersentak kaget ketika melihat sebuah pisau tajam di dalam koper itu.
“apa ini lan, kok bawa-bawa pisau segala?”
Dalan segera bangkit dan mengambil pisau itu, dipandanginya pisau itu dengan tajam, hal itu membuat jantung bu ratna berdetak kencang, baru kali ini dia melihat orang menatap pisau dengan tatapan yang sangat mengerikan.
“hehehehe…”
Dalan tertawa kencang, diletakannya pisau itu diatas meja tua, tepat disamping jam weker yang kesayangannya.
“wajar bu, cowok bawa pisau buat jaga-jaga. Apalagi kata orang rangkasbitung itu terkenal dengan jawaranya, jadi aku harus membiasakan diri”
“akh, kamu ini ada-ada saja” Bu ratna menepuk pundak dalan dan pergi meninggalkan dalan seorang diri.
*****
Pagi ini suasana di kampus La-Tansa Mashiro Nampak sedikit berbeda, Tidak biasanya Para mahasiswa di kumpulkan di lobi utama kampus. Mahasiswa itu saling berbisik menanyakan satu samalaian apa yang terjadi, sehingga pihak kampus mengumpulkan mereka. Tidak berapa lama kemudian seorang laki-laki tua naik keatas podium, semuanya hapal betul siapa laki-laki tua dengan kumis tebal itu, dia adalah pendiri kampus yang mereka tempati.
“Selamat pagi”
Suara laki-laki itu memecah keramaian, sesaat paramahasiswa itu menghentikan pembicaraan mata mereka fokus memandang laki-laki di atas podium.
“Pagi…”
Tiba-tiba seorang mahasiswi, menjawab sapaan laki-laki itu dengan terlambat, membuat semua orang yang hadir tertawa dan mengalihkan pandangan matanya kearah sang pemilik suara.
“Wit, kebiasaan malu-maluin, lu telat jawabnya!”
Wita hanya tersenyum mendengar perkataan sahabatnya, matanya memandang kearah pendiri kampus itu yang menatapnya tajam.
Satu jam berlalu laki-laki tua itu mengakhiri pembicaraannya, sementara para mahsiswa bergegas menuju kelas mereka masing-masing, mereka saling berbisik menanggapi perkataan pendiri kampus mereka yang bermaksud mengadakan Pensi besar-besaran untuk merayakan ulangtahun kampus mereka. Tak berapa lama rintihan hujan mulai turu, kedua sahabat itu masih terjebak di lobi utama kampus. hari ini mereka tak ada jadwal kuliah rencananya sehabis perkumpulan mahasiwa mereka akan pergi keperpustakaan daerah, tapi kini mereka hanya bisa diam karena hujan.
Hujan semakin deras mengguyur kampus, beruntung kali ini tidak diikuti petir seperti kemarin sore, wita dan sahabatnya hanya bisa menunggu hujan reda dengan sabar. Tidak berapa lama kemudian sebuah mobil Volvo hitam berhenti tepat di depan lobi utama, pintunya terbuka dan seseorang turun dari mobil itu, tapi wita tak dapat melihat orang itu Karen payung yang dikenakan lebih dulu keluar, baru ketika payung itu diangkat wita tau kalau orang itu adalah dalan. Dari arah lobi seorang wanita dengan rok mini dan sepatu tinggi 17cm berjalan mendekati dalan, dengan cepat dalan segera memayungi wanita itu dan mengantarnya keadalam mobil. Setelah wanita itu masuk kedalam mobil, dalan segera balik kelobi.
“Hei…” dalan menyapa wita yang sejak tadi bengong melihat apa yang dalan lakukan
Wita tersentak karena dia pikir dalan tidak akan menyapanya, karena ketika pertama kali dalan turun dari mobil wita yakin bahwa dalan melihatnya, dan wita pikir dalan sudah lupa dengan dirinya.
“oyah, kamu wita kan?”
Dalan melontarkan peranyaan kembali membuat wita salah tingkah dengan sikapnya yang hanya diam, buru-buru wita menelan ludah berusaha membasuh tenggorokannya yang sudah kering.
“Iyah aku wita..”
“masih ingat aku..?”
Wita hanya mengangguk, dia benar-benar salah tinggkah di depan dalan, orang yang jelas-jelas baru dia kenal kemarin sore.
“oyah kalian berdua mau kemana?”
Dalam melempar pertanyaan dan sesaat mengarahkan pandangannya kepada lis, hal itu membuat lis gerogi, karena memang tatapan mata dalan yang tajam seringkali membuat perasaan orang yang di tatapnya menjadi campur aduk.
“aku dan wita, tadinya mau pergi keperpustakaan daerah tapi keburu hujan”
“ouh, kalau begitu ikut saja dengan ku, nanti ku antar”
“Tidak usah, merepotkan”
“ouh enggak ko, maukan wit kamu aku antar?”
Wita mengangguk, sepertinya wita memang tidak akan pernah bisa menolak ajakan dalan.
******
Didalam mobil suasana begitu hening, tak sepatah katapun yang keluar dari mulut wita, dalan ,lis dan wanita yang duduk di samping dalan, semua sibuk dengan perasaan masing-masing, sesaat wita memandang karah dalan yang sedang fokus menyetir, tampaknya dalan mengetahui tingkah wita dan balas memandang wita lewat kaca sepion, wita melempar senyum ketika mata mereka bertemu, tapi dalan hanya menatap tajam dan dingin tanpa membalas senyuman wita. Hal ini membuat wita merasa aneh dan ngeri membayangkan diri dalan.
“Tolong berhenti di depan kantor DPRD sana”
Lis memecah keheningan, Dalan segera membelokan mobilnya mengintari alun-alun kota rangkasbitung, tak berapa lama mobilnya berhenti tepat di depan kantor DPRD. Dalan keluar lebih dulu dan mengantarkan lis masuk kewilayah kantor tersebut, perpustakaan daerah terletak di wilayah kantor DPRD tersebut, setelah mengantarkan lis, dalan segera menuju mobil kembali untuk menjemput wita, tapi ternyata wita sudah keluar menerobos hujan, dalan buru-buru mengejar wita dan memayunginya.
“Kenapa keluar lebih dulu sebelum aku jemput ?”
“Aku tidak mau merepotkan mu”
“aku tidak merasa direpotkan”
“Terimakasih, tapi aku benar-benar minta maaf karena sudah merepotkan mu”
“ aku tidak merasa di repotkan karena aku mencintai mu!”
Wita benar-benar syok mendengar perkataan dalan, orang yang baru saja dia kenal berani mengucapkan cinta kepadanya, itu merupakan hal tergila yang pernah terjadi dalam hidup wita.
“Kamu gila, lalu siapa wanita itu?”
“Dia sepupuku, selama di Rangkasbitung aku tinggal di tempatnya, rumahnya di kompleks palaton tidak jauh dari sini”
“tapi kita tidak saling kenal”
Dalan menarik napas panjang, sekali lagi matanya menatap tajam kearah wita, kini seluruh tubuh wita bergetar melihat pandangan mata dalan, bibirnya kelu dan kaku tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dalan menarik tangan wita, meletakan sebuah kartu nama dan segera mengantarkan wita kearah lis yang sejak tadi berdiri memandangi mereka.
“Aku pergi”
Dalan membalikan tubuhnya sesaat kemudian mobil yang di kendarai dalan melesat dengan cepat.
*****
“Halo dalan?”
Terdengar suara wita dari kejauhan, sebenarnya wita ragu untuk menghubungi dalan, tapi ada sebuah dorongan batin yang selalu memaksanya untuk menghubungi dalan, setelah kejadian di kantor tadi pagi.
“Iyah, saya dalan ada apa wit?”
Wita tersentak, ketika mendengar dalan menyebut namanya, dari mana dalan tau kalau yang menghubunginya wita,Tapi wita tak begitu peduli kenapa Dalan mengetahui bahwa itu dia, yang dia pedulikan adalah jawaban apa yang harus dia berikan kepada dalan.
“Bisa bertemu?”
“Bisa, dimana? Tapi aku tidak begitu mengenal kota rangkasbitung”
“Nanti aku sms tempatnya, kalau begitu udah dulu yah”
“oke”
“asalamualaikum”
Terdengar wita mengakhiri pembicaraan, sementar dalan hanya terdiam tanggannya menggengam erat gelas kopi yang sedang di minumnya, sesaat dia mengalihkan pandangan kearah gelas itu.
“Akh…”
Dalan menjerit keras dan membantingkan gelas yang dipegannya, pecahan gelas itu berserakan dilantai kamar, tak berapa lama kemudian terdengar suara bu Ratna mengetuk pintu kamar.
“Dalan, ada apa nak?”
“Iya ka, ada apa? Tadi aku dengar ada suara piring pecah dikamar kk”
Dalan tak juga menjawab teriakan orang-orang di luar kamarnya, hal itu membuat Dwi sepupunya bereriak makin keras.
“Ka, Cepet buka pintu k!”
Tak berapa lama kemudian dalan membukakan pintu kamarnya, semua syok ketika melihat kaki dalan berdarah, dan pecahan gelas itu tertancap di kakinya. Hal itu membuat bu ratna semakin panik.
“Duh, dalan kamu kenapa nak? Kok bisa seperti ini”
“Tadi dalan gak sengaja, menjatuhkan gelas kopi”
“ya udah bu, cepet bawa ka dalan ke rumah sakit”
Mendengar pernyataan dwi dalan tanpa sangat panik, dia bersih keras bahwa lukanya tidak akan parah dan dia bisa mengatasi semua itu.
“Kamu yakin nak tidak mau di bawa kerumah sakit?”
“Ini hanya luka kecil bu, dalan tidak apa-apa, kalau boleh lebih baik dwi ambilkan air dingin untuk membekukan darah yang keluar”
“Baik ka!”
*****
Sudah satu jam dalan berdiam diri di alun-alun kota Rangkasbiung, sisa-sisa hujan tadi pagi masih terlihat jelas, daun-daun berserakan di jalanan karena gugur terhempas angin, sementara di lain sisi seorang kakek tua dengan sigap membersihkan daun-daun itu, kakek tua itu terlihat gagah dengan sepatu boat dan baju berwarna orange menyala ditambah topi koboynya yang sesantiasa menemani, entah sudah berapa lama kakek tua itu bekerja di dinas kebersihan setempat, Dalan hanya meliriknya sebentar selebihnya dia tak peduli dengan kekek tua itu.
“Masih Lima belas menit lagi” dalan melirik arloji yang dia kenakan, penampilan dalan kali ini jauh berbeda dengan biasanya, dia hanya menggenankan kemeja sport warna biru dan jins oblong selutut, tentu kali ini dalan tidak bisa menggunakan sepatu, Karen kakinya yang terluka. Dalan memutuskan untuk berjalan kearah wahana sport center yang ada di tengah alun-alun, dia hendak merebahkan badannya pada sebuah bangku hitam panjang di samping lapangan basket namun tiba-tiba wita datang hal itu membuat dalan mengurungkan niatnya.
“Dalan, sudah menunggu lama?”
“Satu jam yang lalu”
“Loh kitakan janjiannya jam setengah empat sore”
“Bukankah lebih cepat lebih baik”
Wita tersenyum mendengar jawaban dalan, karena mengingakannya pada salah seorang capres Indonesia dari salah satu partai politik.
“Dengan siapa kamu datang”
“Oh..dia teman sekolah ku sewaktu sma dulu, namanya zaky”
Dalan melirik laki-laki yang berdiri di samping wita, laki-laki itu menyodorkan tangannya kearah dalan, tapi dalan tidak mempedulikan ajakan jabat tangan laki-laki itu, malah dia menarik tangan wita dan mengajaknya ke bawah ring basket untuk berbicara.
“Dia pacar kamu”
“Bukan..”
“Suruh dia pergi”
Wita tak berani menolak, karena tatapan mata dalan sangat mengerikan dengan cepat dia langsung melambaikan tangan kearah zaky, tanpa banyak pertanyaan laki-laki itupun meninggalkan mereka berdua.
*****
Tatapan mata wita tak pernah lepas memandang dalan,sementara itu dalan tetap fokus mengendarai Volvo hitamnya. Wita benar-benar tak berani berkata apapun sejak dipaksa untuk naik kedalam mobil oleh dalan, wita benar-benar merasakan sesuatu yang aneh dengan diri dalan. Taraikan tangan dalan begitu kasar kepadanya, saking kerasnya membuat wita hampir naik pitan, tapi sebelum itu dalan sudah tersenyum membuat perasaan wita sedikit tenang.
“Apa dalan memiliki dua keperibadian?”
Pertanyaan itu yang selalu dipikirkan wita sepanjang perjalanan, wita menyadari betul bahwa dalan akan membawanya kesuatu tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota Rangkasbitung,tapi hatinya selalu tidak bisa untuk menolak apa yang dalan inginkan.
“Grek…”Dalan memarkirkan mobilnya di sebuah mini market, tanpa banyak bicara dalan turun dan masuk kedalam mini market itu, wita bingung dengan apa yang terjadi padanya. Perlahan dia mulai menyalakan tv kecil yang ada di dalam mobil antik itu. Tapi tiba-tiba dasboard mobil itu terbuka, wita mengurungkan niat untuk menutup dasboard itu ketika melihat sebuah kotak berwarna biru di dalamnya, perlahan dia menarik kotak itu dan membukanya.
“Pisau, Untuk apa dalan membawa pisau?”
Wita segera meletakan kembali pisau itu kedalam kotak, tapi ada sebuah dorongan besar yang memaksanya untuk membuka lipatan kertas kecil yang mejadi alas pisau itu.
“Ya tuhan, dalan seorang pisikopat!”
Wita tersentak ketika melihat surat keterangan dokter yang memponis dalan sebagai seorang pisikopat. Tangannya bergetar, wajahnya berubah menjadi pucat dan panik dengan cepat wita menyimpan kembali lipatan kertas itu dan memasukannya kedalam dasboard. Wita segera membuka pintu mobil tapi pintunya terkunci dari luar, tidak berapa lama kemudian dalan sudah keluar dari mini market dengan satu kantung penuh barang belanjaan. Deren membukakan pintu mobil dan memberikan barang belajaannya kepada wita.
Wita berusaha untuk setenang mungkin agar dalan tidak curiga dengannya, perlahan dia mulai membuka kantung belanjaan dalan, wita hanya mengambil satu kaleng minuman soda dan meminumnya, sekalipun minuman itu terasa hambar di mulutnya. Dalan melirik wita dan tersenyum kearahnya.
“aku mencintai mu”
Wita tidak menanggapi pernyataan dalan, perasaannya sudah benar-benar campur aduk, ada perasaan bahagia mendengar perkataan dalan tapi semua itu tenggelam oleh perasaan takut yang sejak tadi menyelimuti hatinya.
“wita aku mencintai mu!”
Dalan mulai mengeraskan suaranya, membuat wita semakin tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya, tangan wita yang gemetar membuat minuman soda yang di pegangnya terjatuh, tentu hal itu membuat dalan kaget dan menghentikan mobilnya.
“kamu kenapa?”
“Turunkan aku di sini, buka pintunya..”
Wita menjerit histeris dan menangis, hal itu membuat dalan panik dan segera membuka dasboard lalu mengambil kotak kecil biru dan mengeluarkan sebilah pisau, pisau itu dia arakan kearah wita.
“Tolong sayang, aku mencintai mu jangan berteriak”
“kamu ingin membunuh ku”
Wita semakin menjadi-jadi, dia berusaha mengambil pisau yang dalan pegang sementara dalan terus berusaha mengancam wita agar dia bisa sedikit tenang.
“aku tidak akan membunuh mu sayang, aku mencintai mu jadi aku mohon kamu diam, diam…!”
Wita menatap mata dalan yang tersembunyi di balik kacamatanya, wita melihat ada sebuah kesedihan tersirat dimata yang indah itu, hal itu membuat wita sedikit tenang. Melihat wita terdiam dengan cepat dalan membuang pisau yang di pegannya,perlahan dalan merangkul tubuh wita dan memeluknya. Wita membalas pelukan dalan dengan hangat, wita yakin kalau dalan bukan orang jahat, tapi tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi wita merasa tubuhnya benar-benar sesak, dekapan dalan juga semakin kuat membuat dirinya susah untuk bernapas.
“Lepaskan aku dalan”
wita merengek kesakitan dia yakin dalan bermaksud membunuhnya,karena dekapan dalan benar-benar di luar batas normal, perlahan wita sudah tidak bisa menjaga keseimbangan diri matanya mulai terasa gelap sesaat semua pandangannya menghilang suasana berubah gelap
*****.
Wita mendapati dirinya berbaring lemah di jok mobil dalan, sementara itu di jok samping dalan sudah bergelimang darah, hal itu membuat wita syok dan panik.
“Dalan, bangun sayang!”
Wita mengguncang-guncangkan tubuh dalan yang terbujur kaku, dia menyesali apa yang dia lakukan terhadap dalan, ternyata dalan tidak sejahat apa yang dia pikirkan, dalan rela membunuh dirinya sendiri karena takut melukai wita, orang yang sangat dia cintai walaupun wita belum pernah menjawab cintanya. Wita memeluk erat tubuh dalan dicuminya wajah dalan yang selalu membuat jantungnya berdetak kencang, wita benar-benar baru menyadari kalau dia sangat mencintai dalan Sekalipun dalan adalah seorang pisikopat.
******
Tiga tahun sudah berlalu, semenjak percobaan pembunuhan yang dilakukan dalan terhadapnya kehidupan wita benar-benar berbeda, satu minggu sekali wita harus rela pulang pergi Bogor-Rangkasbitung, sebuah anugrah besar bagi wita karena dalan ternyata masih bisa diselamatkan, Pihak kepolisian dan rumah sakit sepakat untuk merehabilitasi dalan di Rumah sakit cikeumeh bogor. Hari ini adalah hari terakhir dalan direhabilitasi, dalan berjanji akan menemui wita di tempat mereka pertama kali bertemu, setahun lalu pihak rumah sakit melarang wita untuk menemui dalan, sehingga ada perasaan cemas dalam diri wita tentang kondisi dalan, sampai suatu hari sebuah surat datang dan menyatakan bahwa dalan ingin bertemu dengannya pada tanggal dan hari sesuai dengan yang tercantum dalam surat itu.
Sore ini Hujan turun dengan deras, suasana di pasar kota Rangkasbitung jauh berbeda dengan tiga tahun lalu, sekalipun hujan para pedagang kaki lima tidak lantas panik dan tetap menjajakan dagangannya, sementara itu toko D&D tampak ramai oleh para pelanggan. Seoarang pelayan toko menemui wita dan menanyakan apa yang perlu di bantu. Tentu wita hanya tersenyum dalam kecemasan karena dalan tak juga datang. Tidak berapa lama kemudian seseorang dengan payung biru berlari kearahnya,wita yang sejak tadi berdiri syok ketika tubuhnya hampir jatuh terserempet orang itu, orang itu kemudian berdiri disampingnya
Seraya mengarahkan pisau kearah wita, tentu hal itu membuat wita ketakutan, tidak berapa lama kemudia orang itu melemparakan pisaunya dan menurunkan payung yang dia kenakan. Wita menyadari betul siapa orang itu dengan cepat wita memeluknya.
“Dalan…”
Hujan semakin deras, percikannya terdengar merdu seperti alunan biola yang membuat orang damai jika mendengarkannya. Wita menyadari bertul tiga tahun lalu dia menemukan cintanya di iringi alunan hujan, dan kini tuhan kembali membawanya kedalam nuansa indah tiga tahun lalu dengan segala kesempurnaan yang tak pernah tebayangkan dengan orang yang dia sayang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar