“ Aku akan kembali kembali ketanah kelahiran ku!”
Suatu pagi, aku memberanikan diri untuk mengucapkan kata itu kepada sahabatku Naya, setelah kata itu keluar dari mulutku, ada suatu getaran besar yang tak dapat aku pahami, apa arti getaran itu. Tapi getaran itu membuat hatiku tenang dan damai, belum pernah aku merasa tentram seperti ini, tapi ternyata yang aku rasakan berbeda dengan sahabatku Naya, dia terlihat pucat pasi, wajahnya murung sekali, aku yakin dia sedih dengan perkataan ku, karena sudah hampir sebelas tahun kita bersama, Naya sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Kami sama-sama merantau di Makasar, hanya saja bedanya, Naya sudah menetap di Makasar untuk selama-lamanya, karena dia sudah berjanji tidak akan pernah kembali lagi ke kampung halamanya di Cianjur.
“ Kamu yakin Din? Bukankah kamu sudah membangun perusahaan ini dengan susah payah, lalu setelah kamu berhasil mendirikan perusahaan ini, kamu akan meninggalkannya!”
Naya menatapku tak percaya, dia seperti mengintrogasi seorang pelaku kriminalisasi, matanya yang sayu begitu menenangkan jiwaku, ada perasaan bersalah karena aku akan meninggalkan Naya, tapi apa daya, perasaan bersalah terhadap kampung halaman selalu menjadi hantu dalam hidupku.
“ Maafkan aku Nay! Aku yakin perusahaan kita akan tetap berjaya, ada ataupun tanpa aku!”
“Bruk” Naya membanting pintu kamar ku, aku yakin dia pasti kesal dengan keputusan yang aku ambil, bukan hanya perusahaan konveksi yang kami dirikan bersama akan ku tinggalkan, tapi persahabatan ku dan Naya juga akan terancam.
****
Suara kicau burung, benar-benar membuatku bimbang, aku seperti sedang berada ditangah pengadilan alam, seperti sedang menunggu ponis hukuman yang akan di jatuhkan kepadaku. Apakah aku haru meninggalkan Naya yang sudah ku anggap seperti adik ku sendiri, lalu untuk apa aku kembali ke kampung halaman ku? Siapa yang akan ku temui disana? Ayahkah, atau ibu? bukankah mereka sudah tiada.
“Ah... Tuhan, apa yang terjadi padaku?”
“Bruk-bruk-bruk” Aku baru sadar, bahwa yang aku tendang adalah rak buku koleksi ku, buku-buku itu berjatuhan di hadapanku, tiba-tiba...
“ Aw...” satu buku mengenai kaki ku, buku yang sangat tua dan usang, sudah tak memiliki cover dan hanya terbungkus kertas kado berwarna sebagai gantinya.
“huh...” Perlahaan ku buka lembar demi lembar buku itu, ternyata buku itu dalah kumpulan puisi karya Saija Achmad Friansah.
“Saija?” Aku tersentak, nama itu mengingatkan ku pada seseorang.
JANJI
Dalam bingkai peristiwa yang telah kita lalui
Dalam kisah-kasih tanah hitam negri baduy
Ada kata yang terurai
Ada janji yang terucap
Namun sempat sempit sebelum terhimpit
Kau pergi mencari jati diri
Meninggalkan janji
Melupakan kisah ini |