Aku berusaha sekuat tenaga untuk mencapai seorang yang berjalan di depan ku, dia adalah satu-satunya harapan untuk membebaskan ku di tempat terkutuk ini. Tempat yang sangat gelap dengan angin kencang yang selalu menghempas tubuh ku ditambah badai pasir yang sesekali menyergap membuat ku tak bisa melihat keadaan di sekitar, suasana begitu dingin tubuh ku semakin menggigil, andai saja aku bisa melihat, pasti aku akan menjerit karena kondisi tubuh ku saat ini.
“Bruk”
Tubuh ku menabrak orang itu,aku berusaha meraihnya dengan susah payah ku lingkarkan tanganku di kakinya, kakinya lembab ada aroma yang tak sedap.
“ Kau Berdarah?”
“Siapa yang tidak akan berdarah berada di tengah padang pasir seperti ini!”
Orang itu menjawab, suaranya lemah miris sekali terdengar di telinga, tapi yang membuatku syok kenapa aku bisa berada di tengah padang pasir ini, dan bagai mana cara aku bisa sampai disini.
“ Apa! Padang Pasir, kenapa aku berada disini dan kenapa disini begitu gelap sehingga mata ku tak bisa melihat ?”
Orang itu menarik napas panjang, aku tau dia seorang laki-laki karena suara lembutnya sangat berwibawa dan menggema. Keheningan begitu terasa, laki-laki itu tak juga menjawab pertanyaan ku, sementara aku masih terus tertidur diantara ribuan pasir dengan tangan melingkar dikakinya. Perlahan ku coba menaikan wajah ku, berusaha melihat wajah laki-laki itu.
“Tuhan…! Siapa kau?”
Aku tersentak dan segera bangkit, membersihkan pasir-pasir yang mengenai ku. Kaki ku mundur beberapa langkah, aku benar-benar tak habis pikir kenapa wajah laki-laki itu bercahaya, perlahan cahaya itu Nampak semakin besar mengenai tubuhnya. Sehingga kini dengan jelas aku dapat melihat wajahnya, rambutnya hitam, wajahnya oval dengan mata coklat yang indah, di tambah senyuman yang begitu mempesona. Kaki ku benar-benar lemas dibuatnya, jantung ku berdetak kencang mungkin diatas batas normal. semua ini benar-benar aneh, tiba-tiba aku berada di padang pasir yang gelap, bertemu seorang laki-laki yang tak di kenal dengan tubuh bercahaya.
“A…k…u…”
“Cesila, Pasti melamun!”
Astaga, mataku benar-benar silau, laki-laki itu tak meneruskan perkataanya, kini yang terdengar justru suara yang sangat tidak asing bagiku. Perlahan ku buka mata, tak ada lagi gelap dan laki-laki bercahaya. aku melihat diriku sedang berdiri kaku di depan aula sekolah.
“Deren!?”
Wajah Deren terlihat bingung menatap ku, deren menggelang-gelangkan kepalanya dan pergi menjauh menaiki anak tangga menuju aula sekolah.
*******
“Deren, Kamu liat cowok yang berdiri di depan ku tadi, matanya coklat rambutnya sedikit ikal, tubuh dan wajahnya bercahaya?”
Aku berbisik kearah Deren yang sejak tadi asik dengan notebooknya, matanya kini memandang kearah ku, perlahan dia menutup notebooknya dan mendekatiku.Deren mendekatkan wajahnya kearah ku, mata kami saling bertemu, aku berdebar kencang baru kali ini Deren menatapku dengan tajam.
“Hei, Kamu lagi panas yah ces?”
“Maksud kamu?”
“Cowok mana yang kamu cari, wong dari tadi kamu iki Cuma berdiri sendiri di depan aula”
“ Wong Jawa lu hehehe…”
Aku segera menjauh dari Deren benar-benar tidak bisa diandalkan hidupnya memang gila dia seperti hidup di dunianya sendiri, tak pernah aku mendengar sosok deren berkeluh kesah, hidupnya selalu penuh canda,tawa dan kegembiraan. Deren selalu membuat orang disekitarnya bahagia, termasuk aku. Dua tahun yang lalu aku bertemu dengan Deren di depan aula sekolah tempat aku berdiri tadi, gayanya yang cuek membuatku tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Aku terus memperhatikan deren dari kejauhan, ternyata dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya, dia mendekatiku seraya memperkenalkan diri dengan logat jawanya, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa dia adalah murid baru di sekolahku, karena dia sama sekali tak mengenaliku, padahal aku adalah ketua osis yang menjabat rangkap sebagai duta pelajar di daerah ku, selain itu aku juga juara sains nasional, entah sudah berapa kali namaku di sebut pada saat upacara sekolah sebagai siswi yang mewakili sekolah dari beberapa perlombaan, tapi Deren sama sekali tak mengenali ku.
“Mau kemana sih ces..?”
Deren menghentikan langkah ku, dia menarik tanganku kebawah tangga sekolah.
“Deren lu gila, ngapain narik-narik tangan gua …”
“Gua pengen denger cerita lo”
“Cerita gua yang mana?”
“ Itu loh, tentang cowok yang kau ceritakan tadi, yang katanya wajahnya iki bercahaya”
Aku tersentak mendengar pernyataannya
“ lakh kau iki, ko diem sih?”
Sesaat pandangan mataku terlempar kesegala arah. Sesak yang terasa karena memang kami berada di bawah anak tangga menuju lantai dua, selain itu sesekali terasa getaran ketika para siswa berlarian diatas tangga. Mataku terhenti pada sebuah kursi bambu yang sudah tua di sudut gudang depan kami berdiri.
“Ambil kursi gih…!” aku mendorong Deren untuk mengambil kursi tua itu.
Deren menggaruk kepalanya “akh, lu males banget, kerjaannya nyuruh-nyuruh aja!”
“Wets. Jangan salah aku iki siswi terajin di sekolah!”
“ Opo tokh rajin dari hongkong! mana so jowo bisanya nyuruh-nyuruh aja tokh?”
Deren bener, selama ini aku sering sekali menyuruhnya melakukan sesuatu, padahal selama dua tahun berteman dengannya, tak pernah sekalipun dia menyuruhku melakukan sesuatu, jangankan menyuruh meminta bantuan saja dia tak pernah.
“grek…grek..grek”
Suara kursi tua yang deren tarik tiba-tiba membuat kepala ku pusing, telingaku menggema dan sesaat aku tak bisa mendengar apa-apa. Ku tutup mataku rapat-rapat tak kuasa menahan sakit yang ku derita. Tiba-tiba suasana berubah, rasa panas terasa di seluruh tubuh angin kencang terasa menapar-nampar wajah, belum lagi pasir-pasir terasa masuk di kedalam mulut dan hidung.
“ Kau masih ingin tau siapa aku?”
Suara itu benar-benar membuat tubuhku gemetar, aku segera membuka mataku. Laki-laki yang pernah aku temui pagi tadi di padang pasir yang gelap, kini sudah berdiri tegak didepan ku, senyumya benar-benar mempesona membuat rasa takut sesaat sirna. Suasana padang pasir yang pernah ku singgahi tadi kini seratus derajat berbeda, dengan leluasa aku dapat melihat matahari yang berdiri kokoh diatas sana. Satu kilo meter di depan ku terdapat pohon kelapa.
“kamu tidak menanyakan siapa aku?”
Laki-laki itu melemparkan pertanyaan, sesaat kulirik wajahnya benar-benar indah dan sangat mempesona, bibirnya merah dengan lesung pipit di pipi kirinya, belum lagi pakaian yang dia kenakan kemeja putih lengan pendek dengan celana putih, di tangan kanannya terdapat sebuah gelang putih yang sangat bercahaya seperti krisatal, aku teringat peristiwa sebelumnya ketika melihat wajah laki-laki itu begitu bercahaya.
Aku menarik napas panjang, berusaha mengatur kembali detak jantungku yang berdenyut kencang, mataku kulemparkan kearah pohon kelapa yang berdiri jauh di depan ku.
“Untuk apa aku menanyakan diri mu, sementara aku menyadari bahwa diri mu tak nyata bagi ku!”
Laki-laki itu kembali terdiam, rasa panas benar-benar membuat tubuh ku terasa terbakar, warna kulitku yang putih benar-benar tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Ditambah lagi sesekali angin yang berhembus membuat pasir-pasir berterbangan, pasir-pasir itu dengan kejam mengenai tubuh, mata bahkan mutukupun tak luput dari terkaman pasir-pasir itu. Tapi ada satu hal yang membuat ku janggal, kenapa laki-laki itu mampu bertahan di padang pasir yang panas bahkan ketika malam tiba dinginnya benar-benar menusuk,
“Sekalipun aku jodoh mu…!”
Perkataan laki-laki itu membuat mataku terbelalak, kembali ku lirik wajahnya, suasana berubah menjadi hening yang terdengar hanya suara gemuruh pasir yang terkena angin kencang. Perlahan laki-laki itu memegang tangan ku, tangannya begitu dingin rasa panas yang terasapun seketika sirna. Aku membalas genggaman tangannya, ada perasaan damai menyelimuti diri ini. Sesuatu yang tak bisa ku ukir dengan kata-kata.
“Au…” aku menjerit karena tiba-tiba angin kencang menerpa kami, dan pasir-pasir yang berterbangan masuk kedalam mataku, rasa sakit begitu terasa, membuatku tak berani untuk membuka mata.
“Cesila, kenapa mata mu!”
Perlahan aku membuka mata ku, ketika mendengar suara Deren terngiang di telinga. Deren tampak sekali panik melihat keadaan ku.
“Apa yang terjadi pada ku…?”
Deren langsung memeluk ku dengan kencang, matanya berlinang,terdengar isakan di telinga ku
“Deren kau menangis? Apa yang sebenarnya terjadi dengan ku!”
Aku benar-benar panik dengan tingkah Deren yang tidak biasanya, wajah deren terlihat pucat belum lagi tingkahnya yang tiba-tiba menangis berbeda dengan deren yang aku kenal, deren belum pernah menangis, bahkan setahun lalu ketika ibunya meninggal deren tak sedikitpun mengeluarkan air matanya.
“why my frend?”
Aku terus memaksa deren untuk berkata apa yang sebenarnya terjadi
“hiks…hiks…hiks..! hahaha… hahaha!”
Deren tiba-tiba tertawa, membuatku semakin tanda tanya, sepertinya deren benar-benar gila, tadi menagis, sekarang dengan cepat dia tertawa terbahak-bahak sambil memeluk ku dengan kencang.
“Lepas, gak Lucu!” aku berusaha melepaskan pelukan deren.
“Enggak, Lagian kamu itu aneh tau gak sih ces!”
“ Yang aneh itu kamu tau gak sih!”
“ kamu yang aneh tiba-tiba, kamu berdiri kaya patung, semua perkataan ku kamu acuhkan!”
“Deren dengarkan aku!” aku melepaskan pelukan deren
Mataku sengaja menyorot tajam kearah deren, agar deren mengerti bahwa yang akan aku katakana ini serius, bukan suatu omong kosong. Sesaat deren menundukan wajahnya aku yakin deren mengerti maksudku. Deren membetulkan kerah bajunya, merapihkan kembali dasi yang hampir jatuh dari lehernya, tangannya dengan terampil mengikat dasi itu membentuk sebuah segitiga yang berdiri kokoh di tengah kerah kemejanya.
“Deren…!” aku menghentikan ucapanku berusaha menarik respon deren yang seperti acuh tak acuh dengan ku.
“aku akan selalu mendengarkan mu ces!”
Jawaban deren sedikit membuatku tenang peristiwa yang terjadi hari itupun ku ceritakan kepadanya.
*****
Malam Ini aku benar-benar tak berani tidur, sejak tadi aku hanya mengkotak katik notebook ku tanpa tau apa yang akan aku lakukan. Sesaat aku memandang kearah jendela, masih terbuka padahal sekarang sudah hampir jam sepuluh malam. Malas sekali untuk menutup jendela itu, terlebih pikiran ku masih melayang memikirkan kejadian hari ini. Dua kali terbawa kedunia yang benar-benar asing membuatku tak bisa memejamkan mata.
“Grek.Grek.Grek”
Hp ku bergetar ada sms masuk nampaknya. Dengan cepat aku berjalan kearah meja belajar ku dan segera membuka sms itu.
“Gua depan jendela kamar lu, buru tokh gua mau bicara!”
“Deren !”
Belum pernah deren malam-malam main kerumah, aku yakin kali ini ada hal penting yang ingin deren bicarakan. Buru-buru aku menuju jendela kamar, dan ternyata benar deren sudah berdiri dengan jaket biru kesayangannya.
“Ayo cepet keluar…”
“ Ikh, malem ah , mau ngapain ngomong di sini aja”
“Cepet keluar, pake mantel mu “
“ Iyah, iya tunggu”
Perasaan ku semakin panik, sikap deren yang aneh membuat pikiranku melayang takkaruan. dengan cepat aku segera menemui deren yang sudah menunggu di luar.
******
Suasana Malam di pusat kota Rangkasbiung begitu gelap, yang menjadi penerang hanyalah lampu-lampu penerangan jalan yang sudah mulai redup. Deren berjalan di depan ku dengan cepat. sejak tadi deren tidak banyak berkata, Lengannya senantiasa masuk kedalam kantong jaketnya sesekali dia melirik kearah ku sambil melempar senyuman.
“Sebenarnya kita mau kemana ?”
“Statsiun …”
“what?” aku berusaha menarik lengan deren
“opo sih?”
“Lu, gila tengah malam gini kita naik kereta?”
“Ini demi keselamatan Kamu ces! Aku mohon tolong aku kali ini saja ikuti apa yang aku inginkan, bukankah selama ini aku tak pernah meminta kepadamu…”
Deren benar, selama ini dia tak pernah meminta apa-apa dariku, ini saatnya aku sebagai sahabat harus bisa mengerti apa yang deren inginkan. Perlahan aku menatap mata deren, menyejukan sekali membuatku sedikit tenang, kali ini aku berjalan tepat di samping deren dengan tangan ku yang tak pernah lepas dari tangan deren.
Suasana Statsiun Kota Rangkasbitung memberi suasana tersendiri yang membuat aku semakin memegang erat tangan deren, kereta yang akan kami tumpangi belum datang, menurut keterangan penjaga karcis kemungkinan limabelas menit lagi kereta itu sampai. Mataku kulemparkan kearah gerbong usang yang berderat di sebrang statsiun, gerbong-gerbong itu sudah tidak dipakai karena setahun lalu terbakar, belum ada kepastian sebab terjadi kebakaran tapi yang pasti seorang penjaga statsiun menjadi korban yang harus menanggung kebakaran itu, kabarnya sampai saat ini dia dipenjara, karena gerbong itu terbakar pada saat kereta diparkirkan. Sementara itu di sudut statsiun seorang anak kecil tertidur nyenyak, bajunya sudah lusuh sekali. Lain halnya dengan kakek tua yang bersender pada dinding statsiun, dia Nampak tidak bisa memejamkan matanya.
“Tut…gujess…gujess”
Kereta api yang akan kami tumpangi sudah sampai, hanya ada beberapa orang saja yang bersiap untuk naik kedalam gerbong, kakek tua tadi juga segera bangkit dan mengambil karung pelastik yang sudah penuh, entah apa isi karung itu sendiri aku tak tau. Deren menyuruhku untuk segera naik kereta api itu. Perlahan kulepaskan genggaman tangan deren, tangan ku segera mencari pegangan pintu untuk naik kedalam gerbong. Tiba-tiba angin berhembus halus memanjakan rambutku yang panjang, ada sebuah kedamaian yang teramat besar dalam diriku, aku memejamkan mata berusaha menikmati hembusan angin itu. Tanganku tiba-tiba terasa dingin dan sejuk, perlahan ku buka mataku ada sebuah cahaya indah berkilau di depan mata. Oase itu yang sekarang ada di hadapan ku, senyum ku semakin mengembang ketika aku sadar betul bahwa aku berada di padang pasir yang sebelumnya pernah kujumpai.
Laki-laki bermata coklat itu berlari menemuiku mengintari oase yang ada di hadapan ku, ada sebuah dorongan kuat yang memaksaku untuk memeluk laki-laki itu ketika dia sudah berada tepat dihadapan ku. Kini aku menyadari betul getaran apa yang kurasakan pada saat ini, aku yakin itu cinta, perasaan yang selama ini belum pernah kurasakan.
“Kamu senang bertemu dengan ku?”
Aku hanya terdiam tak menjawab peranyaannya, pelukanku semakin erat terhadapnya. Tidak berapa lama kemudia dia mendorong tubuh ku, membuat mataku terbelalak kaget bukan main.Ternyata kakek-kakek di statsiun tadi berteriak-teriak memintaku untuk segera naik. Aku menoleh kearah deren, mataku berkaca perlahan Deren menganggukan kepala, seolah dia mengetahui apa yang sudah terjadi kepada ku tadi.
******
Suasana di dalam gerbong kereta benar-benar gelap, aku tak dapat melihat keadaan sekitar, deren menempatkan ku agar duduk dekat jendela sementara itu batinku terus berteriak, entah apa yang sebenarnya terjadi kepadaku.
“Ces, Ingat sekarang kamu memiliki dua kehidupan!”
“Maksud mu?”
“Kakak ku pernah mengalami hal yang sama dengan mu, ruhnya seperi terbawa kedimensi lain di dunia ini, dulu aku tidak pernah mempercayai perkataannya, tapi setelah melihat apa yang terjadi kepadamu dan bukti yang ada, itu membuatku yakin bahwa kakak ku juga mengalami hal yang sama seperti kamu!”
“bukti! bukti apa ?”
Deren berbisik kearah ku, seraya membuka sebuah kertas yang sudah dilipatnya, aku tak dapat melihat isi kertas itu, tiba-tiba seorang kakek yang duduk di depan kami menyalakan korek api, dia seperti tau apa yang sedang kami bicarakan. Samar-samar aku dapat melihak wajah kakek itu dia adalah orang yang tadi bersender di dinding statsiun. Segera kulemparkan pandangan ku kearah kertas yang deren bawa.
Aku tersentak “ Pasir!”
“Yah, aku mendapatkan pasir ini dari seragam sekolah mu tadi sore! Sebelumnya aku minta maaf Karen lancang mengambil seragammu, aku menyuruh bak narti untuk mengambilnya!”
“Lalu apa yang akan kita lakukan dengan pasir ini?”
“Aku tak tau sekarang kakak ku ada di mana, dua tahun yang lalu dia menghilang ketika meyakini bahwa dia ingin hidup pada satu alam yang sesungguhnya dia inginkan”
“aku tak mengerti apa yang kau katakan…”
“Buat diri mu yakin, kehidupan mana yang akan kau pilih, karena kalau tidak kau akan menjadi gila ces!”
“apa maksud mu deren?”
aku sedikit emosi mendengar perkataan deren, volume suara ku ternyata sangat keras membuat kakek yang ada di depan kami terperanjat dan menjatuhkan korek api yang di pegangnya. Dengan cepat deren bangkit dan menginjak korek itu hingga padam.
“Jadi selama Ini kamu menganggap ku gila! Kalau seandainya aku tau itu yang ada dipikiran mu aku tidak akan pernah mau ikut dengan mu kemari, aku benci kamu deren, aku benci”
Aku segera bangkit dari tempat duduk ku, berjalan menyusuri gerbong kereta api, entah sudah berapa gerbong ku lewati yang ku tau aku sudah berdiri dipintu terakhir kereta api, tak ada orang disini, karena memang gerbong terakhir biasanya digunakan untuk barang bawaan penumpang, aku menatap kearah luar pintu terlihat jelas jalanan kereta api yang panjang dan penuh bebatuan, aku sendiri tak mengerti dari mana arah cahaya yang menerangi jalan-jalan itu, padahal tak ada lampu penerangan jalan, aku terpana ketika menyadari betul bahwa sesuatu yang besar akan kembali terjadi kepada ku, segera ku pejamkan mata dan perlahan ku buka kembali, seperti biasa aku sudah berada di tengah padang pasir luas yang sangat ku kenal. Dimana laki-laki itu aku segera berlari mencarinya, ada perasaan yang sangat gembira, ketika mengetahui bahwa aku akan berjumpa kembali dengan laki-laki itu. Tapi setelah sekian lama aku mencari laki-laki itu, tak ada tanda-tanda kehadirannya.
Aku berteriak dalam kesunyain, tiba-tiba dari kejauhan terlihat seseorang berlari kencang kearah ku, aku hapal betul siapa orang itu dia adalah laki-laki padang pasir yang sudah mencuri hatiku. Tapi ada hal yang aneh dengannya, wajah laki-laki itu Nampak murung sekali, matanya yang coklat sangat sayu, belum lagi bajunya sangat lusuh. Tatapan mataanya kini hampa, menatapku penuh kebencian.
“Ada apa ?”
Aku menyelidik kearahnya, dia terjatuh dihadapan ku kakinya berdarah mengingatkanku peristiwa pertama kali aku berjumpa dengannya. Tangannnya tiba-tiba mengambil sesuatu di balik kemeja putihnya. Aku benar-benar syok ketika tau dia mengambil pisau dan mengarahkannya kearah ku.
“Kau benar-benar mencintai ku?”
“Aku mencintai mu, bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kau adalah jodoh ku!”
Aku berusaha mundur beberapa langkah dari laki-laki itu, tapi laki-laki itu semakin mendekat dan mengarahkan pisaunya tepat di leherku.
“Kau percaya kalau aku ini nyata?”
Napas semakin terasa sesak, aku merasa ada darah yang menetes dari leher ku.aku memberanikan diri untuk memegang pisau yang sudah mengenai dinding leherku, dengan tertatih aku berusaha meyakinkan laki-laki iu bahwa aku sangat mencintainya, tapi dia hanya terdiam. Ingatkan ku melayang pada sebuah senyuman yang sangat ringan, pada seorang laki-laki yang ku kenal dua tahun yang lalu, laki-laki yang selalu mendampingi ku.
“Deren tolong aku!” aku berusaha sekuat tenaga berteriak
Laki-laki itu menjatuhkan pisaunya ketika mendengar nama deren, sementara aku terjatuh karena tak kuat menahan rasa sakit yang teramat di leherku, tubuhku tersimpuh diatas ribuan mutiara pasir. Laki-laki itu terus memandangi ku yang sudah terkapar tak berdaya. Aku melihat pisau tadi terjatuh di depanku, dengan payah aku berusaha mengambil pisau itu dan bangkit kembali. Kuarahkan pisau kearah laki-laki itu, dia hanya terdiam melihat tingkahku.
“Kembalikan aku kedunia ku!”
Aku berteriak sekuat tenangga, sehingga besetan pisau dileherku semakin terasa pedih. Sebuah penyesalan terus hadir dalam pikiranku, kenapa aku tak menyadari bahwa deren sangat berarti bagi ku.
“Pluk…”
Laki-laki itu menampar ku, dengan kejam dia menarik mantel ku. Lalu dia menyeret tubuhku diatas panasnya padang pasir, aku tak peduli apa yang dia lakukan. Yang aku pikirkan bagaimana aku kembali bertemu dengan deren yang aku tinggalkan di gerbong kereta api tadi.
“Kamu menginginkan aku mengembalikan mu kedunia mu, sementara aku sendiri terjebak disini entah sudah berapa tahun lamanya, aku sendiri di tempat ini. Tempat yang aku pikir adalah sebuah kedamaian ternyata justru perlahan membunuh ku!”
“aku mohon tolong aku…”
“Tidak, kamu adalah orang yang sudah aku tunggu lama”
“kalau begitu bunuh aku!”
Laki-laki itu menghentikan langkahnya, tiba-tiba dia mendekap tubuh ku aku berteriak sekuat tenanga, sebuah pisau menghunus perut ku. Tubuh ku kembali terjatuh, laki-laki itu mengambil pisau yang masih tertancap di perut ku dan menghunus urat nadianya diapun terjatuh di samping ku. Aku melihatnya memejamkan mata dengan damai, perlahan akupun mulai memejamkan mata ku.
“Cesila…”
Samar-samar aku mendengar teriakan deren, sebuah kebahagian hadir di hati ku, segera ku buka mata, aku melihat tubuhku terkapar di dalam sebuah gerbong yang gelap, disampingku aku melihat laki-laki padang pasir itu, sementara deren dibantu kakek tua yang ku temui tadi dengan para penumpang lainnya terlihat panik. Suasana semakin terasa gelap aku tak bisa melihat apa-apa.
*****
Aku mendapati diri ku sedang berbaring lemah di sebuah ruangan, sebuah selang pernapasan mengintai tubuh ku, sementara di samping ku laki-laki padang pasir itu juga terkapar tak berdaya. Tak berapa lama kemudian seorang suster menyapa ku, aku tersenyum kearahnya
“Dilli belum sadarkan diri nampaknya!”
Suster tadi mendekati, laki-laki padang pasir itu, dari mana dia tahu nama laki-laki itu
“Oyah, Pemakaman teman kamu akan dilakukan sore ini, apakah kamu ingin menghadirinya?”
“Pemakaman siapa suster?”
“ Saudara Deren, tertabrak kereta api ketika melarikan kamu dengan dilli keruamah sakit ini, dia terjatuh dan kakinya terjepit rell kereta api. Pihak rumah sakit sudah berusaha menolong, tapi deren hanya mampu bertahan dua jam, dan menitipkan rekaman ini kepada kami sebelum meninggal”
Entah apa yang terejadi dengan ku setelah mendengar berita itu, suasana berubah menjadi gelap, hati ku terasa sakit dan hancur, mataku menangis tiada henti, ingin rasanya menjerit sekuat tenanga, dengan berat aku berusaha menutar rekaman itu, tidak berapa lama suara deren terdengar paruh di balik rekaman.
“Cesila sahabat ku, Dilli adalah kakak ku yang hilang dua tahun lalu, aku menyadari betul kejadian yang kau alami, mungkin ini memang takdir, aku percaya bahwa kehidupan di dunia ini terdiri dari beberapa dimensi, dan aku yakin tuhan suadah mengatur semua yang telah terjadi, aku harap kau mau mencintai kakak ku dilli, seperti keputusan mu meninggalkan ku”
Suara deren terdengar semakin mengecil dan hilang, aku melirik kearah laki-laki padang pasir yang ternyata bernama dilli kakak dari sahabatku deren, sahabat yang sangat aku cintai.tangan dilli terlihat bergerak, matanya perlahan terbuka dia menoleh kearahku dan tersenyum lirih, aku melihat sebuah senyuman tulus senyuman yang membuat ku damai dan menyadari bahwa senyuman itu sangat tidak asing bagiku. Inikah dimensi cinta yang tuhan perlihatkan kepada ku, aku melihat sosok deren dalam diri dilli.
“Kau benar, Kaulah jodoh ku!”
Aku berkata kepada Dilli, Dilli tersenyum matanya berkaca
“Inilah Dimensi kehidupan yang sesungguhnya, dan inilah dimensi cinta kita!”
relaxap1@yahoo.co.id
kupulan catatan masa SMK ku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar