Rabu, 28 Desember 2011

SEBUAH KISAH

            Serang 1989, Masyarakat sontak dibuat geger atas penemuan seorang bayi laki-laki di depan Kantor Pemerintahan Gubernur Banten. Tak ada saksi mata dalam kejadian tersebut, bayi kecil itu sendiri ditemukan satpam jaga menjelang adzan subuh, Karena pada saat itu kota serang sedang di guyur hujan deras, bayi kecil yang baru berusia sekitar satu minggu itu hanya di letakan pada sebuah kotak yang terbuat dari rotan, kemungkinan air hujan itu masuk kedalam kotak tersebut sehingga bayi kecil itu menangis karena kedinginan, tangis bayi kecil itu membuat seorang satpam tua  yang hendak solat subuh menghentikan langkahnya dan mengambil kotak itu. Peristiwa Penemuan bayi itu selalu jadi bahan pembicaraan masyarakat kota serang, mereka mengutuk ibu sang bayi yang tega membuang bayi tersebut. Pemerintah kota serang sendiri bingung mau di kemanakan bayi yang mereka temukan, hingga akhirnya seorang staf administrasi keuangan kantor dengan senang hati bersedia mengadopsi bayi tersebut.
*****
“Nazarudin khomar, apa pendapat teman-teman mahasiswa tentang kemungkinan penyalahgunaan wewenang oleh gubernur banten terkait kasus menangnya Harlan nata subagja sebagai walikota cilegon?”
“Kami yakin, ada penyalahgunaan kekuasaan dalam kasus ini, mengingat Harlan nata subagja adalah anak dari Bapak Gubernur sendiri, dan kami selaku wakil dari rakyat Banten menghimbau dengan Hormat, agar bapak Ilyas sudibjo mundur dari jabatannya sebagai gubernur, banten perlu peminpin yang demokratis yang membawa Provinsi Banten kearah yang maju, bukan sebaliknya”
***
            “PLUK” Ilyas subagja melemparkan surat kabar berisi petikan wawancara seorang ketua aksi mahasiswa pada saat melakukan aksinya di Kantor pemerintahan provinsi banten kemarin siang. Dahinya mengkerut, wajahnya semakin menegang karen menahan marah. Tidak berapa lam kemudian dia mulai terlihat menghubungi seseorang dengan telepon genggamnya.
“Hallo, tolong kumpulkan informasi mengenai Nazarudin khomar, sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya!”
Ilya segera menutup pembicaraan, sesekali dia mengelus jantungnya. Usianya yang sudah tua mengingatkan agar dia tidak terlalu capai dan harus sering menjaga emosi, agar dia tidak terkena penyakit jantung seperti marak yang terjadi pada para pejabat akhir-akhir ini.
******
“Bapak pikir kamu tidak perlu ikut-ikutan dalam kasus ini, bapak takut terjadi sesuatu dengan zar”
Nazarudin hanya tersenyum mendengarkan kekuatiran bapaknya, dia menatap laki-laki tua yang duduk di sampingnya, perlahan nazar bangkit dan mendekati orang yang sangat dia hormati itu, nazar membungkukan tubuhnya dan mencium kaki laki-laki itu. Tujuh tahun lalu ibunya meninggal dunia dan kini dia hanya hidup bersama ayahnya yang sudah renta.
“Bapak harus mendoakan nazar, karena apa yang nazar lakukan demi kepentingan rakyat. Dan nazar yakin Allah selalu melindungi nazar, karena setiap malam laki-laki soleh bernama khomar senantiasa mendoakan anaknya ini”
Khomar tersenyum mendengar perkataan nazar barusan, dia selalu bangga jika melihat tingkah laku anak semata wayangnya itu. Nazar begitu khomar menyebut anak kesayangannya yang memiliki paras tampan hidungnya mancung, kulitnya putih ditambah tubuh yang gagah, nazar juga memiliki perawakan yang tinggi, semua ciri fisik nazar memang sangat jauh dengan khomar, apalagi dengan istrinya yang keturunan jawa. Tapi nazar tak pernah sedikitpun mengungkit perbedaan fisik itu dengan kedua orang tuanya.
“ Lebih baik kamu tidur zar, jangan lupa nanti malam berdoa untuk kelancaran aksi para mahasiswa besok!”
“Bapak juga jangan lupa, besok bapak ada jadwal pemeriksaan dengan dokter thilda”
Nazar mengingatkan bapaknya, setelah dua tahun lalu pensiun sebagai staf administrasi di kantor  pemerintahan, khomar diponis menderita Diabeats dan harus rutin menjalani tes.
******
            Ratusan orang berkumpul di Depan kantor pemerintahan Gubernur, mereka berteriak-teriak menuntu penurunan Ilyah subagja sebagai gubernur Banten, poster-poster dan spanduk ikut meramaikan aksi protes para mahasiswa yang datang dari seluruh wilayah propinsi banten, diantara mereka ada yang melakukan sebuah teaterikal yang menggambarkan bagaimana seorang penguasa dengan leluasa menempatkan para keluarganya menjadi pengusaha lain di wilayah kekuasaannya. Diposisi depan seorang mahasiswa dengan syal hijau terikat kepalanya berorasi meminpin para mahasiswa lainnya, semangatnya berkobar membuat teriakan mahasiswa lain semakin terlihat menggebu-gebu. Para polisi dan TNI dengan siap siaga berjaga membentuk benteng pertahanan di depan kantor pemerintahan gubernur banten, sesekali mereka menyemprotkan gas air mata kepada mahasiswa yang hendak menerobos masuk. Beruntung dalam aksi ini tidak ada satu mahasiswapun yang melakukan aksi anarkisme, karena sang peminpin aksi dengan sigap selalu mengingatkan mereka bahwa meraka datang kemari untuk aksi damai, bukan anarkis.
            Didalam gedung Nampak wajah Ilyas semakin panik melihat kerumunan masa yang makin bertambah dari hari-hari sebelumnya, wajahnya yang berwibawa kali ini terlihat pucat, matanya terus terpokus pada layar televisi yang menayangkan secara langsung aksi masa tersebut, tak berapa lama kemudian Handphonenya berdering.
“Gimana beres, bagus kalau begitu. Terus cari info selengkap-lengkapnya tentang anak itu”  Ilyas mengakhiri pembicaraan matanya kembali tertuju pada seorang pemuda dengan syal hijau terikat dikepala yang sedang meminpin orasi.
            Nazar menghentikan aksinya, dia memberikan speaker pengeras suara kepada teman disampingnya, sementara itu dia segera menjauh dari kerumunan masa, sejak tadi handphonenya berbunyi keras, nazar tersentak ketika lima belas panggilan tak terjawab dari nomer bapaknya, baru kali ini bapaknya menghubunginya pada saat dia melakukan aksi, dengan cepat dia menghubungi nomor itu, tapi dari kejauhan yang terdengar bukan suara bapaknya melainkan suara seorang perempuan.
“Hallo nazar, saya dokter thilda!”
“iya ada apa dok?”
“Bapak mu tertabrak motor, pada saat hendak kerumah sakit dia sekarang kritis, kamu bisa secepatnya kemari?”
Nazar tak menjawab pertanyaan dokter itu, tubuhnya lemah mendengar orang yang sangat dia cintai terkapar tak berdaya di tengah jalan Karen tertebarak motor, dia membayangkan bagaimana ayahnya yang sudah tua harus merintih menahan sakit. Seorang mahasiswa yang melihat nazar bersender pada pagar segera mendekatinya.
“Bang kenapa?”
“Bapak ku tertabrak motor, sekarang dia kritis di rumah sakit…”
“loh, kok bisa bang, lebih baik abang cepat kerumah sakit”
“Terus bagai mana dengan kawan-kawan mahasiswa?”
“kami akan tetap meneruskan aksi, mungkin damar yang akan mengambil alih dan meminpin orasi abang percayakan dengan damar, abang tidak usah memikirkan teman-teman mahasiswa lebih baik abang pikirkan kondisi bapak abang”
“Terimakasih ya bud, abang pergi dulu tolong sampaikan pada damar bahwa abang menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada beliau”
*****
            Nazar berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit RSUD serang, tadi di jalan dia melihat polisi yang sedang berjaga di sekitar lokasi kejadian penabarakan bapaknya, darah masih terlihat kental di sekitar terotoar, menurut pembicaraan orang-orang yang dia dengar di mobil kemungkinan besar tabrakan itu bukan tanpa di sengaja melainkan sudah di rencankaan, karena polisi sampai saat ini belum menemukan pelaku penabrakan tersebut. Nazar menarik napas panjang jika membayangkan bapaknya benar-benar menjadi incaran para pelaku penabrakan tersebut, siapa orang yang rela melakukan itu padahal bapaknya adalah orang yang baik, seumur nazar hidup dia tidak pernah mendengar bapaknya memiliki musuh.
Nazar melihat dokter thilda bersender didepan pintu UGD, dengan cepat dia segera menghampiri dokter muda tersebut, ketika melihat kedatangan nazar dokter muda tersebut langsung memeluk nazar. Nazar bingung melihat sikap dokter thilda yang lain dari biasanya.
“Ada apa dok?”
“maafkan saya nazar, bapakmu sudah tidak bisa tertolong lagi…”
Dokter muda itu meneteskan air mata, matanya menatap nazar dengan sangat miris, membuat perasaan hati nazar semakin hancur.
            Suasana Depan kantor pemerintahan kota serang semakin kacau, ada beberapa mahasiswa yang melakukan propokasi tindakan anarkisme, aksi demo yang tadinya berjalan lancar berubah menjadi  ricuh, Damar yang diberikan kepercayaan oleh nazar terlihat panik ketika melihat para demonstran suadah tidak bisa di kendalikan, kekacawan ini terjadi ketika sekelompok masa  yang pro terhadap pemerintahaan Ilyas datang dan menyerang para mahasiswa. Melihat kejadian tersebut para polisi yang tadinya dia kini mulai turun tangan membubarkan para demonstran tersebut, mahasiswapun segera berlarian untuk menghindari kemungkinan yang tak mereka inginkan, suasana semakin kacau ketika entah dari arah mana sebuah tembakan meledak mengenai danang yang sejak tadi berusaha menenangkan mahasiswa. Mereka menjerit melihat tubuh damar jatuh tak berdaya. Setelah hampir setengah jam akhirnya polisi berhasil membubarkan masa dan segera melarikan damar kerumah sakit.
            Nazar yang masih berdiri lemah di depan UGD menunggu jenasah bapaknya semakin syok ketika melihat budi dan rekan mahasiswanya datang mendorong troli, suasana semakin mencekam ketikan nazar mengetahui jika yang mereka dorong adalah damar.
“Ada apa dengan damar?”
“Dia tertembak kang, sampai saat ini polisi masih mengejar pelaku penembakan”
Nazar terdiam sudah tak ada lagi kata yang dapat dia ucapkan selain sebuah penyesalan, wajahnya benar-benar lemah, andai saja dia seorang wanita mungkin dia sudah menangis tak berdaya.
******
            Baru berapa jam, jasad pak khomar di kebumikan nazar segera kembali ke rumah sakit untuk menjenguk damar, sementara itu dokter thilda dengan setia selalu berada di samping nazar, suasana di rumah sakit Nampak sangat berbeda, banyak sekali polisi yang berkeliaran, para wartawan juga ikut berjaga di depan pintu rumah sakit, kasus penembakan Damar ternyata sudah menjadi incaran para pemburu berita. Sementara itu di depan UGD beberapa mahasiswa hanya berdiri tak mengeluarkan sepatah katapun. Melihat kedatangan nazar para mahasiswa itu langsung mengarahkan pandangan mereka kearah nazar.
“Bang nazar, bagai mana ini polisi dan para wartawan selalu menanyakan siapa yang akan bertanggung jawab dalam kasus ini, teman-teman juga bingung harus berkata apa kepada mereka”
Nazar terdiam sesaat dia memandang kearah dokter thilda, dokter thilda Nampak memahami maksud nazar, dia menganggukan kepala. Nazar mengetahui bahwa dokter thilda adalah orang yang bijaksana sekalipun usianya masih muda.
“Biar aku yang bertanggung jawab dalam kasus ini, lagi pula aku memang seharusnya bertanggung jawab, karena telah lalai dari…”
Belum selesai nazar berkata, tiba-tiba seorang polisi berjalan menuju kearahnya mereka
“Selamat sore, apa benar anda saudara nazarudin khomar?”
Nazar menganggukan kepala polisi itu terdiam sesaat menatap nazar dengan penuh rasa iba, karena polisi itu menyadari bahwa nazar adalah anak dari korban tabrak lari tadi pagi.
“Kami membawa surat penangkapan anda terkait kasus penembakan yang terjadi kepada saudara damar samsudin kemarin pagi”
Nazar tak mengeluarkan sepatah katapun, matanya kembali melirik dokter thilda yang nampaknya sangat tenang melihat apa yang akan terjadi kepada nazar.
            Di sudut lain kantor pemerintahan gubernur banten, Ilyas Nampak tersenyum tipis kini kerutan di dahinya sudah tak terlihat lagi, kharismanya sebagai seorang gubernur terlihat jelas dari wajahnya yang gagah sekalipun usianya sudah sangat tua, Ilyas berjalan menuju kursi kerjanya yang empuk, perlahan dia mulai memejamkan mata dan menarik napas panjang.
Ilyas menyadari betul dosa yang telah di lakukannya hari ini, ada perasaan takut tentang dosa itu tapi setan-setan di dalam batinnya selalu berteriak akan kebenaran tindakan yang telah di lakukan. Dosa yang hari ini dilakukannya sangat kecil jika di bandingkan dosa 22 tahun silam terhadap seorang wanita muda bernama Latifa, Latifa nama itu kembali hadir dalam memori ingatannya setelah hampir 22 tahun Ilyas berusaha membuang jauh-jauh nama itu dari kehidupannya, tapi kini nazarudhin khomar tiba-tiba mengingatkannya kepada Latifa.
****
            Sudah hampir satu bulan nazar mendekam di penjara, kondisi badannya sekarang berubah drastis, nazar terlihat murung dan sedikit kurusan, wajahnya yang penuh dengan senyuman menjadi dingin tanpa exspresi, banyak sekali beban yang harus nazar pikul selama satu bulan ini, masih teringat jelas bagaiman dia berjanji dalam batinnya untuk berusaha mencari siapa pelaku penabrakaan ayahnya. Kini yang terjadi justru sebaliknya dia sendiri yang harus mendekam di penjara tanpa sesuatu yang pasti.
“Nazar, kamu melamun?”
Nazar tersentak mendengar suara itu, dia baru teringat bahwa dia sedang berbicara dengan dokter thlida. Semenjak nazar di penjara hampir setiap hari dokter thilda mengunjunginya, nazar sendiri sudah menyatakan tak enak hati karena sudah merepotkan dokter muda itu, tapi thilda bersih keras bahwa apa yang di lakukannya benar-benar tulus dalam hati.
“Aku suadah menemukan pengacara untuk mengurusi kasus mu”
“Saya tidak perlu bantuan pengacara dok, saya hanya ingin tau sejauh mana pengadilan dunia ini memberikan keadilan, dan sudah sejauh mana pengadilan negri ini berjalan, biarkan waktu yang akan membebaskan saya, dan saya pikir kehidupan penjara lebih baik dibandingkan di luar sana yang penuh dengan kepalsuan, disini mereka tak pernah ada yang menyatakan diri mereka suci tapi mereka bersih keras mensucikan diri mereka, sementara di luar sana semua orang berusaha menggambarkan kesucian pada diri mereka”
Thilda terdiam mendengar perkataan nazar, baginya nazar adalah sosok yang sempurna usia muda namun selalu berpikir dewasa, kritis dan jujur. Bodoh sekali jika tidak ada mahasiswi yang mengidolakannya di kampus.
“aku mengerti apa maksud mu, tapi aku harap kamu bisa bersabar atas semua yang terjadi akhir-akhir ini, aku yakin kamu orang yang kuat dan mampu melewati semua ujian kali ini”
Nazar tersenyum, matanya menatap Thilda dengan tajam baru kali ini dia menyadari sosok Thilda benar-benar berharga dalam hidupnya, Melihat tingkah nazar thilda tersipu, wajahnya berubah menjadi merah, matanya tak berani menatap nazar thilda menjadi salah tingkah dibuatnya.
******
“Apa,Bayi Laki-laki Latifa masih hidup?”
Ilyas tersentak dengan kabar yang baru dia dapatkan, seluruh tubuhnya serasa di tarik kembali ke Pristiwa 22 tahun silam, Ilya membayangkan dirinya dengan tega menyuruh orang untuk membunuh Latifa dan bayi yang baru berusia satu minggu pada suatu malam ditemani rintih hujan. Dia tidak menyangka bahwa pembunuh bayaran yang di sewa ternyata malah membuang bayi kecil itu dan hanya membunuh ibunya, kini sosok bayi kecil itu justru menghantui hidupnya.
“Lalu dimana bayi itu dibuang?”
“ Kami belum mendapatkan informasi lengkap mengenai bayi kecil itu, informasi terakhir Pembunuh itu membuang bayi itu masih di sekitar kota serang”
“Cari informasi mengenai bayi kecil itu”
“Baik bos, kalau begitu saya permisi dulu”
Ilyas hanya menganggukan kepala, pikirannya melayang-layang mengingat hari-hari yang pernah dia lalui bersama Latifa dulu, kini ada perasaan bersalah mulai menghantui kembali hidupnya.
“Selamat siang om, kok melamun tidak baik loh untuk kesehatan!”
“Walah,dokter muda nan cantik dan pintar ini kok malah ngagetin om sih”
“Abis om ngelamun sih, inget om jangan terlalu setres seusia om itu rentan terkena darah tinggi bahkan serangan jantung”
“waduh, nampaknya semakin pintar saja kau ! Gak salah kamu menjadi seorang dokter thilda, kamu memang cerdas dan tentu cantik andai saja om punya satu lagi anak laki-laki seusia mu, om akan menikahkannya dengan mu”
“Om, bisa saja! Tadi thilda ke kantor om, tapi katanya om sudah pulang”
“Iya sayang om banyak urusan”
Thilda tersenyum kearah Ilyas orang yang paling dekat dengan kehidupannya, Banyak hal yang mereka bicarakan jika bertemu, sekaligus urusan pribadi thilda yang tak pernah dia tutup-tutupi, bagi thilda Ilyas adalah orang yang sangat bijaksana dalam memberikan motivasi bagi kehidupan thilda.
“hem… ayo ada apa, om yakin ada yang ingin kamu ceritakan kepada om”
“Om benar, thilda mau minta masukan om, sekarang ini thilda sedang menyimpan rahasia besar”
Ilyas terdiam berusaha fokus mendengarkan cerita keponakannya, dengan sigap thildapun melanjutkan ceritanya, dia tau Ilyas tidak akan mengeluarkan sepatah katapun sebelum dia selesai bicara.
“ Seorang Pasien thilda sebulan sebelum dia meninggal menceritakan bahwa anaknya bukan anak kandungnya melainkan anak hasil adopsian, sampai saat ini anak itu belum tahu kalau dia ternyata anak pungut yang di ambil ayahnya 22 Tahun lalu, 22 Tahun lalu anak itu di buang di depan Kantor pemerintahan Gubernur banten, tempat paman sekarang bekerja”
“22 Tahun lalu? Tapi kenapa om tidak pernah mendengar berita itu” Ilyas tersentak wajahnya berubah pucat, sesaat pikirannya kembali melayang ke pada Latifa dan anak laki-lakinya dulu, apa orang yang Thlida ceritakan itu adalah anaknya.
“Iyah 22 Tahun lalu, Itu mungkin karena om terlalu sibuk dengan urusan om, dan mungkin orang-orang juga sudah lupa dengan kejadian itu, Karen pristiwanya sudah cukup lama! Om tau, sekarang anak itu di penjara, dan thilda bingung bagai mana harus menceritakan ini semua”
Tiba-tiba Handphone Ilyas berbunyi dengan cepat dia segera mengangkat telephone itu, terdengar suara orang yang baru saja menemuinya tadi melaporkan sesuatu, wajah Ilyas Nampak semakin pucat setelah mendengar apa yang dikatakana anak buahnya, badannya seakan begetar lemah tak berdaya, dengan susah payah dia berusaha kembali duduk di depan thilda dan segera menyuruh thilda untuk melanjutkan ceritanya.
“Om, tau pristiwa masa yang terjadi sebulan lalu di depan kantor om, anak itu adalah ketua kesatuan aksinya”
“Maksud kamu nazarudin khomar? Putra dari bapak Khomar Hidayat yang merupakan pensiunan staf administrasi kantor paman yang sebulan lalu mengalami tabrak lari, dan putanya di penjara karena dianggap bertanggung jawab atas penembakan dan kerusuhan yang tejadi dalam kasusu tersebut”
“Nampaknya om sudah mengenal banyak tentang nazar”
Ilyas tidak mempedulikan thilda, sulit di bayangkan baginya jika dia tega menjerumuskan anak kandungnya sendiri kedalam penjara. Dia yakin nazar adalah putranya karena menurut informasi yang dia dapatkan kejadian pembuangan bayi pada 22 tahun silam di serang hanya ada tiga kasus dan dua diantaranya adalah bayi wanita.
*****
            Nazar hanya menangis pilu ketika mengetahui bahwa dia adalah anak pungut, batinya terus menjerit ketika mengetahui bahwa kematian bapak angkanya karena ulah ayah kandunya sendiri, tangannya masih memagang erat hasil tes DNA yang di lakukan thilda dan pamannya. Kecocokan seratus persen antara dia dengan orang yang selama ini dia benci tercantum secara jelas di dalam kertas itu. sementara itu dilain sisi Ilyas dengan tegar menyerahkan dirinya ke kepolisian, dia mengakui bahwa kejadian tabrak lari dan penembakan salahseorang mahasiswa yang bernama damar adalah ulahnya, dan dia juga bersedia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai gubernur banten termasuk kasus penyalahgunaan wewenang terkait kemenangan Harlan sebagai walikota cilegon yang merupakan faktor utama kejadian itu terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar