Rabu, 27 April 2011

MAAFKAN AKU SAIJA

          Adakah tempat terindah selain kampung halaman? adakah tempat terhebat selain tanah kelahiran? aku rasa tidak ada tempat terindah di belahan bumi ini, selain tempat dimana peratama kali kita membuka mata, menghirup udara dan melihat indahnya dunia, yach... itulah tanah kelahiran dimana ari-ari kita di kuburkan, menyatu dengan tanah, dan menusuk kerelungan kalbu yang terdalam,hingga kita akan merasa terikat, terkurung dan takakan pernah pergi jauh meninggalkan temapat itu. Begitu juga dengan diriku, hidup ku hampa setelah belasan tahun meniggalkan tanah kelahiran, hidup seolah di kejar rasa bersalah, yang selalu hadir dalam mimpi di setiap tidur malam.
“ Aku akan kembali kembali ketanah kelahiran ku!”
Suatu pagi, aku memberanikan diri untuk mengucapkan kata itu kepada sahabatku Naya, setelah kata itu keluar dari mulutku, ada suatu getaran besar yang tak dapat aku pahami, apa arti getaran itu. Tapi getaran itu membuat hatiku tenang dan damai, belum pernah aku merasa tentram seperti ini, tapi ternyata yang aku rasakan berbeda dengan sahabatku Naya, dia terlihat pucat pasi, wajahnya murung sekali, aku yakin dia sedih dengan perkataan ku, karena sudah hampir sebelas tahun kita bersama, Naya sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Kami sama-sama merantau di Makasar, hanya saja bedanya, Naya sudah menetap di Makasar untuk selama-lamanya, karena dia sudah berjanji tidak akan pernah kembali lagi ke kampung halamanya di Cianjur.
“ Kamu yakin Din? Bukankah kamu sudah membangun perusahaan ini dengan susah payah, lalu setelah kamu berhasil mendirikan perusahaan ini, kamu akan meninggalkannya!”
Naya menatapku tak percaya, dia seperti mengintrogasi seorang pelaku kriminalisasi, matanya yang sayu begitu menenangkan jiwaku, ada perasaan bersalah karena aku akan meninggalkan Naya, tapi apa daya, perasaan bersalah terhadap kampung halaman selalu menjadi hantu dalam hidupku.
“ Maafkan aku Nay! Aku yakin perusahaan kita akan tetap berjaya, ada ataupun tanpa aku!”
“Bruk” Naya membanting pintu kamar ku, aku yakin dia pasti kesal dengan keputusan yang aku ambil, bukan hanya perusahaan konveksi yang kami dirikan bersama akan ku tinggalkan, tapi persahabatan ku dan Naya juga akan terancam.
****
            Suara kicau burung, benar-benar membuatku bimbang, aku seperti sedang berada  ditangah pengadilan alam, seperti sedang menunggu ponis hukuman yang akan di jatuhkan kepadaku. Apakah aku haru meninggalkan Naya yang sudah ku anggap seperti adik ku sendiri, lalu untuk apa aku kembali ke kampung halaman ku? Siapa yang akan ku temui disana? Ayahkah, atau ibu? bukankah mereka sudah tiada.
“Ah... Tuhan, apa yang terjadi padaku?”
“Bruk-bruk-bruk” Aku baru sadar, bahwa yang aku tendang adalah rak buku koleksi ku, buku-buku itu berjatuhan di hadapanku, tiba-tiba...
“ Aw...” satu buku mengenai kaki ku, buku yang sangat tua dan usang, sudah tak memiliki cover dan hanya terbungkus kertas kado berwarna sebagai gantinya.
“huh...” Perlahaan ku buka lembar demi lembar buku itu, ternyata buku itu dalah kumpulan puisi karya Saija Achmad Friansah.
“Saija?” Aku tersentak, nama itu mengingatkan ku pada seseorang.
JANJI
Dalam bingkai peristiwa yang telah kita lalui
Dalam kisah-kasih tanah hitam negri baduy
Ada kata yang terurai
Ada janji yang terucap
       Namun sempat sempit sebelum terhimpit
       Kau pergi mencari jati diri
       Meninggalkan janji
       Melupakan kisah ini

            Aku menangis, hatiku bagai teriris bambu runcing yang di buat oleh para baduy asli, kata-kata itu benar-benar memponisku bersalah, tak ada lagi kata maaf untuk ku. Tak akan ada Adpokat yang berani menolongku.
“Maafkan aku saija...!” aku berteriak sekuat tenaga, biar! Biar saja pitasuara ku pecah, itu hukuman bagi aku yang sudah menjadi orang munafik, yang sudah mengingkari janji yang aku buat sendiri.
****
            Apa benar ini kota kelahiran ku?. Kota negri para baduy, atau jangan-jangan aku tersesat, tapi pelang di depan sana bertuliskan statsiun Rangkasbitung. Yach... ini Rangkasbitung tempat aku dilahirkan kemuka bumi ini, tempat aku membuat suatu kesalahan besar dengan mengingkari janji yang telah aku buat sendiri.
“ Tunggu aku saija!”
Kerumunan orang yang berlalu lalang tak menghentikan langkah ku, aku segera berlari menyusuri, menerobos pagar pembatas yang dibentuk oleh kerumunan anak adam. Kaki ku semakin menjauh meninggalan statsiun yang kini sudah berbenah diri, mungkin jika statsiun negri Baduy ini di ibaratkan, statsiun itu ibarat seorang gadis yang sedang berselok untuk memikat lawan jenisnya.
Tubuh ku berdiri kaku seperti batu,aku seperti Malingkundang yang di kutuk ibunya. Karena tak tahu diri, melupakan negri halamnya, mengingkari janji pada ibunya dan bahkan tidak mengaku ibu yang melahirkannya. Mataku menatap tak percaya gedung besar yang ada dihadapan ku.
“Ada apa ini, kenapa ini semua bisa terjadi? Ach...heh,heh,heh”
“Ini ambil” Seorang laki-laki berkacamata memberikan saputangannya kepadaku, wajahnya begitu murung, seolah menyimpan beban yang begitu besar, tapi ketampanannya tak dapat di sembunyikan, sekalipun tertutup kacamata hitamnya.
“huh...” laki-laki ini mendesah panjang, matanya menatap gedung besar yang ada di hadapan kami, perlahan laki-laki itu meneruskan perkataannya.
“Kadang kala, apa yang kita pikirkan tak sesuai dengan kenyataan, apa yang kita harapkan tak sesuai dangan keadaan.”
            Aku tak mengerti apa yang dia katakan, tapi aku tak peduli, yang sekarang aku pikirkan hanya kenapa pasar tradisonal negri Baduy menjadi berubah seperti ini. Lalu janji itu! Bagai mana aku bisa menepati janji ku kepada saija, jika toko yang terbuat dari tumpukan kayu milik Pak saleh juga sudah tidak ada, yach sebelum aku memutuskan pergi ke Makasar ikut bibiku, karena terpaksa aku sudah tak punya siapa-siapa lagi, aku sering bermain bersama Saija di dalam pasar, namum keadaanya jauh berbeda dengan sekarang,dulu jarang sekali warga yang memakai sepatu hak tinggi ke dalam pasar, karena mereka takut sepatunya akan ditarik oleh genangan air yang nembentuk sunagi kecil di dalam pasar. Tapi sekarang, mereka bisa leluasa menggunakan sepatu Cinderelanya, karena sekarang tak ada lagi genangan air,yang ada hamaparan keramik yang membentang layaknya permadani.
“Punya kenangan?”
Laki-laki itu memecahkan lamunan ku, sesaat aku menatap kearahnya, berusaha mencari ketampanan yang tersembunyi di balik kacamata hitamnya, tapi dia seolah tak terusik, tatapan matanya tetap terpokus kepada gedung pasar baru yang di miliki warga Baduy.
“Yach...! tapi aku rasa kenangan ku juga ikut hilang”
“Tak ada yang hilang dari tempat ini, dulu tempat ini adalah pasar, sekarang juga masih pasar, dulu tempat ini banyak di kunjungi ribuan jenis manusia, sampai saat ini kamu liat!”
“Tapi...!” belum sempat aku meneruskan perkataanku, laki-laki itu sudah pergi entah kemana, langkahnya begitu cepat, seperti tanpa beban terbawa angin sungai ciujung yang mengalir melintasi kota Rangkasbitung.
“Yatuhan.. sapu tangannya!”
Aku segera berlari mengejar laki-laki itu, tapi percuma laki-laki itu sudah tak ada di hadapan ku, seolah di telan bumi.
****
“Apa neng! Toko Pak saleh!”
 Ibu itu terlihat terkejut sekali ketika mendengar nama Pak saleh ku sebut, entah apa yang sebenarnya terjadi, Ibu itu menatap kearah ku, matanya memandang penuh tanya.
“Iyah bu Toko Pak Saleh, yang biasa jual mainan anak-anak!”
“Eneng baru yah disini? Tapi kalau baru kok kenal ama Pak saleh?”
“Sebelas tahun yang lalu saya pernah tinggal di sini, saya sering bermain di toko pak Saleh, jadi saya kangen ama pak Saleh bu! Sudah lama gak ketemu.”
Ibu itu terdiam,dia tak segera menjawab pertanyaan ku. Mulutnya seolah terkunci rapat sekali,agar rahasia besar yang ada di dalamnya tidak pernah ada orang yang tahu. Mataku membelalak, keningku mengkerut mengharap agar ibu segera menceritakan apa yang terjadi.
“Pak Saleh sudah meninggal sembilan tahun lalu!”
“Apa!” mulut ku terbuka lebar tak bisa terkunci lagi, tiba-tiba aku merasakan bahwa terjadi gempa besar yang menggetarkan gedung-gedung ini, kedua kelopak mataku begitu berat dan seketika semua terliahat gelap.
****
“Ya,Tuhan di mana aku!”
            Aku menatap ding-ding kamar yang sedang aku tempati, kamar yang kecil , namun rapih dan wangi, seakan mencerminkan bahwa sang pemilik begitu menghargai ke indahan, aku memaksakan diri untuk berdiri kearah jendela kamar, perlahan ku buka jendela kamar, berharap permasalahan yang sedang ku alami ikut terbukakan jalan keluarnya. Aku syok sekali ketika mendangar pak Saleh meninggal, selain karena harus kehilangan sosok berwibawa dan berhati mulya, aku juga harus rela kehilangan jejak Saija.
“Sudah sadar!”
Suara itu begitu femiliar di telingaku, menenangkan,penuh wibawa. Aku menoleh kearah suara itu, ach.. ternyata laki-laki yang tadi aku temui di pasar. Tapi kali ini, aku bisa dengan
Leluasa menatap wajahnya yang tampan, senyumnya yang manis dan bola matanya yang indah.
“Kamu!”
“Aku menemukanmu tak sadarkan diri di pasar, karena tak ada yang tau tempat tinggal mu,akhirnya aku membawa mu kemari!”
“Terimakasih ata...”
            Belum sempat aku meneruskan perkataan ku, laki-laki itu sudah pergi meninggalkan ku, menarik sekali untuk yang ke dua kalinya hal itu terjadi, dia benar-benar seperti terbang terbawa angin. Heh.. aku tertawa sikap yang aneh. Aku segera berjalan keluar kamar, aku harus segera pergi dari tempat ini, aku harus segera mencari Saija, yah... aku harus menemukan saija.
“Tunggu aku Saija, aku akan tepati janji ku!”
****
“ Maaf sudah merepotkan, Terimakasih atas bantuaannya! Aku beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik kamu!”
Laki-laki itu hanya tersenyum mendegar perkataan ku, entah apa ada yang salah dengan permohonana maaf ku, tapi aku rasa tidak, lalu kenapa dia tertawa.
            Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu, dia tak mengucapkan sepatah katapun padaku, dia hanya memandangku penuh kehangatan, tatapan matanya benar-benar tajam, menusuk relungan hati ku yang terdalam. Perlahan ku langkahkan kaki ku kearah laki-laki yang sedang bersender di daun pintu.
“ Aku pergi dulu, maaf sudah merepotkan!”
            Sekali lagi laki-laki itu hanya terdiam, tatapan matanya tak lagi mengarah padaku, dia melemparkan tatapan matanya ke arah puluhan kendaraan yang berlalulalang di depan rumanya. “huh..” Laki-laki itu menarik napas panjang, sesaat di menganggukan kepalanya, mungkin itu pertaanda permohonaan maaf ku di terima olehnya.
****
            Daun-daun yang berserakan di sepanjang jalan Multatuli begitu mengagumkan, Krek...krek..krek. Daun-daun yang terinjak oleh kaki ku membentuk sebuah nada indah, seperti instrumen sebuah lagu karya musisi handal. Tapi ternyata aku salah, nada-nada itu hanya ada dalam ingatanku Sebelas tahun yang lalu, Sekarang tak ada daun-daun besar yang berserakan, karena pohon-pohon besar juga hilang di telan waktu. Aku inggat betul aku dan Saija sering berlari di antara daun-daun yang berserakan itu, kami sudah seperti musisi bernyanyi, menari.
“ Ach, Saija di mana kau sekarang? Maafkan aku karena aku sudah melupakan mu, aku sudah mengingkari janji kita berdua. Hukum aku Saija, aku rela di hukum oleh mu!”
            Hups, aku menghentikan langkah kaki ku. Astaga aku baru sadar bahwa aku berada di depan rumah laki-laki itu, tapi kenapa aku ada di sini lagi, bukannya tadi aku sudah pergi, atau jangan-jangan dari tadi aku cuma berdiam diri disini, tapi aku rasa tidak, yach... aku menatap kertas kecil pemberian dari ibu yang kemarin memberitahuku bahwa pak soleh sudah meninggal dunia, aku sengaja menemuinya lagi, karena aku pikir dia pasti tahu tentang Saija. Dan tanpa banyak bicara ibu itu segera memberiku alamat rumah ini.
“ Atau jangan-jangan laki-laki itu  !”
            Aku tersentak, aku baru sadar kalau laki-laki yang aku temui kemarin,mirif sekali dengan Saija sahabat kecilku dulu. Aku yakin laki-laki itu...
“ Ada yang tertinggal”
            Suara laki-laki itu kembali menghancurkan lamunanku, kali ini kutatap wajah laki-laki itu, watanya, hidungnya, bibirnya, perkataannya... tanpa banyak bicara aku segera memeluk tubuh lelaki itu.
“ Saija maafkan aku, karena aku sudah mengingkari janji kita berdua, maafkan aku karena aku sudah melupakan mu”
            Laki-laki itu hanya terdiam, tak sedikitpun berkata, aku yakin dia marah kepadaku, aku terus mendekap tubuh laki-laki itu, tak peduli angin kencang menampar wajah ku, tak peduli setan-setan menggangguku. Tiba-tiba, aku benar-benar tak menyangka Saija melepaskan pelukan ku, sesaat dia berjalan meninggalkan ku, aku tak mengerti dengan tingkah lakunya. Atau jangan-jangan Saija marah kepada ku.
“ Tunggu aku saija !”
            Aku terus berlari mengejar laki-laki itu, aku yakin Saija benar-benar marah kepadaku, karena dia terus berjalan meninggalkan ku, tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
****
“ Bunuh aku ! bunuh aku!”
            Aku memukul tubuh laki-laki itu, dia hanya terdiam tanpa ekspresi seakan tidak ada seorangpun yang sedang bersamanya. Tapi aku tidak peduli, laki-laki itu harus membunuh ku, karena aku seudah benar-benar benar berdosa besar kepadanya.
“ Ini ambil!”
            Laki-laki itu memberikan ku gantungan kucin berbentuk garpu yang terbuat dari tempurung batok kelapa, hal itu membuat ku semakin tertekan, semakin merasa bersalah. Aku seperti sedang menghadapi eksekusi mati, aku sadar bahwa gantungan kunci itu adalah gantungan kunci yang Saija buat Sebelas tahun yang lalu, ketika kami bermain di pertambangan pasir di daerah Cimarga, Saija mengambil tempurung kelapa yang hanyut di sungai Ciujung.
“ Maafkan aku!”
            Aku menatap laki-laki itu, seperti biasa, dia hanya terdiam. Matanya sembab, hal ini benar-benar membuatku semakin terpojokan.
“ Maafkan aku, karena aku sudah membunuh kakak mu!”
“ Bodoh sekali kau, Kau pikir diri mu tuhan, sehingga bisa dengan leluasa mencabut nyawa orang!”
            “ Pluk” laki-laki itu menampar diriku, aku menangis sejadi-jadinya, karena akibat tingkahlaku ku, Kakaknya meninggal dunia.
“ Bego sekali kakak ku karena mencintai wanita bodoh sepertimu, yang menyesali segala sesuatau yang tak seharusnya di sesali”
“Maksud mu?” aku menatap penuh tanya laki-laki itu.
“ Sebelum meninggal kakak ku sering berkata, Adinda Hardiwinagun Prasetya adalah wanita yang cantik, kuat dan selalu ceria, tapi aku yakin dia keliru. Karena Adinda yang kini bersamaku bukan Adinda yang seperti iya ceritakan, Adinda yang ada di dapan ku lemah, cengeng. Seharusnya kakak ku tidak menemui wanita bodoh seperti mu!”
“ Tap...”
“ Liat, apa yang sudah kamu perbuat, menyalahkan diri sendiri, dan menaggis di hadapan kakak ku, kamu benar-benar membuat kakak ku bersedih, seharusnya setelah sekian lama kalian  berpisah dan bertemu kembali, tangis yang kau perlihatkan di hadapan kakak ku! Bukan tangis Adinda!”
            Aku sudah benar-benar berada di neraka, angin yang berhembus bukan memberikan kesejukan, tapi seperti tangan-tangan setan yang inggin mencekik ku, bunga kamboja yang berguguran dan menipah wajah ku, seolah seperti menandakan dosa besar yang akan  datang menghampiri ku, tanah merah yang ada dihadapan ku, seakan darah yang keluar dari tubuh ku, aku benar-benar sudah mati.
            Kini aku hanya bisa menagis, memeluk nisa yang ada dihadapan ku, Saija nama itu tertulis jelas pada batu nisan yang ku peluk, laki-laki itu bilang, kakaknya Saija meninggal dunia karen menderita jantung, jantungnya kumat saat mengetahi  toko milik pak Saleh di gusur lima tahun yang lalu, sebelum meninggal Saija berpesan kalau Laki-laki itu harus selalu menungguku di pasar, karena kalau seandainya nanti aku datang kembali, aku tidak akan pernah tersesar untuk menemukannya.
“ Ambil!”Laki-laki itu menyerahkan sepotong kayu berukir Saija dan Adinda, aku sadar betul kayu itu dalah dinding toko pak Saleh, karena dulu kami pernah mengukir nama kami pada dinding kayu itu.
laki-laki itu bilang Saija sengaja mengambilnya agar aku inggat kalau aku memiliki janji yang harus ku tepati. Aku terdiam, aku seperti berhadapan dengan algojo yang siap untuk mengesekusi ku, atau jangan-jangan aku bukan sedang berhadapan dengan algojo, akan tetapi lebih parah lagi aku berhadapan dengan malaikat penjaga kubur, sangat mengerikan aku benar-benar seperti berada di dunia lain, kesalahan yang aku buat sudah tidak bisa di toleransi lagi, aku hanya bisa menangis dalam hati ku berkata.
“ Maafkan aku Saija”
            Laki-laki itu menghampiri mendekati ku,dia mengangkat tubuh ku, dan mengusap air mataku dengan tangannya yang lembut, sesaat dia menatap mataku.
“ Untuk apa kamu menyesali segala sesuatu yang takakan pernah dapat kembali lagi, buka lembaran baru, Saija menitipkan mu padaku!”
            Aku tersentak ada apa lagi ini tuhan, apa lagi yang akan terjadi, aku tak mengerti dengan apa yang laki-laki itu katakan, benar-benar menimbulkan ribuan pertanyaan dalam hati ku, aku menatap wajah laki-laki itu, sangat mempesona kata itu yang setiap kali terurai jika aku memandangnya, aku yakin wajah Saija juga tidak akan jauh berbeda dengan laki-laki itu.
“ Sudah lima tahun, aku menutup hati untuk wanita yang berusaha mengisi hati ku, Sudah lima tahun aku menunggu wanita yang akan menjadi jodoh ku, sudah lima tahun aku berusaha menunggu orang itu, lalu kenapa ketika wanita itu ada di hadapan ku, aku malah diam saja. Lalu bagaiman jika wanita itu pergi kembali?”
            Aku menatap tak percaya, apa laki-laki ini gila, wantia siapa yang di maksud, atau jangan-jangan...
“Menikahlah dengan ku Adinda, buka lembaran hidup yang baru di negri tanah kelahiran mu!”
            Laki-laki itu berkata seraya memeluku, dan aku hanya bisa terdiam, ini jalan hidupku, Saija menginginkannya. Aku hanya bisa memita maaf kepada saija karena aku juga telah menghianati cintanya dengan mencintai laki-laki itu.
_RELA MUTIARA ( Relaxap1@yahoo.co.id)_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar