Rabu, 27 April 2011

YAKIN, CINTA GAK HARUS MEMILIKI???

 “Kamu yakin?”
Aku menatap tidak percaya cowok berkacamata yang ada di hadapan ku, Harik namanya, cowok yang tak lain adalah kakak sekaligus sahabat bagi ku. Awalnya aku tak begitu paham dengan teori percintaan yang di anutnya, teori yang di cetuskan oleh para remaja abad 80-an, sampai saat ini masih di pegang kukuh oleh kakak ku yang satu ini, mungkin semua remaja abad melenium saat ini akan tertawa jika mendengar kata-kata itu, awalnya aku juga geli mendengar perkataan harik yang mengemukakan bahwa cinta gak harus memiliki, kedengarannya klise banget, tapi setelah melihat kesungguhan harik dalam mempertahankan teori percintaan yang di anutnya, rasa sadarpun tumbuh bahwa tidak ada hal yang patut untuk diragukan dari seorang Harik.

“Kamu ragu dengan perkataan kaka? Apakah selama ini kaka pernah berdusta ?” perkataan harik benar benar menusuk kolbu ku, ada rasa bersalah karena aku meragukan seorang Harik Hardiwinangun Prastyo, cowok terbaik yang pernah aku kenal di muka bumi ini selain ayah ku, bola matanya begitu indah, pancaran sinar yang di keluarkan juga begitu menenagkan jiwa semua orang yang berani menatapnya, senyumnya mampu menjawab semua pertanyaan keji yang hendak orang lemparkan kepada dia, beruntung sekali orang yang berhasil memiliki Harik, dan tentu tak ada orang yang seberuntung diri ku karena memiliki kakak berhati mulya.


Sesaat kembali kutatap bola mataya, luar biasa indah, itulah kata yang selalu ada di hati ku setiap kali kutatap mata itu.
“ Maaf kak, aku gak bermaksud meragukan perkataan kaka! karena aku tau kaka bukan seorang yang rajin mengumbar kata tanpa bukti, tapi perlu aku tegaskan ini jaman moderen kak, kalau seandainya kaka selalu menjadi penganut setia paham itu, huh.. aku yakin sampai matipun kaka gak bakal dapetin Lisna!”
aku seperti setan yang sedang mengoda manusia untuk terjerumus ke lembah hitam, tapi ini semua demi kebahagiaan kakak ku harik, sudah hampir dua tahun dia memendam rasa kepada lisna, cewek berkerudung yang kini jadi teman sekelasku, perbedaan usia antara aku dan harik memang tidak begitu jauh, kami hanya berselang satu tahun, sehingga harik lebih sering aku anggap sahabat dibanding kakak, begitu juga dengan Lisna, seorang jilbaber yang memegang teguh pendiriannya untuk menjadi jomblober sebelum lulus sma, kadang aku selalu berpikir kenapa ada orang yang masih memendam cinta, karena ku pikir itu semua tak sedikitpun berguna hanya menyakiti diri sendiri.

“Teng-teng-teng” tak terasa lonceng sudah berbunyi.
“kakak masuk kelas dulu yah!” harik menepak pundaku,
“Pulang sekolah kakak tunggu di depan gerbang! Jangan telat” harik mengingatkanku, karena  memeng sikap buruk yang ada dalam diriku adalah tidak tepat waktu.

“Sip sayang!” aku menggoda, ia tersenyum,dan itu yang selalu aku rindukan, senyumnya begitu mempesona, banyak wanita yang terpesona oleh senyum manisnya itu, kadang ketika sedang membersihkan kamarnya, sering sekali aku menemukan surat cinta untuk nya dari para penggemarnya, dan sampai detik ini surat itu masih ku simpan rapih.
******
Dikelas “Fit,Salam yah buat kaka mu!”Lisna benar-benar mengejutkan ku, secepatnya kutampar wajah ku.
”aw, sakit !” aku merintih, huh… ternyata ini bukan mimpi.
“kenapa Fit?” Lisna terlihat panik ketika melihat aksi ku, dia langsung memegang wajah ku yang sembab , tangannya begitu lembut,aku yakin hatinya pasti tak kalah lembut
“ sakit fit? Lagian ada-ada aja kamu ini!”
Mungkin aku terlihat bodoh di depan matanya, tapi ini baru yang pertama kalinya ku dengar seorang Lisdiana Narun menyalami seorang lelaki, dan yang buat kaget lagi, laki-laki itu kak Harik, orang yang selama ini menjadi pengagum rahasianya.
“ kamu yakin?”aku memastikan
“yakin apa Fit?”
“yah…salam buat kak harik!”
“Yah” lisna mengangguk malu, wajahnya berubah merah, walaupun tersembunyi di balik jilbabnya yang begitu indah, hum tapi bukan,bukan jilbabnya yang indah tapi wajah itu yang indah, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang mungil begitu mempesona, kadang kala ada rasa iri yang menyelinap di hati melihat kecantikannya, tapi ka Harik bilang walaupun lisna cantik tapi orang yang lebih cantik dan paling iya sayangi adalah aku Fitria Hardiwinangun Prasetya, walaupun aku tau itu fitnah, tapi kata kata itu sedikit menghibur hati, setidaknya aku tau kalau aku lebih berharga di banding lisna.
Tiba-tiba timbul jiwa seorang wirausahawan dalam diriku,
“Siap Bos pasti akan ku sampaikan, tapi ongkos jalanya yah!”
“kamu ini kebiasaan dech!”
“heee wajar donk lis, kan buat beli pulsa! Emangnya kaka gue yang gak pernah beli pulsa alias gak punya Hp sebelas dua belas ama elo, belum pacaran aja udah klop banget apa lagi entar gak kebayang gue.

            “Teng-teng-teng-teng” lonceng sudah berbunyi kembali, kali ini aku segera berlari menuju gerbang sekolah, karena kakak ku tercinta pasti sedang menanti di sana, kali ini kabar menggembirakan akan segera ku sampaikan, karena ternyata lisna juga memiliki perasaan yang sama dengannya. “huh…huh..huh” aku mengatur napas karena sepertinya pompa udara yang ada di dalam tubuh ini terlalu cepat mengayun.
“Kenapa neng? Tumben gak telat neng!”
Tanpa sedikitpun memperdulikan perkataan harik aku segera berkata “ kak, aku bawa kabar gembira buat kaka!”
“oyah…”
“kok oyah doank sih? Gak ada bahasa lain apa?”
“terus apa donk kabarnya”
“teraktir aku bakso dulu!” jiwa pembisnis ku kembali keluar.
“Males ah…! Kebiasaan ! gak di sampein kabarnya juga gak apa-apa koe?”
“Yakin ?”
“iya donk!”
“sekalipun itu tentang lisna?” aku sedikit menberikan bocoran,“ya sudah kalau tidak mau!”
Harik tersenyum, “ayo naik, mau beli bakso di mana?”
“nah gitu donk, gitu aja kok susah!haaa” aku tertawa penuh kemenangan, “ kak udah beli bakso anter aku beli baju yach!”
“ nah gini nie orang yang gak tau makasih, di kasih hati minta jantung!”
“jantung kaka kan pait ogah aku!”
“Dasar manja, !”Harik mencubit pipiku.
******
            Aku gak yakin cowok yang ada di hadapan ku bersipat begitu dingin, lebih dingin dari es jus yang sedang di minumnya, saat ku beritahu kalau lisna menitipkan salam padaku untuknya, tak ada sedikitpun tingkah laku yang menyiratkan kebahagiaan, biasa saja, dia hanya tersenyum dingin, dan tentu hal ini membuat ku kesal.
“Abisin Baksonya udah itu kita pergi!”
‘Uch….”aku mengacungkan garpu yang sedang ku pegang keatas kepalanya.
“kenapa?”
“aku aneh ama kaka, kaka ini kenapa sih?”
“Kenapa?”
“ach…kok malah balik nanya sih, kaka gak seneng dapat salam dari Lisna? Bukannya Lisna putri impian kaka?”
“haha” harik malah tertawa, tawanya begitu kas, penuh wibawa jarang aku melihat seorang siswa sma yang memiliki kewibawaan begitu besar, kadang sering tersirat dalam benak ini, keyakinan bahwa kaka yang tercinta ini akan menjadi orang besar “ lalu kaka harus bagaimana? Jingkrak-jingkrak, kaya kamu kalau dapet salam dari si Firman!”
“loh kok bawa-bawa aku dan Firman sih!”
“Adik ku sayang, kaka bukannya senang mendengar salam dari lisna, kaka malah sedih dan takut mendengarnya!”
Aku sama sekali tak mengerti dengan perkataannya, baru kali ini ku dengar orang yang mendapatkan respon dari oarng yang dia cintai malah sedih, atau jangan-jangan kaka ku sedang sakit, tapi ku rasa tida, dia baik baik saja! Lalu kenapa, nampanya harik mengetahui kegelisahan perasaan hatiku, dengan tenang dia menjawab “adik ku sayang, ketika seseorang menyayangi orang yang tidak menyayanginya, itu sebuah tanggung jawab besar, karena sebisa mungkin perasaan sayang itu harus teraplikasikan dan di buktikan, apalagi ketika kita mencintai orang yang kita sanyang dan orang itu juga menyayang kita, itu merupakan musibah besar bagi kita, karena tanggung jawabnya begitu luar biasa, itu merupakan sebuah kepercayaan!”
“alah aku gak ngerti!”
“kamu gak baka ngeti jika belum memahami arti cinta sesungguhnya!”
“KAK!” aku membentak kesal, “ kaka ini jangan terlalu tua, ini bukan jamannya saija dan adinda, yang kisah cintanya penuh pengorbanan sekalipun itu menyakitkan bagi mereka, buka mata kaka!”
Harik hanya tersenyum, senyumnya benar-benar membuat ku sedikit tenang, “ kamu belum paham tentang cinta!”
“aku memiliki seorang ke kasih, dan aku yankin aku lebih paham tentang cinta dibanding kaka!”
“cinta itu bukan hanya berarti memiliki, dan cinta tak mesti memiliki!”
“Yakin, cinta gak harus memiliki?” aku sedikit memojokan“ teori abad ke berapa itu ka?”
Nampaknya Harik sedikit gugup, itu terlihat dari gerakan tangannya yang memainkan gelas berisi minuman dan gerak kaki yang di ketukkan ketana sehingga terdengar bagaikan sebuah irama musik yang selaras dan indah, sengaja ku tatap matanya yang indah, dan aku yakin dia memperhatikan tingkah ku, karena dia segera membuka lalu membersihkan kacamatanya, kini gerak tanganya bukan tertuju pada gelas tapi beralih kepada kacamata, mungkin ia bermaksud mengusik ku, tapi aku tidak akan terusik sedikitpun.
******
            Angin yang berhembus kencang, membuat ribuan pohon kelapa sawit yang kami lewati seolah menari-nari, indah luar biasa karunia sang maha pencipta, yang telah menciptakan ribuan puluh keindahan yang ada di dunia, termasuk itu cinta, aku tak tau apa yang aku katakana tadi salah atau tidak, tapi sesudah itu sepanjang perjalanan pulang kakak ku harik tak banyak berbicara, dia hanya terdiam entah apa yang sedang dipikirkan, aku tak peduli, mungkin ribuan pohon kelapa sawit yang kami lewati mengetahui apa yang ada dalam pikiran kakak ku  saat ini.
“turun…..!” tiba-tiba harik menyuruhku turun dari motornya.
“apa sih kakak ?kan belum sampai!” aku sedikit bingung dengan tingkah kakak ku yang menyuruh ku untuk turun di tengah ribuan hutan salak yang ada di daerah kami.
“kaka mau pergi!”
“whaat? Kaka ni gimana sih? Bego apa Oon? Terus aku gimana?”
“naek angkotlah! Tapi kalau memang di Rangkas ada basway naek baswey juga gak papa !” Harik mempermainkan ku., dan tentu hal ini membautku emosi.
“awas kalau sampai rumah! Aku bunuh kau!” karena kesal aku mengancam
“bunuh aja kalau berani”
Sialan apa yang terjadi dengan kakak ku, hanya dalam waktu satu jam sipatnya berubah, padahal selam 16 tahun aku hidup baru kali ini dia berani melawan ancaman ku.

            Tiga tahun sudah berlalu, peristiwa di hutan kelapa sawit, akan selalu aku kenang karena itu adalah terakhir kalinya aku melihat Harik Hardiwiangun Prastyo kaka ku yang sangat ku sayang, sejak saat itu entah di mana dia sekarang, tak pernah ada angina yang memberikan kabar tentang keadaannya.
“saya terima nikahnya Lisdiana harun dengan maskawin seperangkat alat solat di bayar tunai” suara itu benar-benar menggetarkan hatiku lisna sudah menjadi seorang istri, wajahnya begitu cantik dan anggun berbalut kebaya putih dan tentu terlilit jilbab kesayangannya. Dia tersenyam dan mencium kedua pipiku.
 “mohon doa’nya yach Fit!”ucapannya benar benar mengharu biru, setelah lulus sma dia memang sudah di tunggu oleh kekasihnya yang sudah setahun lebih dulu keluar dari sekolah, mereka sudah sepakat bahwa kisah cinta mereka akan di akhiri dengan sebuah pernikahan.
“Neng mohon doa restunya yach” seorang cowok berkacamata memecahkan membawaku pergi dari dunia imajinasi di sma dulu, bola matanya sangat indah, sungguh mempesona, tapi sipatnya centil sekali terhadap ku, dia mencium pipi ku .
“Fit bunuh suami mu! Karena dia pernah meninggalkan ku di hutan kelapa sawit, aku sampe kelimpungan nyari angkot”
“Bunuh saja kalau berani!” cowok itu mematahkan ancaman ku seolah dia tidak akut mati.
“KAK HARIK…” teriak ku kesal, semua tamu yang hadir memandang kearah ku ,pipiku merah karena menahan malu, sesaat aku membisik kepadanya
 “ kau bukan Harik kaka ku, kaka ku sudah pergi. Cowok itu hanya tersenyum, manis sekali, aku tak bias memungkiri kalau dia bukan harik kaka ku karena memang semua keindahan yang di milikinya sama dengan kaka ku harik, tapi bedanya dia Agresif dan centil, sifatnya berubah total semenjak meninggalkan ku di hutan salak. Karena lebih memilih pergi untuk mengatakan cinta pada Lisna dan semenjak saat itu teori pecintaan nya pun berubah, lisna juga mengakhiri identitas jomblobernya. Aku tersenyam sesaat melontarkan pertanyaan kepada kakak ku
 “ YAKIN, CINTA GAK HARUS MEMILIKI?’’ harik hanya tersenyum mendengar pertanyaan ku, sesaat ia terdiam.
“Haaa, aku tertawa puas !

Rela Mutiara Risdianti ( Relaxap1@yahoo.co.id )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar